Risalah Skutik Tanah Air: dari Kendaraan Alternatif sampai Jadi Primadona (Part-2)

Risalah Skutik Tanah Air: dari Kendaraan Alternatif sampai Jadi Primadona (Part-2)
Gambar
Review Pengguna

Merek Italia belum mampu membuat skutik jadi mobilitas utama. Begitu juga produk inovasi dari Taiwan. Namun konglomerasi Industri Jepang berbicara lain. Berbekal pengalaman panjang di Tanah Air, akurasi riset, hingga kesiapan fasilitas produksi, membuat model skutik akhirnya populer.


Lahirnya Yamaha Nouvo dan Mio


Bicara otomotif, Jepang sudah lebih hafal perilaku konsumen Indonesia. Meski Kymco berstatus sebagai penggagas skutik empat tak, nyatanya belum banyak berdampak. Sekadar dimuat dalam sejarah. Yamaha, mengeksekusi konsep ini jauh lebih sempurna. Masuk 2002, mereka memasarkan Nouvo, cikal-bakal skutik kompak hari ini.


Beberapa saat sebelum itu, mereka sebetulnya sempat menguji pasar Majesty dan Glide. Namun bentuknya tak beda jauh dari Jetmatic. Belum lagi diimpor utuh dari Jepang. Harganya cukup mahal. Tapi memang bukan menjadi agenda utama. Sepertinya Yamaha meriset respons, sembari mengelaborasikan konsep bebek, dengan mekanisme gigi otomatis. Sederhana, namun relevan dengan demand bukan?


Wajar jika Yamaha Nouvo meledak di pasaran. Perlahan pengguna bebek pun berpindah hati. Memilih sosok yang lebih inovatif. Baru kali ini skutik menjadi sesuatu yang dielukan. Sampai-sampai, stiker bertuliskan “masih jaman oper gigi” pada spakbor belakang sempat ramai. Seakan menjadi kebanggan, sekaligus mengolok yang masih pakai teknologi lawas.


Mesin 113 cc SOHC empat tak juga dinilai cukup mengakomodir kebutuhan performa harian. Dalam catatan angka, tenaga sebesar 8,7 Hp keluar di 8.000 rpm dan torsi puncak 7,84 Nm pada 7.000 rpm. Meski tak sekencang Jetmatic, kemudahan soal jaringan after sales dan kepercayaan pada kualitas produk Jepang sudah cukup memuaskan keinginan pasar.


Yamaha Nouvo


Setahun setelahnya, Yamaha Mio meluncur mengekor kesuksesan Nouvo. Kali ini segmentasinya berbeda. Ia ditempatkan sebagai skutik pemula, utamanya kaum hawa yang baru bisa naik motor. Ringan, kecil, sekaligus murah. Dan lagi-lagi, mereka tepat sasaran.


Memasuki 2004, Mio bisa dibilang jadi penguasa jalanan. Bukan hanya wanita yang pakai. Kaum adam ikut terpikat memiliki sosok mungil lucu ini. Seiring bergulirnya waktu, malah Nouvo kalah pamor. Sampai-sampai diberhentikan produksinya di seri Z. Sementara Mio tetap eksis sampai sekarang.


Soal mesin yang dipakai mirip seperti si “Lele”. Menggendong model satu silinder 113 cc SOHC karburator. Output juga kurang lebih sama. Hanya kemasan dan kapasitas tampung bensin saja dibedakan.


Tantangan Honda Vario


Honda Vario 110


Pergeseran budaya pasar tentu menyita perhatian merek lain. Sebelum terlambat, Honda cekatan merilis Vario pada 2006. Kala itu desainnya cukup revolusioner. Tampak selangkah lebih futuristis. Ketimbang menganut desain tubuh serba bulat, mereka mengemas bodi dengan banyak tekukan kotak.


Lampu split juga jadi sesuatu yang baru diterjemahkan pada skutik. Hingga kini komposisi semacam itu bahkan masih diadopsi. Tak terkecuali pada merek lain.


Spesifikasi dapur pacu dibuat menyerupai kompetitor. Berkubikasi bersih 108 cc SOHC dengan tenaga 8,86 Hp/8.000 rpm dan torsi 8,4 Nm/6.500 rpm. Yang membuat dirinya spesial, manajemen suhu mesin lebih sempurna, berkat dibantu radiator.


Pada waktu bersamaan, Suzuki tak mau ketinggalan. Spin dirilis tepat beberapa minggu setelah Vario mengaspal. Guratnya bisa dibilang senada dengan Mio generasi pertama: Membulat dan kompak. Tapi satu yang menjadi karakter tersendiri, mesinnya besar!


Ya, saat teman-temannya menggunakan mesin 110 cc dan 115 cc, Suzuki sengaja memberi diferensiasi produk - supaya konsumen jelas melihat kelebihannya. Spin dijejali mesin 125 cc SOHC bertenaga 9,5 Hp/7.500 rpm dan torsi 9,5 Nm/6.500 rpm. Terbilang besar pada masanya. Meski ternyata tak direspons sebaik dua kompetitor sebelah.


Pasca kemunculan skutik tadi, motor sejenis makin menjamur. Honda mengeluarkan Beat, Suzuki membawa Skywave, serta Yamaha melengkapi line-up Mio yang lebih besar dan seterusnya hingga sekarang. Karena itulah, ada sosok yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat.


Akhir Kejayaan Bebek


Honda Revo AT


Skutik menjawab kebutuhan komutasi masyarakat dengan sempurna. Selain praktis dikendarai, rata-rata memiliki ruang akomodasi luas, sekaligus rancangan dek rata - mudah membawa banyak barang. Meski pada awalnya tak lebih hemat dari bahan bakar bebek, perlahan teknologi pun beradaptasi, sampai bisa menyetarai.


Moped mulai ditinggalkan. Paling tidak sejak satu dekade silam, pergeseran selera ini tampak nyata di jalanan. Sebaliknya, hanya segelintir orang yang mau beli bebek. Walaupun pabrikan mulai berusaha menyematkan teknologi injeksi dan memugar bentuk lebih modern.


Bahkan, Yamaha dan Honda pernah sepakat mengelaborasikan konsep bebek dan matic mentah-mentah. Berupaya agar jenis ini tak mati. Mungkin Anda masih ingat, sosok Revo AT dan Lexam? Dua motor itu sempat menyita perhatian karena inovasi yang tak lumrah. Namun sekadar perhatian bukan berarti laris. Tak lama, mereka kembali disuntik mati. Dan jadi motor langka hingga saat ini (karena tak banyak peminat).


Memasuki Era Post-Skutik Kompak


Meski sampai hari ini skutik kompak masih menjadi raja, tapi sedikit demi sedikit selera pasar bisa berubah. Industri terus berdialektika. Dimensi ringkas tidak melulu jadi nilai jual menarik. Baik di kelas skutik pemula maupun menengah.


Yamaha NMax


Contohnya Yamaha Nmax. Awal 2015 tampaknya menjadi titik gairah baru motor matic. Tampilan bongsor, ruang akomodasi luas, beroda kecil, serta dikemas lebih premium. Betul, sudah ada Honda PCX sejak 2012. Namun motor CBU Thailand itu kurang menarik minat, harganya terlampau mahal. Yamaha lebih dulu inisiatif memproduksi lokal. Dan berhasil mengkalkulasi nilai jual yang pas, hingga menjaring banyak konsumen sampai sekarang.


Ia menjadi sesuatu yang baru. Menjawab keinginan pengguna skuter 150 cc yang ingin naik kelas. Atau bahkan menyita minat mereka yang sebelumnya memilih roda empat, karena merasa tak ada pilihan skutik dengan kesan premium.


Dan kesuksesan Maxi Scooter tentu diikuti teman sebaya, Honda PCX. Akhirnya ia diproduksi lokal, meramaikan segmen sejenis, dengan nilai jual hampir sama. Apa yang mereka punya pun bisa dibilang tak beda jauh. Tinggal sesuaikan selera saja suka yang mana.


Lantas muncul lagi gebrakan baru pada 2019. Kali ini bukan Yamaha yang memulai, melainkan Honda. Pabrikan Sayap Burung tiba-tiba mengejutkan pengunjung GIIAS 2019 dengan kemunculan ADV150. Begitu menarik dan belum pernah ada. Tema adventure, mereka terjemahkan dengan baik di skutik 150 cc. Tak aneh responsnya langsung begitu besar.


Sementara di kelas pemula, cikal bakal perubahan selera bisa dilihat dari kehadiran Scoopy. Utamanya model 2018. Saat mereka bersolek dengan roda kecil, serta tampilan retro. Bodi gemuk dan serba bulat ternyata memikat juga. Tak melulu harus kecil dan serba lancip.


Piaggo Vespa dan Kymco sekarang masih berniaga skuter. Bahkan mayoritas motor dagangannya jenis tersebut. Bahkan sang merek Italia tampil sebagai sebuah pelengkap subkultur. Kymco, terus berinovasi dengan skuternya lewat Like 150i. Meski popularitas dua merek ini tak sebesar brand Jepang, namun langkah mereka di sejarah skutik Indonesia tak bisa dilupakan. (Hlm/Van)


Baca Juga: Risalah Skutik Tanah Air Part 1

Jelajahi Yamaha Mio M3 125

Yamaha Mio M3 125 Rp 16,35 - Rp 17,27 Juta Cicilan : Rp 373.049

Bandingkan & Rekomendasi

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store