• Wishlist

Test Ride Suzuki GSX-R150: Niatnya Berkenalan, Malah Jatuh Cinta (Part-1)

Suzuki GSX-R150, sepeda motor jenis sport ber-fairing. Bagi saya, motor jenis ini sangat spesial lantaran dibuat hanya untuk memuaskan rasa kesenangan berkendara semata.

Test Ride Suzuki GSX-R150: Niatnya Berkenalan, Malah Jatuh Cinta (Part-1)

Ya, itu mengapa satu unit Kawasaki Ninja 250 sempat menghuni garasi rumah saya cukup lama. Tapi gara-gara motor itu jugalah mengapa saya awalnya tak begitu antusias menguji Suzuki GSX-R150. Selain kapasitas mesinnya lebih kecil, sepertinya motor ini tak se-menyenangkan motor saya dulu. Benarkah demikian?

Desain dan Struktur Rangka

"Mengapa tidak?" Jawab saya waktu ditawari mencicipi motor ini. Tak ada salahnya kan berkenalan dengan sepeda motor yang sukses mengangkat kembali nama Suzuki di ranah otomotif roda dua Tanah Air. Hitung-hitung setidaknya rasa berkendara motor sport pasti membuat saya bernostalgia dengan motor kesayangan.

Sebelum kita bahas rasa berkendara, kita lihat dulu wujudnya. Desain motor ini jelas berbeda dari kompetitor di kelasnya, Yamaha R15 atau Honda CBR150R. Motor ini terlihat ramping, ringkas, sama sekali tak memberi kesan sebuah moge (motor gede) seperti kedua pesaingnya itu. Bagi saya kejujuran Suzuki ini jadi poin plus. Tak perlulah tiru-tiru Yamaha R15 bergaya moge karena memang motor bermesin 150 cc bukanlah moge.

Test Ride Suzuki GSX-R150: Niatnya Berkenalan, Malah Jatuh Cinta (Part-1)

Desainnya yang minimalis, didukung ban yang ukurannya tak terlalu besar. Ban depan menggunakan ukuran 90/80 dan 130/70 pada ban belakang. Keduanya membalut pelek 17-inci. Ukuran bannya ini lebih kecil dari kedua kompetitornya. Ditambah lagi tinggi tempat duduk dari permukaan jalan yang 785 mm ini, lebih pendek dari Honda CBR150R (787 mm) dan Yamaha R15 (815 mm). Walhasil, untuk saya yang punya tinggi badan sekitar 170 cm, tak kesusahan menapakkan kedua kaki ke jalan saat duduk di atas jok motor.

Tampilannya yang sederhana juga ditunjukkan lewat struktur rangka. Tentu saja berbeda dengan rangka Deltabox milik Yamaha R15 yang terasa lebih kokoh dan stabil. Begitupun dengan suspensi teleskopik depan belum inverted (up side down) seperti R15. Atau suspensi belakang dengan swingarm biasa, belum sistem pro-link pada Honda CBR150 atau bergaya banana pada Yamaha R15.

Pun desain fairing dan lekuk bodi pada tangki motor ini. Meski sudah sedikit mengarah ke aura yang lebih agresif dibanding motor Suzuki lainnya, namun desain bergaya santun motor-motor Suzuki masih bisa dilihat dengan jelas. Memang desain sederhananya tak sampai membuat orang yang melihatnya berdecak kagum, tapi masih cukup keren dengan detail yang rapih. Saya kok jadi naksir dengan tampilan motor ini ya.

Fitur Canggih dan Inovatif

Tapi siapa sangka, di balik kesederhanaannya terdapat fitur canggih yang justru tak dimiliki kedua kompetitornya. Misalnya, fitur keyless yang diakui sebagai inovasi terbaik lantaran pertama ada di kelasnya. Bukan berarti motor ini tak pakai kunci, tapi kunci motor ini hanya bisa dicabut bila remote terdeteksi dekat dengan kendaraan. Kunci motor tetap ada, berbentuk kenop putar yang terpasang di lubang kunci. Tak perlu cabut pasang, cukup pencet dan putar sebelum menekan tombol starter di stang untuk menyalakannya. Kunci ini hanya perlu dicabut dari tempatnya, hanya ketika ingin membuka tutup tangki bahan bakar atau membuka jok terpisah di bagian belakang.

 

Diklaim fitur ini mengingkatkan keamanan sepeda motor. Tanpa remote, meski dijebol, motor tak bisa digondol maling karena mesin tak bisa hidup jika tak mendeteksi remote aslinya. Tapi kalau Anda punya pandangan skeptis dan beranggapan, ‘Ah maling kan selalu punya cara untuk mengakalinya,’ maka anggap saja fitur keyless memberikan kemudahan yang tiada tara saat mengendarainya. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Tanpa repot mengeluarkan remote dari saku atau tas, tinggal putar kenob motor sudah bisa dihidupkan.

Selain itu, remote juga beroperasi memanfaatkan gelombang radio. Bukan tidak mungkin frekuensi yang dipancarkan oleh remote bertabrakan dengan frekuensi lainnya atau disebut jammer. Dalam dunia transmisi radio, dikenal istilah Harmonic Frequency Interference. Gangguan interferensi dari suatu pancaran transmisi lain yang frekuensinya sama atau harmoniknya. Beruntung sejauh ini saya belum pernah mengalami gangguan ini.

Fitur keren kedua yang dimiliki Suzuki GSX-R150, panel instrumen digital. Fitur ini sebetulnya bukan hal baru di industri otomotif roda dua. Bahkan skutik bermesin 125 cc seperti Yamaha Lexi pun, sudah pakai instrumen panel digital. Kelebihan panel instruen digital, lebih banyak informasi yang bisa ditampilkan. Selain penunjuk kecepatan (kpj), putaran mesin (rpm) dan indikator sisa bahan bakar, panel instrumen digital juga bisa menampilkan jarak tempuh (trip A dan trip B), konsumsi bahan bakar rata-rata (AVG) maupun jam. Tampilannya pun cukup mencolok terutama saat menyala di malam hari. Apalagi ketika posisi RPM sudah berada di level yang ditentukan untuk perpindahan gigi, Shift Light Indicator juga akan menyala terang. Pernah saat mengendarai motor ini, pengemudi Honda MegaPro lawas di sebelah saya melirik spidometer digital motor ini di kemacetan. (Rs/Van)

Bersambung ke part-2: Test Ride Suzuki GSX-R150: Niatnya Berkenalan, Malah Jatuh Cinta (Part-2)

Baca Juga: Test Ride Honda PCX, Jawaban Atas Ekspetasi

Jelajahi Suzuki GSX R150

Suzuki GSX R150 Rp 30,6 - Rp 34,6 Juta Cicilan : Rp 698.183

Bandingkan & Rekomendasi

    • Overview
    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Others
    • Kebijakan Privasi
    • S&K
    • Dapatkan di Google Play
    • Tersedia di App Store