jakarta-selatan

Kilas Balik Perjalanan Honda Supra di Indonesia (Part-1)

  • 06 Jul, 2019
  • 3362 Kali Dilihat

Praktis, irit dan ekonomis. Motor bebek bisa direpresentasi seperti itu. Tak kecuali sang legenda, Honda Supra. Ia punya banyak andil dalam kehidupan sehari-hari. Dari mulai mengantar anak sekolah, mencari nafkah serta mobilitas yang umum lainnya. Apakah tajinya mulai redup tergantikan skuter matic? Bisa dibilang begitu. Tapi hingga kini, Honda masih menjualnya dengan ragam pembaruan nan modern. Sebagian konsumen masih berminat atas alasan kepraktisan. Namun tahukah Anda? Motor ini punya sejarah begitu panjang. Bahkan mungkin telah terukir sebelum Anda lahir. Berikut kilas balik perjalanan bebek Honda di Tanah Air.


Super Cub



Inilah biangnya. Buyut dari Honda Supra di masa lalu. Muncul perdana di Indonesia era Orde Lama, tepatnya 1961. Saat itu belum banyak motor Jepang yang berkeliaran. Kebanyakan kuda besi berasal dari merek-merek Eropa semacam Vespa, DKW, BSA, Auto Union, BMW dan lain sebagainya. Sebuah gebrakan dari Honda, yang menciptakan motor praktis, irit bahan bakar serta pengoperasian transmisi tanpa kopling.


Rezim berganti, pun pada bebek satu ini. Tepat 1966, desainnya berubah. Posisi headlamp kini menyatu dengan stang, tak lagi ditempelkan pada leher. Beberapa varian dipasarkan mulai dari C50, C70, dan C90. Namun yang paling laris, C70. Menurut kami, masuk akal karena ada di pertengahan. Mungkin C50 dianggap kurang bertenaga, sementara C90 terlalu tinggi. Nah, untuk yang belum tahu, angka yang disebutkan merujuk pada kubikasi mesin yang dimiliki.


Astrea 700



Super Cub akhirnya stop produksi. Era 80an awal mengubur desain serbamembulat dari Honda C series. Sebagai gantinya, produsen motor asal Jepang ini, memberikan Astrea 700. Ya, inilah kali pertama nama Astrea digunakan. Desain serbamengotak digambarkan pada generasi ini.


Dari headlamp trapesium, sein terpisah, hingga stoplamp, semuanya menyiku. Term modern di era itu memang ditranslasikan demikian. Tapi sayap putih penghalang kaki tak dihilangkan. Tetap menjadi identitasnya. Kelir? Walaupun tersedia dalam beberapa pilihan, kami berani bertaruh, kombinasi merah putih pasti jadi yang terbanyak.


Di zamannya, motor empat tak semacam ini dinilai lebih efisien ketimbang yang dua tak. Walau tenaganya tak semenakjubkan itu. Maka Astrea 700 masih memikul mesin yang sama dengan generasi sebelumnya. Berkubikasi 70 cc, dengan transmisi manual 3-speed untuk menyalurkan daya. Namun, ada sedikit penyempurnaan sehingga tenaganya lebih besar. Di generasi ini pula, sistem pengapian platina berakhir.


Astrea 800



Pada 1983, selang tiga tahun sejak 700 meluncur, Honda kembali mengubahnya. Kami bisa bilang, desainnya sangat 80an. Masa mulai tenarnya robot, alat canggih dan khayalan tentang masa depan terjadi di sini. Pun pada desain kendaraan.


Motor yang diberi nama Astrea 800, punya desain jauh lebih modern dan berisi. Tak terlihat kopong seperti sebelumnya. Bagian lampu utama, misalnya, dibalut cover yang juga menyatukan sein serta lampu senja. Mirip kepala robot. Lantas di bagian belakang, stoplamp trapesium dipatah tajam bak terjemahan fantasi masa depan. Jok juga diubah dengan desain yang lebih panjang dan lebar, otomatis proporsi motor terlihat lebih baik.


Sektor jantung pacu, tak luput dari penyegaran. Angka 800, berartikan kapasitas mesinnya menambah. Kini jantung pacu satu silinder 86 cc tertanam di balik rangka. Selain itu, pengapiannya juga digantikan CDI agar lebih baik dan tidak merepotkan.


Astrea Star



Seiring berjalannya waktu, bertambah lagi generasi bebek Honda. Saat itu Astrea Star muncul pada 1985, guna kembali menyempurnakan produk sebelumnya. Menurut kami, desainnya cukup berubah. Dasarnya masih mirip, namun lampu-lampu semuanya diganti. Modelnya jadi jauh lebih ramping, pun pada sayap yang mengecil.


Pemberian warna juga berubah. Yang biasanya terdiri dari kombinasi dua kelir, serta mencolok, Astrea jadi gelap karena dilabur hitam keseluruhan. Mungkin menuai pro dan kontra, tapi unsur unik dan klasiknya jadi hilang. Satu-satunya yang membedakan hanyalah stiker di bodi samping yang memiliki beberapa pilihan warna. Ya, kami kurang suka hal ini. bagaimana dengan Anda?


Astrea Prima



Anehnya, generasi setelah Star malah hadir kembali dengan sayap putih. Apakah saat itu banyak konsumen yang protes? Kamipun tak mengetahuinya. Honda menamainya Astrea Prima (1988). Bodinya tak punya banyak ubahan, tapi teknologinya yang dirombak.


Kubikasi mesin naik menjadi 95 cc, atau kalau dibulatkan 100 cc. Nah, berkat itu, akhirnya bebek kecil ini bisa berlari hingga 120 km/jam. Transmisinya juga berubah total, Anda bisa mengganti gigi sebanyak empat kali. Urusan kaki-kaki, juga makin modern. garpu teleskopik menopang dan meredam guncangan dari roda depan.


Astrea Grand


Tiga tahun berikutnya, Honda kembali berbenah. Kemunculan pesaing semacam Yamaha Alfa, bisa mengancam produknya. Maka dari itu, mereka merombak ulang dengan bodi yang lebih aerodinamis alias ramping. Headlamp dan stoplamp juga dibuat menyesuaikan kontur bodi, hingga terlihat lebih manis. Kalau urusan mesin dan kaki-kaki dibiarkan sama dengan yang sebelumnya, karena terbukti mumpuni. Nah, perubahan juga meliputi footstep penumpang, yang berpindah dari swing arm ke titik besi lain. Hal ini dilakukan guna meminimalisir getaran. (Hel/Odi)


Foto: Berbagai Sumber


Baca Juga: Kilas Balik Perjalanan Honda Supra di Indonesia (Part-2)

kali dibagikan

Harga dan Promo Varian Supra X 125 FI

  • Spoke FI | Rp 16,88 Juta (OTR)
    DP (mulai dari) Rp 1,2 Juta
    Angsuran Rp 787.000
    Tenor 35 Months
    Lihat Promo
  • CW Luxury | Rp 17,93 Juta (OTR)
    DP (mulai dari) Rp 1,3 Juta
    Angsuran Rp 820.000
    Tenor 35 Months
    Lihat Promo

Video Honda Supra X 125 FI

Lihat video terbaru Honda Supra X 125 FI untuk mengetahui bagaiamana mesin, desain, konsumsi BBM, performa & lainnya.

Motor Honda Pilihan

  • Populer
  • Komparasi