jakarta-selatan

First Ride Vespa GTS Super 150: Nikmat Melahap Jalur Jakarta-Bogor

  • 12 Jul, 2019
  • 664 Kali Dilihat

Mengarungi jalanan kota nan padat, Vespa GTS Super 150 terkesan kedodoran. Bobotnya yang berat dan ukuran yang gambot, saya jadi merasa kelelahan. Begitulah kesan saya tatkala diajak riding bareng Jakarta-Puncak, yang diselenggarakan PT Piaggio Indonesia. Bagaimana ulasan lengkapnya? Berhasilkah GTS memikat hati?


06.00 AM



Saya kebagian unit berwarna hitam (Black Vulcano) dari pihak panitia. Sejujurnya, tak terlalu suka Vespa warna gelap. Kurang mencerminkan aura klasik. Tiga kelir lainnya lebih menarik (White Innocenza, Red Passione, Yellow Sole). Tapi ya sudahlah, tak begitu penting. Sebagai informasi, unit GTS yang tersedia di situ berjumlah delapan unit. Karenanya, pengujian dibagi dalam dua kloter. Beruntung, kami dapat giliran pertama. Sisanya pakai Sprint atau Primavera.


Sembari bersiap, tas dan beberapa barang kami masukkan bagasi. Jelas, masih banyak ruang tersisa karena bagian ini cukup luas. Untuk melepas kuncian kail jok pun sudah elektrik. Baik dari pengoperasian tombol maupun dari remotenya. Canggih kan?


Menyimak panel instrumen, tak ada yang berubah. Tampilannya masih sama dengan kombinasi analog-digital. Jarum kembali digunakan untuk menunjuk kecepatan, agar mempertahankan gaya klasik. Lantas panel digitalnya? Ya masih sama. Hanya menginformasikan fuel gauge, dua tripmeter serta odometer. Sisanya, merupakan sensor penting saja. Mungkin perlu ada sedikit penambahan. Misal penghitung konsumsi BBM rata-rata, atau jarak tempuh dengan bensin yang tersisa. Dua hal ini cukup penting apalagi kalau sedang jalan jauh. Kalau urusan fitur lain, menurut sudah mencukupi. GTS punya fasilitas start/stop engine, ABS dua channel dan soket 12V pengisi daya gawai.


7.10 AM



Impresi pertama dan yang paling ingin kami garisbawahi, motor ini cukup berat. Apalagi saat mulai jalan. Sudah bisa terbayang jika dibawa stop and go pada kemacetan, kurang pas rasanya. Belum lagi motor cukup tinggi. Saya yang memiliki postur 170 cm, agak sulit meraih tanah dengan sempurna. Pun kalau bisa, hanya dengan satu kaki. Mungkin berbeda lagi jika posturnya tinggi. Maklum, bagaimanapun desain motor memang lebih relevan untuk tubuh orang Eropa.


Selain itu, ada hal yang sedikit mengganggu. Stang agak goyang begitu mulai melaju. Tapi kalau dilepas tetap stabil. Ternyata inilah sebabnya. “Stang agak berat karena profil ban lebih besar ketimbang Primavera dan Sprint. Sementara steering rack atau lehernya sama persis. Makanya ada gejala goyang dan berat saat mulai jalan. Tapi bukan berarti itu tak stabil. Pemilihan ban sudah dipikirkan matang-matang oleh tim riset Piaggio, untuk menghela bobot yang besar. Kalau mau, coba ganti dengan merek lain yang lebih premium, tapi jangan ubah ukurannya. Beberapa konsumen melakukan hal itu guna mengatasinya,” pungkas Robby Gozal, PR & Communications Manager PT Piaggio Indonesia.


Akselerasinya? Padat dan instan. Gas saya putar mengurut, tenaganya mengisi dari awal. Motor sanggup meluncur singkat ke angka 60-80 km/jam. Tapi memang, setelah itu rasanya relatif datar. Tidak sesignifikan di awal. Mesin 155,1 cc satu silinder, mengeluarkan output maksimal 14,6 PS/8.250 rpm serta torsi puncak 13,6 Nm/6.750 rpm. Perlu diketahui, kubikasi dan mapping ECU jauh berbeda dengan milik Sprint dan Primavera, walau sama-sama 150 cc. Makanya catatan tenaga dan torsinya lebih besar.


Suhu mesin tetap terjaga. Radiator dipasangkan persis di balik tepong kanan. Nah, untuk yang bertanya apa fungsi kisi angin di kedua sisi shield, tidak ada gunanya. Mutlak aksesori belaka. Bukan tanpa alasan, ini akibat desain bodi yang sama persis dengan seri 300ccnya. Posisi radiator varian mesin besar itu ada di balik shield, sehingga ornamen kisi angin diwariskan pada versi 150 cc.


8.00 AM



Sedang kencang-kencangnya melaju di daerah Margonda, tiba-tiba seorang wanita paruh baya mengemudikan motor dengan "disiplin". Saking disiplinnya, kami harus menarik tuas rem dalam-dalam secara mendadak. Sebetulnya ada untungnya juga, jadi punya justifikasi melakukan hard braking. Hasilnya? Sempurna. Padahal hanya menarik tuas rem belakang. Disc brake, kaliper, dan sensor ABS-nya bersinergi dengan baik. Motor sekejap melambat dan semuanya baik-baik saja. Tak sedikitpun ada gejala terkunci.


Kualitas suspensi? GTS Super 150 masih mempertahankan spesifikasi peredam kejut yang sama. Di depan, topangan lengan tunggal bersemayam dengan satu shock breaker. Lantas di belakang, memiliki model swing arm berbeda dengan Sprint dan Primavera. Peredam kejutnya juga bisa disetel empat level, dengan redaman yang lebih baik. Terbukti, menginjak gundukan maupun lubang di kecepatan tinggi, tak mempengaruhi kendali. Stabil.


8.20 AM



Mulai masuk ke jalur menanjak dan berliku, semua tertangani dengan baik. Terasa mantap dan minim gejala limbung. Walaupun, mengaturnya agak berat karena stangnya tadi. Nah, saat lalu lintas mulai padat, motor beberapa kali harus berhenti. Sedikit kekurangan yang terasa, tidak ada parking brake lock, mengingat bobot motor agak besar. Satu-satunya jalan, menahan dengan rem belakang. Apakah ini aman? Menurut Roby, “Tidak ada masalah, asalkan jangan sambil menarik gas sedikit. Karena bisa berpengaruh pada kopling yang panas, lalu tercium bau tak sedap. Tapi kalau risiko rem panas, masih aman biarpun tetap dipencet,” katanya.


Semua yang dipaparkan kami rasa masih serupa dengan generasi GTS bermesin i-Get. Lantas apa yang paling beda dari versi terbaru ini jika secara teknis masih sama? Jawabannya adalah jok. Ya, terdengar sederhana. Tapi ini berpengaruh. Versi sebelumnya, memiliki jok agak lebar. Praktis, postur seperti saya cepat pegal dan semakin sulit menginjak tanah. Sekarang, dipahat lebih ramping sehingga posisi kaki lebih nyaman, tidak terlalu “ngangkang”. Kemudian lampu LED terlihat lebih cantik dan tentu memberikan kualitas penerangan yang lebih baik. Berlaku di depan maupun belakang.


8.45 AM



Sampailah kami di Bogor. Tempat peristirahatan pertama ini, jadi ujung sesi berpacaran dengan GTS. Jarak sepanjang 45 km telah dilalui. Ya, belum maksimal, namun cukup memuaskan. Simpulan dari apa yang kami rasakan, GTS kurang lincah untuk mengarungi jalanan padat, ataupun kondisi stop and go. Tapi kalau melaju kencang, menikung dan berkelana jauh pada jalanan sepi, ia sanggup menjawabnya dengan baik. Perubahan desain jok juga berhasil mengubah posisi duduk lebih nyaman. Selain itu, suspensinya meredam dengan baik, tapi karakter kakunya masih ada. Jadi tidak limbung.


Harganya? Sampai kapanpun ini mahal. Paling tidak, uang Rp 58 juta bisa Anda tukarkan dengan skuter Jepang yang punya spesifikasi lebih tinggi. Namun itukah yang dicari penggemar skuter klasik? Saya rasa tidak. Estetika dan sensasinya tak bisa disamakan. Ini sebuah motor berdesain cantik, ikonik dan punya sejarah. Toh kalau masih ribut urusan fitur, apa yang disajikan juga sudah cukup menunjang. Jadi kembali lagi, apa prioritas Anda memilih roda dua? Kalau uang sebanyak itu wajib ditukar limpahnya perangkat pemanja, lupakan saja motor ini. Tapi kalau suka model begini, jangan banyak protes dengan banderolnya. (Hel/Odi)


Baca Juga: Test Ride Vespa Primavera ABS, Melebihi Logika

kali dibagikan

Harga dan Promo Varian GTS 150

  • I-Get ABS | Rp 43,5 Juta (OTR)
    DP (mulai dari) Rp 6,75 Juta
    Angsuran Rp 1,74 Juta
    Tenor 35 Months

Video Vespa GTS 150

Lihat video terbaru Vespa GTS 150 untuk mengetahui bagaiamana mesin, desain, konsumsi BBM, performa & lainnya.

Motor Vespa Pilihan

  • Populer
  • Komparasi