• Wishlist

Duel Crossover Premium Jepang, Pilih Mazda CX-30 atau Mitsubishi Eclipse Cross?

Duel Crossover Premium Jepang, Pilih Mazda CX-30 atau Mitsubishi Eclipse Cross?

Perkenalan Mazda CX-30 menambah daftar pemain crossover premium. Dengan banderol mulai dari Rp 478,8 juta bisa digunakan untuk menebus SUV mungil Jepang rasa Eropa. Namun, CX-30 mungkin bukan yang pertama. Sebelumnya sudah ada Mitsubishi Eclipse Cross menawarkan cita rasa serupa. Jika dikomparasi, baiknya pilih yang mana?


Mazda CX-30 dibangun dari basis Mazda3


Mesin


Di sektor jantung pacu, CX-30 menggendong unit Skyactiv-G 2.0. Ialah mesin empat silinder DOHC 1.998 cc Naturally Aspirated alias non Turbo. Keluaran daya mencapai 155 PS disokong momen puntir 200 Nm. Tanggung jawab penyaluran daya ke roda depan diserahkan kepada girboks otomatis enam percepatan saja.


Skenario cukup berbeda kala melirik data spesifikasi Eclipse. Mitsubishi membekali jantung 4B40 DOHC MIVEC berkapasitas 1.499 cc. Angka kubikasi jelas tampak terpaut, tapi jangan anggap remeh potensi Eclipse lantaran ada sokongan turbo. Berkat rumah keong pemaksa udara ini, keluaran daya dapat disetarakan pemacu 2.0 L.


Kehebatan torsi jadi keunggulan Eclipse walau besaran daya kuda terpaut 5 PS. Total 250 Nm keluar untuk menggarap puntiran roda depan. Berbeda dari CX-30, distribusi tenaga crossover Tiga Berlian ini memanfaatkan CVT “8 percepatan”. Penyaluran lebih halus namun bisa jadi ogah-ogahan, mengingat itu dikenal sebagai karakter mendasar transmisi variabel. Perlu komparasi nyata untuk membuktikan performa keduanya.


Mitsubishi Eclipse Cross berbekal mesin turbo


Interior dan Fitur


Terkait desain dan rancangan dipastikan berbeda. Bisa dilihat Mazda menganut komposisi rapi dan bersih, sementara Mitsubishi disibukkan elemen menekuk. Identitas ini menyelaraskan seluruh rancangan dari luar ke dalam. Kendati begitu, kedua jenama ini bertujuan memberikan cita rasa premium ala mobil Eropa.


Eksekusi hampir sama : mengutamakan permainan material mewah. Sebaran material soft touch dasbor bagian atas menggugah rasa. Belum lagi bangku terbungkus kulit berikut pengaturan elektrik. Semua ini kian diperkuat lubang di atap sebagai syarat pencipta kemewahan. Eclipse punya power panoramic sunroof, sementara CX-30 hanya satu sunroof di depan. Terdapat pula heads up display sebagai penunjang informasi futuristis.


Urusan sarana hiburan, head unit keduanya menancap di tengah dasbor. Pengaturan Mazda dapat dicapai melalui Command Control, berupa kenop putar beserta tombol di sekelilingnya. Atau, dapat juga terlaksana lewat kontrol di lingkar kemudi. Di lain sisi, Mitsubishi tawarkan mainan berbeda. Karena kontrol setir sudah bisa dibilang moderat, mereka menambahkan touchpad besar di konsol tengah. Soal konektivitas, keduanya telah disokong integrasi smartphone.


Interior Mitsubishi Eclipse Cross


Teknologi Berkendara


Inti dari dua crossover premium ini terletak di sektor teknologi berkendara. Harus dipenuhi agar tidak menipu penampilan. Mazda kenalkan paket i-Activsense. Merupakan peranti keselamatan aktif. Mulai dari teknologi headlamp, berupa Adaptive Front Lighting dan High Beam Control.


Perangkat sensor juga tak lupa dieksploitasi. Kontrol kecepatan cruise control secara aktif mengatur kecepatan kendaraan sesuai rintangan di depan (MRCC- Mazda Radar Cruise Control). Smart City Brake System (SCBS) bantu mencegah celaka di kala pengemudi kurang responsif. Juga terdapat Driver Attention Alert untuk memperingatkan pengemudi saat lelah. Di samping itu ada Lane Departure Warning, Blind Spot Warning, Lane Keeping Assist, dan Rear Cross Traffic Alert.


Menyoal pemanfaatan sensor teknologi berkendara, Eclipse dan CX-30 bisa dibilang setara. Ambil contoh Forward Collision Warning, berfungsi serupa SCBS. Adapun Adaptive Cruise Control sama dengan MRCC. Sisanya juga tak berbeda, seperti Lane Departure Warning, Blind Spot Warning, Lane Keeping Assist, dan Rear Cross Traffic Alert.


Interior Mazda CX-30


Namun, pencipta karakteristik berkendara Mazda bisa dibilang lebih canggih. G-Vectoring Control mengatur keluaran torsi saat menikung. Tujuan utama peranti ini ialah mengurangi usaha pengemudi dalam bermanuver. Sistem juga berupaya menjaga pergerakan dengan memperhalus perpindahan gaya gravitasi, bantu mengurangi kelelahan berkendara.


Baca Juga: Ini Lima Medium SUV Jepang Bekas Seharga Kia Seltos


Rancangan Luar


Jelas ini menyangkut selera masing-masing. Desain Mazda membawa rancangan bersih tanpa dibuat sederhana. Kontur permukaan mendefinisikan lekuk tubuh melalui pergantian arah cahaya dan bayangan. Profil tubuh pun membulat tanpa mengurangi kesan macho lantaran ditemukan aplikasi cladding tebal. Dioda penghasil cahaya (LED) mengisi pendar lampu depan maupun belakang.


Eksterior Eclipse memberikan nuansa berbeda. Mitsubishi utamakan penegasan garis tubuh untuk memperkuat sisi maskulin sebuah crossover. Desain mengotak tajam nan tegas diinisiasi paras andalan Dynamic Shield. LED juga mengisi komposisi lampu di tubuh.


Desain Mazda3 masih jelas terlihat


Harga


Basis harga Eclipse Cross Rp 481 juta, hanya dipasarkan dalam satu tingkatan trim. Kala membandingkan label, CX-30 terdekat merupakan varian bawah, Touring (Rp 478,8 – 482,8 tergantung warna). Sayang, jika dikomparasi, versi Touring tidak dilengkapi i-Activsense, sunroof, dan jok kulit. G-Vectoring Control, Hill Start Assist, DSC + TCS, berikut airbag 7 titik berupaya mengimbangi kelengkapan Eclipse.


Varian GT menyetarakan teknologi berkendara, perlu tebusan Rp 518,8 – 522,8 juta. Berarti sekitar Rp 40 juta lebih mahal untuk bisa unggul di sisi G-Vectoring Control.


Simpulan


Dari data spesifikasi, Eclipse unggul di sektor jantung pacu. Ia juga menang kalau menimbang harga OTR dengan fitur komplet. Sebab, untuk kesamaan teknologi berkendara, perlu tebusan lebih bila hati tertuju pada CX-30.


Desain buritan Eclipse Cross


Nah, mengingat banderol Rp 500 jutaan, mereka bukan sekadar mobil untuk memenuhi kebutuhan mendasar komutasi. Terdapat tambahan kelengkapan sekunder untuk dinikmati, seperti material kabin mewah serta sebaran fitur ekstra. Akomodasi pun hanya untuk lima penumpang. Jadi mungkin ada permainan rasa menyelimuti dalam keputusan membeli. Apakah rancangan cantik serta kelebihan G-Vectoring Control sanggup menutupi selisih Rp 40 jutaan? Sila tentukan sendiri. (Krm/Tom)


Baca Juga: Komparasi Small SUV Korea, Pilih Kia Seltos atau Hyundai Kona?

Bandingkan & Rekomendasi