jakarta-selatan
kali dibagikan

Vespa GTS Super Tech 300 (Part-1): Rupa Tak Semenggugah Isi

  • 28 Okt, 2019
  • 510 Kali Dilihat

Empat ratus kilometer lebih kami berkelana. Selama satu minggu mencobanya, tak terasa angka odometer yang semula hanya 200 km-an, sudah menyentuh angka 634 km di pengujung sesi. Ingin sebetulnya berkencan lebih lama lagi. Ya, jika hanya melihatnya, mungkin Anda tidak begitu tergugah. Namun saat mencobanya, ia menjadi candu. Harga selangit (Rp 152,9 juta) boleh jadi terlupakan, khususnya bagi pecinta brand ini. Inilah sudut pandang kami, teruntuk Vespa GTS Super Tech 300.


Desain


Vespa GTS Super Tech 300


Maksud dari kurang menggugah, bukan berarti desainnya buruk. Secara utuh GTS Super Tech masih memiliki garis kental Vespa bercorak khas Italia. Penyegaran tampang pun memang banyak dilakukan. Headlight, misalnya, sudah memakai sumber pencahayaan LED sepenuhnya. Model bulat berseparator juga diadopsi mengikuti gaya Vespa masa kini.


Tepat di tameng, bubuhan LED vertikal yang menyatu dengan sein bohlam pun indah kala dinyalakan. Hidungnya juga mancung. Berkat tambahan dasi lancip. Otomatis, lubang klakson juga berubah bentuk. Lantas buritan, mika stoplamp ikut diubah dari versi sebelumnya. Kotak mika lebih kompak dan modern. Ditambah lagi adanya siluet cahaya dari LED round.


Permasalahannya, bukankah semua hal itu sudah bisa didapat pada GTS 150, yang notabene harganya Rp 58 juta? Ya, ada pembeda memang. Tapi dari segi pewarnaan saja, plus angka 300 di laci depan. Identitas Super Tech hanya bisa dikenali lewat stiker kuning di bawah tepong, kisi-kisi klakson, stiker di bibir pelek dan karet shock breaker depan yang juga kuning. Soal desain roda pun sama saja, menggunakan model palang lima. Hanya saja dilabur hitam seluruhnya.


Karena itulah, kami berargumen rupanya kurang menggugah. Secara bentuk, tidak terpaut jauh dengan versi mesin kecil. Bak kurang ekskusif, apalagi harus membayar hampir tiga kali lipat. Orang-orang yang tak paham boleh jadi tak menyangka banderolnya selevel Toyota Calya.


Nah, setelah Anda melihat foto dan merasa apa yang kami sebutkan belum lengkap, tunggu dulu. Unit tes ini sudah memakai aksesori. Jadi jangan menyangka wujud wind screen aluminium di atas lampu, tuas rem dengan adjuster, handle bar aluminium, serta single seat, adalah bawaan standar. Semua itu dijual terpisah sebagai aksesoris. Paket komplet tadi, plus rack dan beberapa item lagi bisa ditebus pada kisaran harga Rp 20 jutaan. Kami akui, tambahan ini memang keren dan membantu dirinya nampak eksklusif.


Soal pilihan kelir, Super Tech  hanya tersedia dalam dua opsi. Satu yang kami coba ini, bertajuk Grey Avio. Di kalangan pecinta motor klasik mungkin lumrah menyebutnya dengan warna poxy. Menurut kami kelir inilah yang paling menarik. Paduan aksen kuning dan abu-abu nampak kontras tanpa kesan norak. Berbeda dengan satunya yang ditajuk Nero Vulcano. Dominasi hitam membuat GTS terlihat terlalu kalem dan biasa saja.


Vespa GTS Super Tech 300


Baca Juga: Cicilan Vespa GTS Super Tech, Mulai Rp 3 jutaan


Beranjak ke ruang simpan, tak seperti yang dikira. Nyatanya, bagasi GTS 300 tidak sebesar itu. Kedalaman ceruknya terasa kurang, walau cukup panjang. Alhasil, memasukkan helm half face tanpa visor perlu sedikit menekan jok. Bila diduduki, helm itu bakal sedikit terasa di bokong. Sementara sisanya, masih bisa ditaruh jaket, sarung tangan atau keperluan lain.


Lantas laci depan, bisa dipakai apa? Ini perlu digarisbawahi. Tertera USB soket untuk mengisi daya gawai di dalamnya. Ruangnya pun lebih dari cukup kalau hanya sekadar menyimpan handphone. Ada juga lubang penyimpanan toolkit tertutup rapi dengan plastik. Tapi, radiator dan fan berada tepat di balik situ. Pengisian daya saat jalan tak kami sarankan. Masalahnya, suhu di dalam laci ikut panas. Ditakutkan perangkat elektronik Anda tak kuat menahan tingginya suhu. Untuk jaga-jaga, tak perlulah melakukan itu kala mengendara.


Selain itu, satu tambahan fitur pengangkut ada di luar laci. Hanger plastik setengah lingkaran bisa dibuka dan dilipat kembali. Desainnya seperti menyatu, padahal bisa dipisah. Adanya gantungan memudahkan kala hendak membawa barang yang agak besar. Karena deknya juga luas, rata lantai.


Bahasan terakhir mengenai arsitektur dan desain, tentang posisi duduk. Kami, sebagai pengendara berpostur 170 cm, merasa sangat nyaman. Untuk yang lebih tinggi pun rasanya masih relevan. Ruang kaki begitu luas dan tidak jongkok. Semuanya suportif, begitu juga stang. Ya, agak sedikit tinggi memang, khas Vespa. Tapi sejauh ini tidak membuat cepat pegal.


Tak selesai di situ, semua kenyamanan tadi mulai terganggu kala membonceng. Footstep penumpang yang disediakan sebetulnya sudah bagus. Praktis. Bisa dibuka-tutup. Namun tetap saja, ada kalanya, kaki pengendara dan penumpang saling bertabrakan. Rasanya jadi kagok mengendalikan motor. Masalah yang kerap terjadi di tiap skuter model klasik. Namun, semua itu baik-baik saja kalau motor sudah berjalan tanpa harus turun kaki.


Seluruh paparan ini mungkin membawa perspektif Anda, menjadi biasa saja terhadap GTS Super Tech. Tapi tunggu dulu, belum selesai. Cobalah lirik fitur pada panel instrumen digital, tombol-tombol di stang, serta isi di balik tepongnya. Semua itu bak meludahi kami yang berargumen hanya dari kemasan. Ya, ternyata esensi kemewahan Super Tech bukanlah dari tampilannya. Melainkan di.. (Bersambung ke Part-2) (Hlm/Van)

Galeri

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Vespa GTS 300 Super Tech

Lihat video terbaru Vespa GTS 300 Super Tech untuk mengetahui bagaiamana mesin, desain, konsumsi BBM, performa & lainnya.

Motor Vespa Pilihan

  • Populer