Simak Amunisi Yamaha WR 155R dan Honda CRF150L, Mana yang Cocok Untuk Anda?

Simak Amunisi Yamaha WR 155R dan Honda CRF150L, Mana yang Cocok Untuk Anda?

Yamaha WR 155R mulai dipasarkan di Indonesia pada akhir 2019. Boleh dibilang, ia muncul belakangan dari para pesaing di kelas trail 150 cc. Sebelumnya ada Kawasaki KLX150 dan Honda CRF150L. Meski begitu, kehadirannya menambah ketat persaingan motor trail Tanah Air. Di sini, musuh bebuyutannya tentu saja unit dari pabrikan berlogo ‘sayap kepak’. Lantaran mesinnya sama-sama sudah injeksi. Dari segi teknis, masing-masing punya bekalan amunisi yang cukup andal buat menggaet calon konsumennya. Simak pembahasan detail berikut.

Proporsi Desain

Soal desain, tergantung selera masing-masing personal. Kami serahkan pada Anda. Hal ini terlalu subjektif untuk disimpulkan. Walau demikian, keduanya masih mengarah ke tema leluhurnya di masa lalu. Mengusung konsep trail kompak dengan berbagai sudut tegas, memberikan kesan sebagai motor petarung yang siap menaklukan setiap medan. Dari depan hingga belakang juga mengadopsi desain tajam dan sporty, memberikan kesan agresif. Berikut warna khas yang digunakan. Persepsi bagus yang mana, sila simpulkan sendiri. Namun ada satu hal yang membuat CRF unggul. Opsi warnanya lebih banyak, mudah menyesuaikan selera.

Komparasi Yamaha WR155 R Vs Honda CRF150L 2020

Baca juga: Test Ride Honda CRF150L, Melepas Rindu Blusukan ke Cipamingkis

Baca juga: Test Ride Yamaha WR 155 R: Eksplorasi Cipamingkis, Cari Kejutan Tualang Akhir Pekan

Rancang Bangun

 

Soal struktur utama, sama-sama ditopang rangka semi double cradle. Arsitektur ini lazim digunakan pada motor trail. Lantaran jenis itu terkenal dengan kekokohan dan ketangkasannya (kaku). Pendukung lain, Yamaha gunakan jok berdesain YZ series. Terkenal dengan tingkat kenyamanannya, karena memudahkan pengendara mengatur posisi berkendara di segala medan. Pesaingnya punya kontur jok ramping dan agak keras. Pengendara dapat merasakan panas dan pegal bila duduk terlalu lama. Tapi kalau sudah berkendara di medan tanah, kenyamanan kursi tak lagi jadi soal.

Lain lagi mengenai peredam kejut. Secara teknis, CRF setingkat lebih unggul dengan fork model upside down 37 mm. Secara penampilan dan kemampuan, ia sudah satu level di atas dari model biasa. Belakangnya pakai model unitrack dengan setelan 5 tingkat preload. Menawarkan level yang lebih tinggi untuk performa off-road.

Test ride Honda CRF150L

Sedang WR jenisnya teleskopik standar. Tapi diameter tabung lebih besar, 41 mm dengan panjang 899,1 mm. Menjanjikan daya redam yang baik saat beraktifitas off road. Belakangnya didukung dengan Link Type Monocross bertekanan yang dilengkapi oli. Tingkat kekerasannya bisa diatur sesuai keinginan pengendara.

Sebenarnya masing-masing suspensi punya fungsi tersendiri. Redaman inverted fork lebih baik, berkat posisi tabung besar berada di atas. Namun terasa lebih kaku. Sebaliknya, model teleskopik bisa memberi feedback lembut, tapi getaran di tangan lebih terasa. Jadi sesuaikan saja dengan kebutuhan. Jika memacu motor kencang di track offroad, shock terbalik bisa dibilang lebih relevan. Sementara saat bertualang secara perlahan di medan tanah atau batu, teleskopik sudah cukup mumpuni.

Test off road Yamaha WR 155 R

Beranjak ke bagian roda, mereka berdua memiliki ukuran sama persis. Mengusung komposisi ban 21-18 dengan profil 2,75 inci di depan dan 4,10 inci di belakang. Masing-masing juga dibekali ban semi pacul, cukup relevan digunakan di dua medan. Begitu pula urusan penahan laju, jenis dan ukurannya serupa. Berupa disc brake wavy tertera di depan (240 mm) dan belakang (220 mm).

Hal krusial lain yang patut dipertimbangkan tentu saja di sektor dimensi dan bobot. Mengingat habitatnya di medan tanah, dua urusan itu menjadi kata kunci penting. Semakin kompak semakin baik. Urusan ini, CRF boleh dibilang sepadan dengan postur tubuh orang Asia. Total dimensi jauh lebih kompak, yakni (PxLxT) 2.119 mm X 793 mm X 1.153 mm. Beratnya 122 kg serta jarak jok ke tanah 869 mm. Buat rider dengan tinggi 170 cm, kaki masih bisa menapak. Sementara WR (PxLxT) 2.145 mm x 840 mm x 1.200 mm, berat 134 kg serta jarak jok ke tanah 880 mm. Baiknya yang menaiki trail Yamaha harus memiliki tinggi di atas 173 cm, biar kaki bisa menapak dan dapat menopang motor dengan baik saat berhenti. Dengan itu, CRF mestinya bisa lebih mudah dikontrol.

Honda CRF150L 2020

Tapi soal daya jelajah, WR 155R tergolong lebih memadai. Sebab kapasitas tangki bensinnya sebesar 8,1 liter. Sementara Honda hanya punya volume 7,2 liter. Untuk kebutuhan tualang, daya tampung bahan bakar gede turut menjadi aspek penting.

 

Performa Mesin

Menyoal sektor performa, WR 155R jelas lebih unggul di atas kertas. Memiliki kubikasi yang lebih besar. Selisih output cukup signifikan. CRF150L memiliki kubikasi 149,15 cc, SOHC, 4 langkah, satu silinder, berpendingin udara dengan ukuran diameter x langkah (57,3 x 57,8 mm). Lebih kecil dari trail Yamaha, yang memakai komposisi silinder 155 cc dan diameter x langkah (58 x 58,7 mm). Plus dilengkapi sistem buka tutup katup bervariasi atau disebut Variable Valve Actuation (VVA). Tenaga motor tetap maksimal di setiap rentang rpm. Tak hanya itu, rasio kompresi WR 155R mencapai 11,6:1 dan jumlah katupnya ada empat. Sangat padat. Sementara trail jagoan Honda hanya memiliki dua katup dan kompresi 9,5:1. Dan hasil itu jelas menjadikan WR motor trail kelas 150 cc paling bertenaga di Indonesia.

Komparasi Yamaha WR155 R Vs Honda CRF150L 2020

Berkat ramuan yang dibawa oleh masing-masing unit, produksi daya yang dihasilkan berbeda. Penggaruk tanah Yamaha sanggup memompa daya 16,4 hp pada 10.000 rpm dan torsi 14,3 Nm di putaran 6.500 rpm. Selisih cukup jauh dengan CRF yang hanya sebesar 12,72 hp di 8.000 rpm dan tenaga dorong 12,43 Nm pada 6.500 rpm. Gap sebesar 4 hp dan 2 Nm di kuda besi trail lumayan besar.

Di lain sisi, penyaluran tenaga juga beda. Walau sama-sama manual, si garpu tala memiliki enam gigi. Ia menjadi satu-satunya yang pakai susunan ini, karena CRF masih mengusung lima gigi. Terakhir, sistem pendinginan trail Yamaha sudah jauh lebih unggul, pakai radiator. Lawannya, masih bergantung udara.

Speedometer Digital

Trail Yamaha dilengkapi speedometer full digital yang sangat modern. Ringkas dan enak dilihat. Isinya juga sangat berguna untuk pengendara saat melakukan aktifitas adventure. Semacam indikator Bar-Graph putaran mesin atau tachometer, odometer, tripmeter, rata-rata konsumsi bahan bakar, indikator transmisi dan jam. Lebih lengkap dan canggih dibanding kompetitor. Sebagai tanda ketika pengendara mengalami kondisi darurat, disematkan hazard lamp.

Komparasi Yamaha WR155 R Vs Honda CRF150L 2020

Rivalnya juga dibekali speedometer full digital yang mudah terbaca oleh pengendara. Isinya sederhana, ada petunjuk kecepatan, trip A, trip B, odometer dan fuelmeter tanpa ada tachometer. Tersemat pula lampu dim, engine cut off, tool box, gantungan helm di samping tool box dan sepatbor belakang yang bisa dilepas.

Simpulan

Secara umum, masing-masing sebetulnya memiliki keunggulan dan kelemahan. Yamaha menjual WR 155R lebih mahal dari musuhnya lantaran punya mesin yang lebih advance, speedometer lebih modern, tangki besar, meski suspensi depan masih konvensional. Sedang Honda CRF150L punya dimensi proporsional, varian warna lebih banyak, suspensi depan upside down dan belakang model unitrack dengan setelan 5 tingkat preload.

Masing-masing memiliki banderol Rp 37,725 juta buat WR 155R dan Rp 34,745 juta OTR DKI Jakarta. Beda harganya mencapai Rp 3 jutaan, sekarang tinggal keputusan Anda, mau menebus motor trail Yamaha atau Honda? (Bgx/Tom)

Baca juga: Kenali Ragam Model KLX di Indonesia, Bisa Buat Harian Hingga Offroad

Komparasi Yamaha WR155 R vs Honda CRF150L

Yamaha WR155 R
  • Rp 37,9 Juta
Honda CRF150L
  • Rp 35,76 Juta
WR155 R vs CRF150L

GIIAS 2021

Anda mungkin juga tertarik

  • Yang Akan Datang

Video Motor Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Motor

Bandingkan & Rekomendasi