• Wishlist

Test Ride Qooder: Kendali Optimal di Berbagai Medan (Part-2)

Test Ride Qooder: Kendali Optimal di Berbagai Medan (Part-2)

Komposisi empat roda Qooder berbeda dengan ATV. Wheel track depan lebih besar, ketimbang belakangnya. Dan lebar sumbu itu tak melebihi tinggi total. Plus, empat suspensi hidrolis bergerak independen tanpa per – dengan travel sepantar motor trail (30 cm) - ditopang masing-masing arm. Karena itulah, ia bisa bermanuver layaknya roda dua biasa. Namun sebetulnya, sehebat apa rancang bangun itu?


Tak perlu waktu lama, langsung terasa. Percayalah, Anda tak akan risau lagi soal lubang jalanan. Ceruk-ceruk pintu drainase – yang sering jadi “jebakan” pada jalan protokol Jakarta – tak terasa jika diinjak. Lembut. Atau mungkin, mencicip bekas kupasan aspal yang sedang diperbaiki? Di roda dua biasanya terasa begitu licin. Tapi di atas Qooder, teratasi sempurna. Tak salah jika diklaim aman.


qooder 4 wheel sqooter


Kala menikung pada jalan berpasir di kecepatan agak tinggi, tak jadi masalah. Moncong atau buntutnya tak akan lari kemana-mana. Toh kalau sampai membuang, tetap saja motor kembali berdiri kokoh. Hujan? Jangan khawatir. Kami pun mengujinya sembari diguyur air. Traksi tetap menggigit dengan baik.


Perlu dipahami, jangan bayangkan ketangkasan menikung semudah roda dua. Badan perlu ikut bekerja ekstra membawa sesuai arah, berikut mengembalikan posisi lagi. Agak menguras tenaga. Dan tetap, hasilnya pasti tak selincah motor biasa. Namun untuk ukuran sebesar ini, kami cukup terpukau.


Tapi satu hal yang kami sadari belakangan, kelembutan suspensi tadi optimal jika bekerja masing-masing. Alias ban tidak menginjak obstacle di posisi parallel. Ambil contoh saat melibas speed trap atau polisi tidur yang agak mengotak, bantingan depan maupun belakang pasti terasa agak keras. Padahal shock udara ini disetel dalam keadaan normal. Kami masih belum menemukan jawaban pasti. Namun ada prasangka, karena ia bekerja tanpa dipadu per.


qooder offroad


Melibas Tanah Berbatu


Sesi adaptasi sudah matang. Menggoda kami untuk mentranslasikan di tanah berbatu. Jarak main suspensi itu benar-benar harus dibuktikan ketangguhannya. Dan kami penasaran, seberapa stabil dan menyenangkan ia menyeret tanah.


Tak jauh-jauh. Medan offroad yang kami pilih masih berada di kawasan Serpong. Anda yang sering bermain tanah pasti tahu betul di mana lokasi track ini. Ya, sirkuit yang biasa dipakai motocross menari ria.


Kala menjebloskan ke tanah, kami tak ragu langsung memacu Qooder. Sudah cukup pembuktian di aspal kering, basah, berpasir sekalipun, pasti bisa ditangani. Dan memang benar. Berlari di permukaan tanah makin membuat ia jumawa.


Sembari memelintir gas penuh, tak terasa jarum speedometer sudah di angka 80 kpj. Guncangan benar-benar terminimalisir. Ia ajek saja melayani nafsu sang pemacu motor. Menikung tajam juga masih tergolong akurat. Terasa ada buangan ban belakang atau kadang sedikit mengangkat. Namun ini justru mengasyikan. Yang penting motor tak kunjung roboh.


Ada hal yang kami temukan juga di sesi penyiksaan ini. Jika mesin mulai panas - hingga kipas radiator menyala - CVT mulai getar kala ditahan pada 3.000 rpm. Dan bergulir cukup lama. Rasanya persis seperti Vespa LX pra - iGet di masa lalu. Namun setelah itu, semua berangsur normal.


Test Ride Qooder Oto.com


Tenaga Moderat


Masuk ke sektor teknis, pasti banyak yang berekspektasi ia berjantung besar. Bobotnya saja 281 kg, serta bisa menghela beban maksimal sampai 480 kg. Nyatanya tidak begitu. Kubikasi bersih hanya 399 cc, dengan konfigurasi satu silinder. Catatan daya klaim pabrikan sebesar 32,5 Hp/ 7.000 rpm dan torsi 38,5 Nm pada 5.000 rpm. Angka daya kuda yang sangat besar, jika ia bisa berdiet 100 kg. Tidak. Untuk menghela bobot sebesar itu, angka power-to-weight ratio biasa saja.


Terjemahan di realitas, sebetulnya tak terasa kekurangan. Cukup untuk berjalan normal atau sedikit ingin berlari. Tanjakan curam juga bisa ditaklukan dengan baik. Namun jika menyangka denyut nadinya agresif, sama sekali tidak. Untuk mencapai 100 atau 120 kpj saja membutuhkan waktu dan jarak. Rangsangan daya lebih terasa di putaran tengah. Sementara di bawah dan atas cenderung datar.


Bagaimana konsumsi bahan bakarnya? Kami harus katakan agak boros. Hasil pengujian pertama, dengan kondisi lalu lintas 50 persen lowong dan sisanya macet, menghasilkan angka 15,2 kpl. Metode yang digunakan, mengisi bensin 14 liter penuh dan mengembalikannya lagi ke semula. Sementara putaran gas cenderung statis di putaran rendah, dengan jarak tes sekitar 90 km.


Lantas 155 km berikutnya, kami mencoba gaya berkendara sangat tidak efisien. Campuran kondisi jalan macet dan memelintir gas seenaknya. Sama sekali tidak statis. Dan dalam sesi ini, torehan jarak mengecil lagi, 14,7 kpl. Setara motor gede 600 cc ke atas.


Qooder Test Ride Oto.com


Dua angka itu juga berada di bawah klaim yang menyebut 18 kpl. Namun saat kami tanya lebih lanjut ke pihak Qooder, hasil uji bahan bakar berasal dari data Eropa. Yang tentu saja memiliki kondisi jalan berbeda dengan Jakarta. Jadi, hasil pengujian kami mungkin lebih relevan dengan konsumen di Indonesia.


Urusan sistem transmisi, persis seperti skutik lain. Hanya berbeda jarak pulley dan jumlah. Tapi, material yang digunakan tentu berbeda. Sabuk terbuat dari karbon dengan tekstur runcing untuk masuk ke gerigi. Mirip seperti milik Harley-Davidson. Uniknya, pengakomodiran tenaga disalurkan melalui dua roda. Otomatis, terdapat dua belt, ditugaskan untuk mengerek roda belakang bersamaan.


Ada fakta menarik. Jika sabuk CVT putus di skutik biasa, tamatlah riwayat Anda. Namun pada Qooder, kalau hanya satu yang putus ia masih sanggup berjalan. Meski niscaya tertatih. Setidaknya, masih bisa mencari pertolongan ke tempat yang lebih aman. (Hlm/Odi)


Baca Juga: Test Ride Qooder: Kinerja Empat Roda di Dalam Kota, Praktis? (Part-1)

Jelajahi Qooder Qooder

Qooder Qooder Rp 357 Juta Cicilan : Rp 8,15 Juta

Bandingkan & Rekomendasi

    • Overview
    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Others
    • Kebijakan Privasi
    • S&K
    • Dapatkan di Google Play
    • Tersedia di App Store