Mitsubishi Xpander, 13 Ribu Kilometer Kemudian

Mitsubishi Xpander, 13 Ribu Kilometer Kemudian

Mitsubishi XPander Sport ini kami dapatkan bulan Desember 2017 lalu. Beruntung, kamilah salah satu yang mudah mendapatkan mobil ini. Kini, melewati 14 ribu km, rasanya tidak banyak yang bisa kami ungkap. Yang pasti, mobil ini digunakan setiap hari, dengan jarak tempuh tidak kurang dari 100 km.

xpander sport

Tapi tentu saja, ada kelebihan dan kekurangan yang dirasakan selama enam bulan mengendarainya. Simak terus.

Mesin & Konsumsi BBM

Mitsubishi Xpander dibekali mesin dari keluarga 4A. Tepatnya 4A91, yang juga terpasang di Mitsubishi Colt (hatchback, bukan pikap). Bukan mesin yang paling hening di dunia memang, tapi usaha Mitsubishi untuk meredam suara mesin agar tidak masuk ke kabin cukup untuk diapresiasi.

Firewall (dinding pemisah ruang mesin dan kabin) dibekali peredam yang cukup, sehingga saat dalam kecepatan menjelajah dan putaran tinggi, suaranya tidak bikin pusing kepala atau merusak suara dari sistem hiburan.

odometer xpander

Saat mencapai 10.000 km, pergantian oli (servis) rutin dilakukan di bengkel resmi. Karena kami mengambil opsi paket perawatan berkala Smart Gold, maka tidak ada biaya apapun yang dikeluarkan saat servis ini. Masalah idle up yang sering liar naik turun saat AC berjalan, juga diperbaiki. Hasilnya, stasioner sang Xpander lebih beradab dari sebelumnya.

Konsumsi BBM? Jika memperhatikan MID, konsumsi terbaik adalah 18 km/liter untuk penggunaan luar kota. Sedangkan di dalam kota, ‘baru bisa’ 10,5 km/liter. Dengan catatan, angka terakhir saat kondisi lalu lintas dalam kota Jakarta yang agak lengang.

Pengendaraan & Kenyamanan

Awalnya, pengalaman kami dengan beragam mobil kelas Low MPV, memberikan ekspektasi yang tidak tinggi untuk Mitsubishi Xpander. Dan ekspektasi itu tidak salah. Pengendaraannya sedikit lebih baik dari LMPV berplatform monokok seperti Suzuki Ertiga (generasi pertama) dan Honda Mobilio. Itu pun sepertinya efek psikologis karena Xpander punya kabin lebih lega.

Kenapa? Karena kalau dirasakan betul, Xpander punya kekurangan yang sama dengan yang lain: bunyi suspensi. Perhatikan saat melewati jalan yang tidak rata, ada bunyi ‘gluduk’ halus di kaki depan. Oke, peredamannya mungkin lebih baik dari yang lain. Tapi suara suspensi khas mobil di bawah Rp 300 juta itu juga ada di mobil ini.

kabin xpander

Lalu kenyamanannya bagaimana? Kalau bertanya pada penumpang hingga baris kedua, semua mengakui mobil ini lega. Tapi saat bertanya pada yang duduk di baris ketiga, jawabannya “Sama saja!” maksudnya, baris ketiga tidak jauh beda dengan kompetitor sekelasnya.

Yang cukup mengganggu adalah suara ban yang masuk ke kabin. Solusinya sebetulnya mudah. Ganti ban yang lebih bagus dan mahal. Tapi kata terakhir itu jadi pengganjalnya.

Selebihnya kami tidak mengeluhkan. Setir nyaman digenggam, dengan bobot yang terasa pas. Tidak kosong dan tidak terlalu berat saat mobil sedang dalam kecepatan rendah. Di kecepatan tinggi juga meyakinkan.

Pengendalian

Salah satu manuver favorit kami saat pengujian mobil, membelok di tikungan bersudut menengah, dengan kecepatan antara 50-60 km/jam atau terkadang lebih. Ini juga diterapkan pada Xpander, beberapa hari setelah plat nomor dan STNK diterima.

Saat itu, respons kemudi dan ban patut diacungi jempol. Suspensi bekerja dengan baik. Tapi efek limbung, meski tetap terasa, tapi tidak membuat pengemudinya kehilangan rasa percaya diri. Istilah singkatnya, mobil ini nurut saja diarahkan kemana, tanpa banyak protes.

interior xpander

Beberapa hari sebelum tulisan ini diturunkan, manuver di tempat yang sama kami coba lagi. Respons kemudi dan suspensi tetap sama, tapi ban mulai berteriak minta ampun. Itulah efek umur. Umur ban.

Dari hal itu bisa disimpulkan kalau Mitsubishi Xpander punya karakter pengendalian alami yang mumpuni berkat chassis monokok dan geometri kaki-kaki independen yang digunakannya.

Kendala

Berdasarkan pengamatan, beberapa kendala krusial ada di mobil ini. Pertama masalah idle up tadi. Meski sudah bisa ditangani oleh bengkel resmi Mitsubishi, tapi seharusnya hal ini sejak awal tidak terjadi.

Yang kedua minimnya fitur pendukung. Dan yang kami maksud dengan pendukung ya yang sifatnya minor, tapi kalau tidak ada dicari. Pengunci pintu otomatis yang aktif saat mobi mulai berjalan. Bukan apa-apa, sebagai mobil keluarga, ini cukup dicari bagi mereka yang punya anak kecil. Komunitas Xpander lantas bergerak dengan meminta agar fitur yang sebetulnya ada, hanya tidak diaktifkan ini agar difungsikan. Pihak MMKSI masih mempertimbangkan hal tersebut.

Fitur kedua, sensor parkir. Untuk mobil lebih dari Rp 200 juta (tipe Sport Rp 245 jutaan, harga OTR Jakarta), absennya fitur ini terasa menyebalkan. Apalagi kalau hingga sekarang belum sempat pasang sensor aftermarket.

Ketiga, berdasarkan posting anggota komunitas Xpander di laman media sosial, banyak mengeluhkan shockbreaker yang bocor. Beruntung, milik kami tidak mengalaminya. Tapi cukup membuat was-was, meski hal itu dilindungi oleh garansi pabrik. (Ddn/Odi)

Baca Juga: Bulan Baik Xpander, Posting Foto di IG dan Dapatkan iPhone X

Jelajahi Mitsubishi Xpander

Model Mobil Mitsubishi

  • Mitsubishi Xpander
    Mitsubishi Xpander
  • Mitsubishi Pajero Sport
    Mitsubishi Pajero Sport
  • Mitsubishi Xpander Cross
    Mitsubishi Xpander Cross
  • Mitsubishi Triton
    Mitsubishi Triton
  • Mitsubishi L300
    Mitsubishi L300
  • Mitsubishi Xpander Limited
    Mitsubishi Xpander Limited
  • Mitsubishi Eclipse Cross
    Mitsubishi Eclipse Cross
  • Mitsubishi Outlander PHEV
    Mitsubishi Outlander PHEV
  • Mitsubishi Colt
    Mitsubishi Colt
Mobil Mitsubishi

Coronavirus

Anda mungkin juga tertarik

Video Mobil Mitsubishi Xpander Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Mobil Mitsubishi Xpander

Bandingkan & Rekomendasi

Tren MPV

  • Yang Akan Datang