jakarta-selatan

Toyota Calya G: Usaha Menaikkan Standar LCGC

  • Sep 18, 2016
  • 3453 Dilihat

Solo: Akhirnya kesempatan untuk mencoba mobil ‘heboh of the year’, Toyota Calya, datang juga. Tidak tanggung-tanggung, kami diajak oleh Toyota Astra Motor dan Nasmoco (main dealer Toyota di wilayah Jawa Tengah) untuk berkendara dari Semarang ke Solo yang menempuh jarak kurang lebih 110 km.


Seperti diketahui, Calya adalah mobil yang masuk dalam segmen Low Cost Green Car (LCGC) dengan harga yang paling mahal tidak lebih dari Rp 150 juta untuk tipe G A/T. Dan tipe inilah yang saya kendarai. Jujur saja, sejak berangkat dari Jakarta, ekpektasi yang ditumpukan pada mobil ini tidak teralu tinggi mengingat statusnya sebagai sebuah LCGC.


Calya semarang


Dan berdasarakan pengalaman mengendarai LCGC, mulai dari si kembar Agya/Ayla, Suzuki Karimun Wagon R, Honda Brio Satya, hingga duet Datsun Go dan Go+, rasanya ‘ya gitu, deh’. Apa yang bisa kita harapkan dari sebuah mobil murah? Hanya Brio Satya yang sepertinya mampu memberikan sesuatu yang lebih dengan mesin empat silinder I-VTEC, dan pengendaraanya yang terbaik.


Calya mencoba menjawab tantangan itu, dengan menggabungkan bentuk panjang ala Go+, dengan standar kenyamanan sebuah Brio Satya. Berhasil? Seberapa sukses? Yang jelas lebih dari sekedar ‘ya gitu deh’ tadi.


Desain


Tampak belakang Calya


Toyota sepertinya mencoba untuk memenuhi kegemaran orang Indonesia yang doyan MPV. Sadar bahwa MPV produknya sekarang semakin mahal, dengan menggandeng Daihatsu yang tidak punya pilihan karena Toyota adalah pemilik sahamnya, mereka keluar dengan ide MPV LCGC dengan tempat duduk tujuh penumpang dewasa. Desain eksterior dikerjakan Daihatsu (ingat UFC3?), sedangkan Toyota menyediakan mesin dual VVT-i plus transmisi untuk menggerakan mobil ini.


Desain muka Calya


Platform juga menggunakan yang sudah ada dan digunakan oleh Ayla/Agya, dengan modifikasi tentunya, untuk mengakomodir body yang lebih panjang dan beban muatan yang lebih berat. Secara tampilan, facia Calya sudah menganut bahasa desain Toyota terkini dengan grill yang melebar di bagian bawah, dan lampu utama berbentuk hexagonal.


Bagian belakangnya menegaskan bahwa ini adalah sebuah MPV yang dibuat oleh Toyota Indonesia. Lampu belakang diposisikan vertikal, dengan tambahan reflektor di pintu bagasi. Kalau Anda ingat, Avanza dan Innova juga menganut bentuk lampu dan reflektor seperti ini. Sedangkan jika dilihat dari samping, penampilannya mungkin agak ‘kurus’ karena velg alloy yang kecil , dan jarak antara ban dan bibir fender yang agak jauh. Tapi tidak perlu khawatir soal yang satu ini. Ganti saja velgnya dengan yang lebih besar.


Interior Dan Fitur


Dashboard Calya modern


Nah, ini yang membuat rasa penasaran muncul sejak Calya diperkenalkan di pabrik Daihatsu, awal Agustus 2016 lalu. Sebagai informasi, kami hanya menguji Calya tipe G, dengan transmisi otomatis. Ok, sebagai mobil LCGC, kami harus tutup mata dengan kualitas dashboard dan lebar kabin yang tidak bisa dibanggakan. Namun audio 2DIN dengan kemampuan konektivitas bluetooth adalah hal pertama yang membuat kami kagum.


Meski kami tidak terlalu menyukai sistem resirkulasi udara untuk baris belakang, sebagai pengganti AC double blower, namun sepertinya fitur ini adalah yang paling logis mengingat mesin 1,2 liter yang diusungnya. Anda tentunya paham, kalau menggunakan double blower maka akan ada tambahan beban yang ditimpakan ke mesin, yang berujung tenaga berkurang, dan bahan bakar lebih boros. Jangan lupa, Calya hanya punya tenaga 88 ps.


Solusi untuk mobil bertenaga pas-pasan


Berikutnya adalah penempatan tuas rem tangan yang tidak biasanya. Saat berkendara, meski tidak mengganggu, namun perlu pembiasaan dulu. Jok depan yang dibuat menyambung membuat desainer Calya memutar otak dimana meletakan rem tangan. Model tarik yang ada pada Go+ adalah hal yang kurang disukai karena memang membuat tampilan dashboard kurang rapi dan ‘jadul’. Walhasil, inilah bentuk yang paling mengakomodir semuanya.


Beberapa hal yang kami perhatikan adalah, banyaknya fitur-fitur tersembunyi di mobil ini. Pertama, lampu sein bisa hanya mengedip sebanyak tiga kali, untuk menandakan mobil akan pindah jalur. Jadi saat bermanuver seperti itu, Anda tidak perlu repot mengembalikan lagi tuas lampu sein ke posisi off, karena setelah erkedip tiga kali, seinnya akan mati.


Kedua, banyak yang biasanya lupa mematikan lampu saat meninggalkan mobil, dan mengakibatkan aki tekor. Namun pada Calya, hal ni tidak perlu dikhawatirkan karena ada sistem auto cut off. Lampu Calya akan mati beberapa detik setelah kunci kontak dicabut dan pintu ditutup. Selain itu, hadir juga peringatan audio saat Anda lupa pasang seatbelt. Fitur-fitur ini tidak disebutkan di brosur, dan Anda akan menyadarinya saat membaca manual book.


Satu lagi yang layak dipuji, terutama untuk saya yang ukuran badannya 165 cm adalah posisi duduk saat berkendara. Diluar dugaan, kursinya terasa pas tanpa harus ada pengaturan ketinggian sekalipun. Dan bagi rekan saya yang tingginya diatas rata-rata orang Indonesia pun, dengan memundurkan kursi, menurut pengakuannya, masih cukup nyaman.


Bangku kedua calya


Pindah ke baris kedua. Bangku ini memiliki mekanisme pelipatan praktis dengan hanya menarik satu tuas di sadaran jok, maka segalanya akan terlipat dan memberikan akses ke kursi paling belakang. Bangku baris kedua ini juga selain diberikan pengaturan sandaran (reclining), juga bisa diatur maju mundur untuk memberikan variasi ruang kaki. Yang menarik, sudah ada dudukan kursi ISOFIX untuk bangku balita.


Nah, sekarang yang adalah waktunya untuk sesuatu yang banyak ditanyakan. Bagaimana baris ketiganya? Intinya adalah, orang dewasa bisa duduk disitu. Namun untuk perjalanan jauh, akan terasa melelahkan karena memang ruang yang tersedia tidak bisa dibilang lega. Meski Anda bisa berkompromi dengan yang duduk di baris kedua, untuk melebarkan ruang kaki.


Baris ketiga


Namun yang patut diacungi jempol adalah, tempat ini sudah dibekali dengan seat belt, yang artinya memang dibuat untuk ditempati, bukan sekedar jok ekstra. Dan saat bangku diberdirikan, Anda masih memiliki ruang bagasi untuk paling tidak satu koper ukuran sedang.


Pengendaraan & Pengendalian


MEsin Calya


Pertanyaan sinis pertama yang terlintas adalah, apakah mobil ini bergetar seperti saudaranya yang lebih kecil, Agya? Namun pertanyaan itu langsng sirna karena mesin 3NR-VE memiliki empat silinder, dan mesin seperti ini getarannya tidak akan seperti mesin tiga silinder.


Pertanyaan kedua muncul saat mulai melaju. Dengan body panjang, apakah handlingnya akan limbung? Jawabannya tidak terlalu. Kami katakan tidak terlalu karena gejala ini masih ada. Namun engineer Toyota memasangkan stabilizer bar di suspensi depan dan belakang, sehingga kestabilan meningkat signifikan. Namun patut diketahui, stabilizer depan dan belakang hanya hadir di Calya tipe G. Calya Tipe E hanya mendapatkan stabilizer di depan.


Peredaman suspensi saat diisi empat orang plus barang, terbilang cukup baik. Dari luar mungkin Anda akan melihat mobil ini seperti terangkat di bagian depan karena diisi beban, namun terus terang saja, rasanya masih cukup baik dalam hal pengendalian. Hal ini kami rasakan setelah lepas dari tol Bawen dan mulai memasuki jalan biasa yang tidak bisa dibilang rata. Bantingannya masih bisa dibilang wajar, meski tidak bisa juga dibilang istimewa.


Kemudi dengan sistem Electronic Power Steering memberikan bobot yang cukup baik saat bermanuver di berbagai tingkat kecepatan. Meski minim feedback, namun pergerakannya cukup baik. Saat parkir, terasa ringan, dan agak memberat ketika melaju di kecepatan tinggi.


Yang kami salut adalah peredaman suara. Toyota membubuhkan karet yang cukup tebal di bagian pintu, untuk meredam suara dari luar. Hal tersebut adalah salah satu usaha untuk membuat kabin terasa lebih nyaman. Meski Anda masih akan bisa mendengar suara mesin saat mobil sedang dipacu, namun peredaman ini masih terasa lebih baik dari Avanza.


Kesimpulan


Test Calya


Jujur, kami tidak sempat melakukan uji BBM karena rombongan yang bergerak cepat dan kondisi mobil yang terisi penuh. Di MID yang ada di hadapan pengemudi, angka terbaik yang bisa kami dapatkan hanyalah 8,8 kpl. Namun sekali lagi, harap diingat, kami berkendara dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang pelan, plus mobil terisi penuh.


Satu hal yang ingin disampaikan adalah, Toyota (dan Daihatsu) sepertinya sedang mencoba untuk menaikan standar LCGC, ke tingkat yang lebih tinggi dengan apa yang ditawarkan oleh Calya. Fitur-fitur yang lengkap, pengendaraan yang nyaman, dan mesin canggih dengan Dual VVTi, membuktikan bahwa LCGC juga harus manusiawi, bukan asal ada mesin, jok, roda, dan bisa jalan.


Ok-lah, ada beberapa hal yang kurang di mobil ini seperti tuas transmisi yang perpindahannya terlalu enteng, sehingga dari posisi N, kadang bisa ‘bablas’ hingga D2. Atau absennya lampu rem tengah, sehingga membuat pengendara belakang kurang awas.


Namun dengan kehadiran rem ABS, imobilizer, dual airbag, seatbelt untuk tujuh penumpang, hingga ISOFIX, dan fitur-fitur kenyamanan seperti headunit dengan kemampuan sambungan Bluetooth, seolah membuat Calya mengukuhkan diri sebagai LCGC dengan fitur keamanan dan keselamatan tertinggi di kelasnya.


Pekerjaan rumah Toyota ini hanyalah tinggal mempertahankan dan meningkatkan kualitas beberapa hal seperti material interior, dan melayani konsumennya sebaik mungkin untuk mempertahankan nilai mobil ini. Tertarik? Jujur saja, saya sangat tertarik.


Spesifikasi Calya



Foto: Toyota

Shares

Video Toyota Calya

Lihat video terbaru Toyota Calya untuk mengetahui interior, eksterior, performa, dan lainnya.

Mobil Pilihan

  • Populer
  • Terbaru
  • Yang Akan Datang
  • Komparasi
Pilih kota untuk memulai pencarian
Atau pilih dari daftar kota populer