jakarta-selatan

Kisah RSV Helmet, Ditolak Ratusan Toko Helm Hingga Masuk Moto2

  • 25 Jun, 2019
  • 1388 Kali Dilihat

RSV, salah satu merek helm lokal yang sedang naik daun. Meski bisa dikatakan pemain baru, helm karya anak bangsa ini, sudah mengantongi prestasi internasional. Tim balap Gresini Moto2, tahun lalu menggaet RSV menjadi helm resmi merchandise untuk tim mereka. Hingga tiga bulan terakhir, RSV Helmet sudah mulai ekspor ke Filipina.


Padahal, RSV Helmet pernah punya pengalaman pahit. “Keberhasilan yang kami capai sekarang tidak semudah apa yang orang bayangkan. Kami punya sejarah panjang yang pahit dalam membangun brand RSV ini,” ucap salah satu owner RSV Helmet, Ilham Pratama, di sela acara peresmian flagship store di Bekasi, Minggu (23/6).



Ia menceritakan terciptanya RSV berawal dari bisnis repaint helm pada 2012. Ilham bersama Richard, yang saat ini menjadi Executive Director RSV Helmet, menjajakan repaint helm di Jakarta. “Hanya selang satu tahun enam bulan, omsetnya mencapai Rp 300 jutaan. Karena saat itu pemain repaint helm masih jarang dan permintaan terus membludak,” ceritanya.


Setelah repaint, Richard dan Ilham mengganti bisnis produksi helm untuk corporate pada 2013. “Menurut kami, bisnis corporate, saat itu sangat menjanjikan. Sampai pada 2015, kami mendapatkan orderan dari salah satu ojek online. Itu yang menjadi batu locantan bisnis,” tambah Richard.


Dirasa berat karena banyaknya permintaan, akhirnya Ilham dan Richard memutuskan untuk menciptakan brand sendiri. Maka tercetuslah nama RSV. Bagi Ilham, nama RSV sendiri juga punya kisah sendiri. “Nama RSV diambil dari motor saya (Aprilia) RSV4. Yang terlintas tiga huruf itu, karena gampang dibaca,” jelas pria asal Bandung.


Lanjut Ilham mengisahkan, ada pengalaman pahit saat baru membangun RSV. “Jalur distibusi pertama dilakukan ke toko-toko helm. Di 2015, kami masuk ke hampir 466 store konvensional di Jabodetabek dan Jawa Barat. Kami menawarkan consignment untuk setiap toko. Selama 8 bulan ternyata tidak membuahkan hasil. Bahkan, ada ratusan toko yang menolak. Malahan, mereka ada menjawab tidak ada tempat untuk helm lagi. Sampai pada akhirnya, kami mulai cara distribusi lain, berjualan secara online,” ungkapnya.


Logo Bendera Itali



Helm produksi Balaraja, Tangerang ini, memiliki banyak keunggulan : desain, grafis yang sporty, bobot helm ringan serta harga yang terjangkau. Kendati asli buatan Indonesia, banyak yang bertanya mengapa ada logo kecil gambar bendera Itali di bawah tulisan RSV, kenapa bukan bendera merah putih? Lantas, apakah penggunaan bendera Italia itu menunjukkan pemiliknya tidak nasionalis?


Ilham Pratama angkat bicara. Ia menjelaskan penggunaan gambar bendera Italia bukan soal nasionalisme. “Ini karena awal mulanya saya pengguna motor RSV4. Pakai bendera Itali karena motornya berasal dari Italia. Selain itu, agar memudahkan RSV Helmet penetrasi ke pasar ekspor," katanya.


Ia pun tidak khawatir dengan merek yang dia pakai berasal dari Italia. RSV Helmet dipatenkan sejak 2016 bersamaan dengan tahun RSV di launching ke publik. "Adanya bendera Italia juga tidak apa-apa karena motornya kan juga dari sana," ujarnya.


Ricard Ryan menambahkan, kalau dari segi marketing, penggunaan bendera Italia, untuk menarik perhatian konsumen. “Selama ini banyak persepsi di masyarakat bahwa produk buatan lokal itu dipandang jelek dibandingkan produk luar. Yang penting konsumen itu pegang dulu barangnya. Setelah pegang, ia tahu kualitasnya bukan abal-abal lolos SNI," ujarnya.


Selain itu, jika dari segi desain, ketiga warna itu memiliki arti tersendiri. "Warna hijau mengambarkan tanah pasundan, warna putih dinamis dan warna merah menunjukkan kami siap bersaing," kata Dani yang menjadi desainer. (Bgx/Van)


Baca Juga: NHK Versi Jakub Kornfeil Meluncur, Harganya Murah Meriah

Galeri

kali dibagikan

Promo Populer di Jakarta Selatan

Motor Populer

  • Populer
  • Terbaru
  • Yang Akan Datang
  • Komparasi