jakarta-selatan

MotoGP: Jakub Kornfeil Berujar, Mau Jadi Pembalap Harus Kaya

  • 25 Jun, 2019
  • 677 Kali Dilihat

Ialah jagoan tim Prustel Redox dari Ceko, yang berlaga di kelas GP Moto3. Jakub Kornfeil, yang hadir pada peluncuran helm NHK, pengguna helm NHK GPR Tech, pada ajang kompetisi kelas dunia. Dalam waktu yang terbatas, beruntung masih mendapat kesempatan berbincang langsung dengannya. Setelah berkenalan dan bertegur sapa, tanpa basa-basi kami langsung sodorkan sejumlah pertanyaan seputar dunia balap.



Bagaimana balapan Anda musim ini?


“Jujur, musim balapan ini performanya kurang baik. Namun jika bisa dapat podium sekali saja, posisi delapan besar cukup mudah diraih, kalau dilihat dari perhitungan poin. Sekarang saya berada di posisi 17. Sementara pengalaman berkendara para pembalap yang berposisi di depan dan belakang kurang lebih sama. Mestinya bukan masalah besar. Problemnya justru ada di tim, namun saya tak ingin bicara banyak mengenai ini,” ujarnya.


Menurut Anda, bagian apa yang paling menarik dari track? Lalu hal apa yang merupakan fundamental dalam persiapan balap?


“Bagian paling menarik tentu saja saat bermanuver di tikungan. Pada track lurus, semua pembalap bisa dibilang sama saja. Kompetisi ini seluruhnya bergantung pada momen menikung. Dari perspektif pembalap, kemampuan berlaga dalam mengendalikan motor baru bisa terlihat di sana. Kalau mengenai persiapan, semuanya harus seimbang. Istilahnya, fifty-fifty. Motor berikut mesin dan kinerjanya harus disiapkan sempurna. Begitu juga perangkat keamanan tubuh, kerja sama tim dan seluruh yang berkontribusi perlu dipikirkan matang-matang. Tak ada hal yang paling penting, semuanya krusial,” kata Kornfeil.


Lantas, bagaimana jika ingin memulai balapan motor? Kapan waktu yang tepat dan adakah Tips Khusus?


“Alangkah lebih baik, mulai kendarai motor sejak usia muda. Saya sendiri, pertama kali mencoba roda dua di usia lima tahun. Mungkin lebih baik lagi saat memulainya di usia tiga atau empat tahun. Semakin cepat memulai semakin baik hasilnya. Ini untuk mengasah kemampuan mengendaliakan motor, hingga terasa sangat familiar. Tentu hal ini harus dilakukan dengan konsisten. Motor dan tubuh kita adalah dua elemen yang bekerja secara bersamaan. Apalagi saat balapan. Keduanya perlu sinkronisasi. Semakin kuat ikatannya, semakin baik output yang dihasilkan,” menurutnya.



“Selain itu, ada hal yang juga penting. Dukungan finansial orangtua sangatlah berpengaruh. Ya, tidak seperti sepak bola. Cukup dengan membeli sepatu Anda bisa langsung bermain di lapangan dan jadi atlet. Ini jauh berbeda. Dunia balap, termasuk motor membutuhkan uang yang cukup menguras kantong. Mulai dari beli motornya, segala perangkat penunjang dan banyak hal lagi. Saat sudah serius, sponsor tentunya berperan penting,” katanya.


Kami cukup setuju dengan pernyataan ini. Mungkin hanya segelintir orang beruntung bisa ikut ajang balapan tanpa keluar banyak modal. Di usia dini, siapa yang bersedia memberikan modal selain orang tua? Anda tak langsung tiba-tiba jadi jagoan tanpa latihan. Sementara untuk memulai punya motor dan ikut latihan itu sendiri, cukup menelan biaya. Tak mungkin sponsor secara suka rela datang. Kecuali relasi Anda cukup kuat. Ini salah satu kekurangan motorsport. Diakui atau tidak, mayoritas yang bisa berlaga dan menikmati hanya kaum berduit.


Terakhir, motor apa yang Anda miliki dan kendarai sehari-hari?


“Ada sebuah skuter 150cc dan motor cross KTM 250cc bermesin 2-stroke. Hanya itu yang saya punya. Tapi, jarang sekali digunakan. Mungkin agak aneh mendengarnya. Hanya saja, saya takut untuk naik motor di jalan raya. Hal itu agak berbahaya. Justru sehari-hari lebih sering mengemudikan mobil.”


Sebuah fakta menarik, ternyata seorang pembalap dunia malah takut mengendarai motor di jalanan. Menurutnya, lalu lintas sangat berbahaya dan banyak orang mengemudikan kendaraan asal-asalan.


Lantas, mobil apa yang dikendarainya?


“Karena disponsori juga oleh BMW, tentu saja saya menggunakan produk pabrikan Jerman itu. Yang pertama ada seri 3 dengan M-Package tentunya. Lalu satu lagi Seri 4 Gran Coupe. Keduanya merupakan mobil yang cukup kencang dan nyaman,” tutup Kornfeil. (Hlm/Van)

kali dibagikan

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Motor Terbaru di Oto
  • Honda ADV 150 | Test Ride | Nanjak...
    • 07 Sep, 2019
    •  
  • Honda Genio | Bike Review | Ini kelebihan...
    • 30 Agt, 2019
    •  
  • Yamaha MT-15 | Test Ride | Punya Banyak...
    • 29 Agt, 2019
    •  
  • Honda ADV 150 vs Yamaha NMAX | Bike...
    • 20 Agt, 2019
    •  
  • Lambretta V125 Special | Test Ride | Klasik,...
    • 14 Agt, 2019
    •  
  • Honda Monkey | First Impression | Berapa Harganya...
    • 25 Jul, 2019
    •  

Motor Populer

  • Populer
  • Terbaru
  • Yang Akan Datang
  • Komparasi