jakarta-selatan

Test Ride Lambretta V125 Special: Menari Bersama Skutik Nyentrik Part - 1

  • 03 Agt, 2019
  • 410 Kali Dilihat

Absen puluhan tahun, Lambretta akhirnya kembali dengan ragam modernisasi. Eksistensinya mengundang tanya, siapa saja yang berpapasan. Ya, banyak orang yang menyambut positif, bernostalgia dengan memori di masa lalu.


Saya diberi kesempatan mengakrabkan diri selama kurang lebih satu minggu dengan Lambretta V125 Special. Ialah varian mesin terkecil yang masuk ke Indonesia, di samping V200. Katanya, motor ini bisa menelan sedikit bahan bakar untuk melaju jauh. Bobotnya juga ringan, mudah dikendarai dan handling impresif. Benarkah seperti itu? Inilah ulasan V125 secara berurut, mulai dari aspek yang terunggul hingga kelemahan motor ini.


Pengendalian



Handling V125 memang impresif. Sangat menyenangkan menari-nari bersama-sama skutik fashionable satu ini. Selama pengujian, motor diajak melalui carut marutnya jalanan Ibu Kota. Rasanya mudah sekali mengendalikannya. Selain bobotnya cukup ringan, memang racikan rangka serta suspensinya cenderung rigid. Bukan cuma andal di kemacetan, saat menikung tajam di kecepatan tinggi, ia menuruti kemauan saya. Jangan bayangkan seperti motor sport. Untuk ukuran skuter bergaya klasik, rasanya ini yang paling agresif di tikungan.


Bagaimana bisa? Besar kemungkinan, semuanya berkat konstruksi rangka tubular. Plus, penempatan mesin selaras bentangan tulang. Alhasil, titik berat berpusat di sana. Peran suspensi teleskopik di depan juga punya karakter kaku. Pun sama halnya, shock breaker tunggal di belakang. Selain konstruksi, Lambretta juga membalut pelek dengan ban Pirelli Angle Scooter 12 inci, berprofil 110/70 (depan) dan 120/70 (belakang). Makanya semakin terasa gigit di aspal mulus. Ya, saat mulai didistribusi ke konsumen, mereka memastikan pakai ban yang sama.


Selanjutnya, posisi duduk dan stang juga memengaruhi. Bagian ini, untuk postur tubuh 170cm tergolong ergonomis. Handle bar ringan diletakkan agak rendah ketimbang Vespa, hingga tangan lurus ke depan. Tidak menggantung. Dek bawah juga cukup tinggi, menunjang pijakan kaki sempurna. Perlu dicatat, mungkin yang memiliki postur di atas 180cm perlu mencobanya terlebih dulu. Bisa jadi dek tinggi itu membuat Anda sedikit jongkok, belum lagi luasannya tidak begitu besar.


Rigiditas motor bukan berarti tanpa kekurangan. Saat menerjang speed trap atau lubang dengan ritme berdekatan, stang terasa mantul-mantul. Tapi kalau menginjaknya secara perlahan dan temponya pelan, kualitas redaman masih terbilang baik. Secara keseluruhan, bisa ditolerir.


Pengereman



Bisa dibilang, sektor ini menjadi kelebihan sekaligus kekurangan V125. Menariknya, cakram sudah tersemat di kedua roda. Masing-masing berukuran 226mm di depan dan 220mm di belakang. Sebuah keunggulan yang tak dimiliki Sprint maupun Primavera. Sayangnya, tak satupun diberi sensor ABS. Memang, performa rem Combi Brake System (CBS) sudah cukup baik. Laju motor terhela tanpa perlu usaha ekstra. Instan. Tapi untuk harga segini, setidaknya satu sensor ABS di depan terpasanglah. Risiko ban terkunci saat pengereman keras selalu ada, baik di motor yang tidak terlalu kencang sekalipun.


Performa Mesin



Ini salah satu kelemahan V125. Tarikan awalnya menurut saya lemot. Transisi tenaga ke roda juga memiliki sedikit jeda, CVT-nya kurang responsif. Makanya, lebih nikmat jika membuka gas agak banyak. Saat putaran 6.500rpm ke atas mesinnya baru merespons dan meraung. Seketika ia melesat. Tapi itupun tak lama, mulai di 80kpj, semuanya melemas.


Dari catatan pabrik, V125 memangku mesin 124,7cc satu silinder buatan SYM. Tenaga puncaknya sebesar 10HP/8.500rpm dan torsi 9,2Nm/7.000rpm. Standar. Kompresinya sendiri berada di angka 10,7:1. Kalau dari catatan brosur, mengharuskannya meminum oktan 95 atau sekelas Pertamax Plus. Namun sebetulnya, rasio kompresi segitu masih sanggup meminum oktan 92 (Pertamax). Selama pengujian pun saya mengisi Pertamax, sesuai arahan Adrianus Donny, bos Lambretta Indonesia.


Bicara bahan bakar, V125 ini tergolong irit di kelasnya (Vespa, Peugeot Django). Hasil pengujian kami sejauh 172km, bensin yang dihabiskan sekitar 5,5 liter saja. Atau jika dikerucutkan, satu liter bensin sanggup melaju hingga 31,2km. Dengan catatan, rute yang dipilih sering kali macet, dan saya gemar sekali membuka gas agak banyak saat jalanan kosong. Pokoknya, tidak sedikitpun mencoba menjaga efisiensi berkendara. Ya, selisih sedikit dari klaim di angka 1/35km. Mungkin kalau tangan saya “disekolahkan”, bisa mencapai titik itu. (Hlm/Van)


Bersambung ke Part 2


 

kali dibagikan

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Lambretta V125 Special

Lihat video terbaru Lambretta V125 Special untuk mengetahui bagaiamana mesin, desain, konsumsi BBM, performa & lainnya.

Motor Lambretta Pilihan

  • Populer
  • Komparasi