Maximum Trip Nissan Kicks e-Power Part - 3: Intelejensia Mobil Seharga Rp 449 Juta

Gambar
Review Pengguna

Sampai mana Nissan Kicks e-Power dengan satu tangki bahan bakarnya bisa melaju? Apakah fitur-fitur cerdasnya dapat membantu Crossover baru ini menjelajah sejauh mungkin? Kami sampaikan jawabannya dalam artikel penutup ini.

Bagaimana Teknologi Cerdas Membantu?

Nissan tak setengah-setengah membenamkan teknologi tercanggihnya pada Kicks e-Power. Versi yang dijual di Indonesia merupakan varian tertinggi yang diimpor dari Thailand. Seluruh fitur pendukung nan cerdas disematkan baik itu untuk sektor keamanan maupun kenyamanan berkendara.

Nissan kicks safety

 

Dalam pengujian Maximum Trip, tentu saja fitur kenyamanan berkendara yang banyak kami gunakan. Intelligence cruise control (ICC) misalnya, fitur pemandu kecepatan ini kami manfaatkan tak kurang dari 50 persen perjalanan. Tujuannya, untuk menjaga stamina dan sambil menjajal keunggulan teknologinya.

Setelah Kami menyalakan cruise control, kecepatan Kicks e-Power akan dijaga. Begitu ada mobil di depan yang lebih lambat, sistem cerdasnya akan menyesuaikan pergerakkan dan menjaga dalam jarak aman yang Anda setel. Kami bilang setel, karena jarak dengan kendaraan di depan bisa diatur dalam tiga level. Pengamatan kami, jaraknya berada di kisaran 100 hingga 150 meter.

Ketika mobil depan berpindah lajur, atau Anda berpindah ke lajur kosong, maka kecepatan akan kembali ke level semula. Kicks bahkan akan mengikuti pergerakkan mobil di depan hingga hampir berhenti dan bisa melaju lagi jika kendaraan di depan tidak berhenti sepenuhnya. Kalau kendaraan depan berhenti, dan Anda masih belum memijak pedal, maka rem akan diambil alih oleh sistem. Sistem ini memang bukan sepenuhnya baru, tapi di kelasnya (Crossover SUV ringkas), ia jadi yang pertama.

Berada di kemacetan tol trans jawa dengan tingkat konsentrasi yang mulai rendah akibat kelelahan juga jadi pengalaman baru di Nissan Kicks e-Power. Sistem Safety Shield yang tersusun atas Intelligent forward collision system (IFCW), memberi peringatan lewat bunyi dan notifikasi di panel MID ketika kendaraan di depan berhenti mendadak. Peringatanya tervisualisasi dengan cukup vulgar. Untungnya kami segera mengikuti dengan pengereman. Jika tidak, mobil yang akan mengambil alih pengereman (intelligent emergency braking - IEB). IEB tentu aman saat mengambil tindakan pengereman, namun kami tak berani mengujinya di jalanan aktif.

Pengendaraan Murni Mobil Listrik

Klaim Nissan ini memang sukses kami buktikan. Bahwa pengendaraan, sangat khas mobil listrik. Tenaga terproduksi dengan mudah, torsi apalagi, melejit dengan instan. Jumlah 260 Nm yang biasanya hanya bisa ditemukan pada mesin-mesin mobil besar ataupun sedan mewah, tersedia di sini. Dan sekali lagi, sejumlah torsi itu bisa diproduksi sekejap, begitulah motor elektrik menghasilkan daya.

Nissan Kicks e-Power

Akselerasi awalnya mantap, rasa instan itu yang mengingatkan kami bahwa ini adalah mobil listrik. Mencapai kecepatan tinggi, sangat mudah di mobil ini. Kalau saja mesin tak lantas menggerung, tanda ia aktif mengisi daya baterai, kami akan lupa bahwa Kicks adalah mobil hybrid.

Salah satu ciri mobil listrik juga, adalah ketiadaan girboksnya. Nissan Kicks e-Power pun demikian, lantaran motor, langsung berhubungan ke roda via reduction gear yang tak berarti banyak dalam transformasi tenaga.

Karakter khas mobil listrik lainnya adalah terlalu mudahnya ia untuk dikendarai. Bermanuver saat akan parkir, terasa sangat gampang dan ringan baik itu di setir, maupun di pedal. Bagi sebagian kalangan petrol head, ini akan jadi sangat tidak natural. Tapi untuk pengemudi pemula, ini adalah sebuah keasyikkan.

Catatan menarik kami, adalah baterainya. Awalnya kami sempat sangsi dengan kapasitasnya yang cuma 1,48 kWh (5 aH, 296 volt). Kecil sekali, hanya sekitar 3 persen dari mobil listrik murni yang bisa mencapai 40-42 kWh. Grafik pengisian energi baterai pun terlihat mudah naik turun jika kita ajak mobil berakselerasi dan deselerasi di jalan tol.

Namun hal ini justru akan jadi keuntungan bagi pemilik di masa depan. Baterai lithium ion yang berada di bawah bangku pengemudi ini tak jadi penambah bobot berlebih. Bayangkan, berat kotor total Kicks e-Power, hanya 1.300 kg (sumber Nissan Thailand dan Singapura). Jika terbebani baterai 40 kWh, bisa saja ia membengkak hingga hampir 2 ton seperti Leaf.

Kapasitas baterai yang kecil itu juga bisa memperingan biaya penggantian baterai Kicks e-Power, jika nantinya masa garansi sudah habis. Dari narasumber kami di Institut Teknologi Surabaya (ITS), harga baterai lithium, akan makin mahal bergantung dengan kapasitsasnya. Kami tak akan heran, jika nantinya konsumen mobil ini, hanya dikenakan biaya Rp 5-15 juta untuk membeli baterai lithiumnya.

Tetes Bensin Penghabisan

Sungguh kesal rasanya mengendarai mobil ini untuk menghabiskan bensinnya. Sedari Semarang, kami sudah lumayan was-was dengan jarak tempuhnya. Pasalnya, ia sudah menunjukkan jarak tempuh hanya 300an km. Estimasi kami, ia akan habis lepas dari Solo. Ternyata, seiring jalan menurun di tol daerah Salatiga, range tersebut malah bertambah. Prediksi kami pun gugur.

Nissan Kicks e-Power

Ya, sang baterai lithium ternyata terus menerus dapat pasokan energi dari jalan yang menurun. Alhasil, bensin untuk mesin pun awet dan jarak tempuh bertambah. Mendekati Solo, meter bensin sudah berada di titik merah alias terendah. Kamipun memilih ke luar tol sejenak untuk mengisi galon untuk tangki cadangan sekaligus istirahat agar siap menghadapi proses matinya mesin di tengah tol.

Dari Solo, range sudah menunjukkan jarak yang bisa ditempuh adalah 220 km. Estimasi kami, Kicks e-Power akan mati di tol wilayah Mojokerto. Ternyata, begitu masuk Jawa Timur, tepatnya setelah Ngawi, range tersisa hanya 80 km lagi dengan total trip sudah mencapai 634 km. Di situ notifikasi untuk mengisi bensin pun menyala.

Dari pengalaman kami, sedari notifikasi bensin menyala, mobil masih bisa berjalan antara 50-100 km tergantung konfigurasi tangki dan kapasitas mesin. Ada yang unik sedari notifikasi bensin menyala. MID digital penuh warna berukuran 7 inci Kicks e-Power, yang kami setel untuk menyajikan proses sirkulasi energi, menunjukkan bahwa sistem mengoptimalkan kerja baterai dan motor saja. Mesin hanya sesekali hidup untuk mengolah bensin jadi energi listrik. Nampaknya sistem e-Power bekerja lebih efisien begitu masuk level ini.

Sialnya, begitu masuk jarak 674 km, range kilometer hilang dari MID. Berapa jarak yang bisa ditempuh mobil, sudah tidak terukur lagi oleh sistem. Bensin pun menyusul sampai di garis 0 panel, saat kami melintasi 710 km.

Dari situ, kami masuk mode siaga untuk menepi kapanpun. Hal ini perlu kami lakukan karena cukup bahaya jika harus berhenti di tol dan mengisi bahan bakar, waspada pun diperlukan. Tentunya sambil merasakan sensasi apa yang akan ditimbulkan mobil ketika ia akhirnya tak bisa lagi memproduksi energi bagi baterai.

Lepas dari Mojokerto, dalam kondisi sudah sangat lelah karena meningkatkan kewaspadaan, Kicks e-Power tak menunjukkan tanda-tanda kehabisan bensin. Maklum, mesin memang tidak terhubung dengan pengemudi secara langsung. Jadi efek brebet yang bisa dirasakan di pedal ketika bensin mulai habis, tak terasa sama sekali. Karena Surabaya sudah cukup dekat, kami memutuskan keluar dari tol.

Ternyata keputusan ini tak sepenuhnya benar. e-Power malah kian hemat diajak melaju stop and go di perkotaan. Kamipun mengarahkan ia ke Madura, menyebrangi jembatan terpanjang di Tanah Air, Suramadu. Dan akhirnya, di atas jembatan, tepat begitu melewati titik tertinggi di jalur itu, sistem e-Power mati. Posisi tuas pun otomatis berubah ke Netral (N) dan mobil melaju dengan sisa momentum geraknya. Baterai kami lihat terjaga di level setengah. Begitu mobil berhasil diam di posisi aman, kami konfirmasi dengan mencoba menyalakannya kembali. Ia tak mau menyala.

Nissan Kicks e-Power

785,6 km dari Jakarta, hampir 11 jam berkendara, 150 km lebih dari notifikasi pertama bensin habis, mobil akhirnya mati di atas Jembatan Suramadu. Hanya beberapa puluh meter dari tanah Madura. Maximum Trip bersama Nissan Kicks e-Power pun selesai di sana.

Kesimpulan

Dengan metode pengujian Maximum Trip (baca cara pengetesannya di sini), konsumsi bahan bakar rata-rata yang didapat adalah 19,14 kpl (785,6 km : 41 liter tangki). Angka itu persis sama dengan yang ditampilkan MID, 19,1 kpl dengan kecepatan rata-rata 72 kpj. Penilaian kami, irit! 

Nissan Kicks e-Power

 

Boleh dibilang Nissan sukses untuk menyajikan kendaraan berpenggerak listrik yang tak perlu takut dikendarai ke manapun lewat sistem e-Power pada Kicks. Kami tak perlu khawatir mencari infrastruktur pengecasan, karena ia membawa generator sendiri, mesin 1.200 cc 3-silinder dengan kapasitas tangki 41 liter, yang bisa membawa Anda hingga lebih dari 700 km.

Apakah figur itu menarik? Tentu saja. Range tersebut biasanya hanya bisa ditempuh mobil bermesin konvensional 2.000 cc dengan tangki 50-60 liter.

Namun, bagi kami bukan hanya jarak tempuh ini saja yang mewarnai Maximum Trip kali ini. Jargon Nissan bahwa Kicks e-Power menyajikan sensasi berkendara mobil listrik, memang benar. Bahkan jika boleh memberi pandangan lain, ia adalah mobil listrik, secara teknis penggerak. Rasa berkendara mobil listriknya bagi kami bukan cuma sensasi, namun karakter yang sama, seperti mobil listrik Nissan Leaf.

Nissan Kicks e-Power

Dengan paket harga Rp 449 juta, tentu Kicks e-Power bisa disebut sebagai pilihan berharga terjangkau bagi sebuah kendaraan yang bisa menyajikan keunggulan mobil listrik, tapi tetap bisa diajak bertualang sambil masih mengandalkan bahan bakar fosil yang mudah dibeli di manapun. (Van)

Baca Juga Part - 1, Menguji Efisiensi e-Power Nissan Kicks

Baca Juga Part - 2, Sehebat Apa Crossover Ini?

Jelajahi Nissan Kicks e-Power

Bandingkan & Rekomendasi