Kiprah Motor Pejantan Honda, dari GL Series sampai MegaPro (Part-1)

Kiprah Motor Pejantan Honda, dari GL Series sampai MegaPro (Part-1)

Sebelum era skutik seperti sekarang, motor laki bertransmisi manual dan murah harganya adalah pilihan realistis. Praktis digunakan, multifungsi, dan mudah perawatannya adalah jargon utama. Di antara banyak model yang sempat beredar, Honda GL Series sampai MegaPro sempat punya catatan menarik. Berikut kisahnya.

GL-Series

Sejarah Honda GL

Honda GL pertama kali muncul di ranah otomotif Tanah Air pada 1979. Ia hadir untuk menjadi pendamping CB series. Datang dengan 2 kapasitas mesin yang berbeda, 100 cc dan 125 cc. Mesin yang digunakan mirip dengan CB 100, karena masih pakai pengapian platina. Tapi, terasa berbeda ketika engine dinyalakan, suara mesin lebih halus dan bertenaga. Saat itu, GL 100 dan CB 100 bagaikan dua saudara yang hidup berdampingan. Meski sama-sama mengusung mesin 4-tak, mereka punya pasar masing-masing. Sejak kemunculannya, otomatis persaingan dengan para kompetitor yang masih bertahan dengan mesin 2-tak makin ramai. Sebut saja Suzuki GP100 dan Yamaha RX100.

Sejarah di balik penamaan GL, merupakan singkatan dari Gin Linamoto, seorang kesatria samurai di era 1876-1877,  kakek moyang pendiri Honda, Soichiro Honda. Sebagai bentuk penghormatan, Soichiro Honda terinspirasi memakai inisial “GL” untuk nama mesin motor buatannya. Sebelum lahirnya GL series di Indonesia, lebih dulu ada GL 1000 yang dikenal sebagai Honda Gold Wing. Varian GL lainnya menyusul pada 1975, yakni GL 1200 dan GL 1500. Sayang, GL dengan kubikasi besar itu tidak masuk ke Indonesia.

Desain awal Honda GL 100 dan GL 125 identik dengan CB series. Speedometer, tachometer, spion, lampu depan maupun belakang berbentuk bulat. Sein belakang tertempel di sepatbor dan rem depan sudah memakai cakram, tetapi masih gunakan kabel alias mekanis. Mesinnya 1 silinder OHC, pendingin udara, karburator, manual 5 percepatan. Tangki dapat menampung 11,5 liter bahan bakar. Keduanya hanya beda ukuran bore x stroke saja. Model tidak berubah hingga 1981. Kemudian mengalami perubahan setiap tahunnya mulai 1982. Untuk varian GL 125, ternyata saat itu kurang diminati. Penjualannya masih kalah dengan yang kapasitas 100 cc.

Masuk 1982, versi facelift meluncur. Generasi ini lebih dikenal dengan sebutan GL 100 CDI. Sesuai namanya, mendapat ubahan di sistem pengapian. Semula menggunakan platina, diganti menjadi CDI. Ada perubahan sedikit dari desain. Lampu utama, panel indikator, sein, dan spion wujudnya kotak, tidak lagi bulat. Dudukan lampu belakang yang menjadi satu dengan lampu sein, turut mengotak. Isi panel indikatornya lengkap (tachometer, fuel meter, netral, turn lamp), dan rem depan sudah cakram. Karburator juga mendapat update dengan penambahan teknologi TPFC (Transient Power Fuel Control System).

Perubahan selanjutnya terjadi pada 1985. Muncul varian baru, Honda GL Max berkapasitas 125 cc dan Honda GL Pro berkapasitas 145 cc. Keduanya hadir untuk menggantikan GL 125 yang dihentikan produksinya. Sedang GL 100 masih lanjut hingga 1994.

Kemunculan GL Max 125 dimulai dari seri platina. Disebut sebagai versi revisi dari Honda GL 125. Desainnya bisa dibilang lebih kekar dibanding GL 100/125. Powernya diklaim lebih dahsyat dari model terdahulu. Kemudian muncul generasi selanjutnya GL Max CDI engine, dan disusul GL Max Black Engine pada 1987. Model ini bertahan sampai 1994 dan dilanjutkan oleh generasi terbaru, GL Max Neotech tahun 1995. Motor bermesin 4-tak, OHC, 124,1 cc ini menjadi generasi terakhir GL Max hingga memasuki milenium ketiga. Dan 2005 menjadi tahun terakhir masa baktinya. (Bgx/Van)

Baca Juga: Evolusi Honda Monkey Jadi Gorilla

Anda mungkin juga tertarik

  • Yang Akan Datang

Video Motor Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Motor