• Wishlist

Tak Hanya Indonesia, Taiwan juga Stop Inden Suzuki Jimny

Tak Hanya Indonesia, Taiwan juga Stop Inden Suzuki Jimny

Jalur pemesanan Jimny dihentikan Suzuki Indonesia. SUV ikonik ini kebanjiran order, bahkan pabrikan berlambang S itu tak mampu memenuhi permintaan. Pasalnya, mereka harus mengimpor langsung dari Jepang. Kondisi serupa ternyata juga berlaku di Taiwan.


Ya, Suzuki di negara yang berada di Asia Timur itu terpaksa melakukannya. Lantaran permintaan yang membludak. Bahkan membuat waktu tunggu penerimaan unit atau inden menjadi sangat lama. Meski bukan menjadi kendaraan yang menorehkan angka penjualan besar, atau masuk 10 mobil terlaris, Suzuki Jimny mampu menarik perhatian masyarakat. Tampilan dan nama legendaris, menjadi pemikat konsumen meski dibanderol tidak murah.


Dilansir dari supermoto8.com (03/03), Suzuki Taiwan menerima 4.500 pemesanan Jimny. Padahal pemenuhan kuota Jimny di sana dalam setahun, hanya sekitar 1.000 sampai 1.500 unit. Berarti dibutuhkan setidaknya dua tahun agar dapat menutup semua pesanan itu. Mirip dengan kejadian di Indonesia. PT SIS (Suzuki Indomobil Sales) saja cuma kebagian 50 unit setiap bulannya, itupun mesti dibagi ke puluhan diler. Sementara itu, pemesanan di beberapa jaringan bisa mencapai 100 unit. Membuat Suzuki Indonesia menghentikan program pemesanannya, lantaran inden Jimny di Tanah Air mencapai 1-2 tahun. 


Sebenarnya bukan kejadian aneh. Di beberapa negara seperti Inggris juga sempat mengalaminya, bahkan dari 2018. Sejak kehadirannya, pelanggan yang tertarik membeli sangat banyak. Namun, para pendaftar kali itu, baru menerima unitnya tahun lalu.


inden jimny di Taiwan


Baca juga: Antrean Suzuki Jimny Jadi Masalah, Rakit Lokal Solusinya?


Walau begitu, ada hal menarik terkait kondisi Jimny di negara-negara Eropa. SUV 4x4 tulen bermesin Ertiga itu nyatanya tak dapat memenuhi standar emisi European Union yang berlaku Januari 2021 mendatang. Aturan baru didasarkan pada berat dan ukuran kendaraan. Dengan rata-rata emisinya CO2 95 g/km, kurang memenuhi ambang batas tertinggi. Sayang, belum ada strategi jelas yang akan dilakukan prinsipal Suzuki di Jepang untuk mengatasinya.


Bila mereka tetap bertahan dengan spesifikasi jantung mekanis sekarang, ada kemungkinan ia tak akan bisa dijual di Eropa. Mungkin saja unit yang tadinya untuk pasar di sana, bisa dialokasikan untuk negara tujuan lain yang tak mengikuti aturan itu. Namun, lagi-lagi belum ada kepastian dari Suzuki terkait kondisi ini.


Jimny memang mempunyai keluaran CO2 cukup tinggi. Jumlahnya antara 154 g/km hingga 170 g/km. Tergantung mesin 1,5-liternya disandingkan dengan transmisi manual atau otomatis. Bila dibanding Swift, terpaut jauh. Level Swift di 106 g/km, Vitara di 131 g/km dan Baleno 118 g/km. Opsi menyematkan teknologi SHVS (Smart Hybrid Vehicle by Suzuki) sempat ditepis. Padahal teknologi itu mampu memangkas kadar gas buang. Contohnya pada Baleno supermini yang menyemburkan CO2 sebesar 94 g/km. (Hfd/Ano)


Sumber: Supermoto8


Baca juga: Carry Pikap dan Ertiga Jadi Tulang Punggung Jualan Suzuki Indonesia Awal 2020