Skutik yang Tak Terlalu Diminati Pasar Meski Menarik, Apa Saja Kelengkapannya?

Skutik yang Tak Terlalu Diminati Pasar Meski Menarik, Apa Saja Kelengkapannya?

Ketika bicara soal skutik yang laris di pasar orang akan langsung menyebut nama Honda BeAT, Vario, atau Yamaha NMax. Yap ketiga nama ini memang tengah menguasai puncak model yang paling banyak diminati konsumen. Tentu ada alasannya, bisa jadi karena model, kemampuan mesin, fitur, dan tak kalah penting harga.

Padahal ada juga beberapa model yang tak kalah baik namun minim respon. Bahkan karena alasan sederhana, karena memandang sebelah mata satu brand, akibat secara estetika tak sesuai selera pasar. Bisa juga disebabkan performa kurang memuaskan atau harga terlalu mahal. Padahal, tak seburuk itu juga.

Di pasar Indonesia, paling tidak kami menemukan lima skutik nyentrik yang jarang kena lirik market Tanah Air. Mana paling menarik?

Kymco GP125

Kymco GP125

Kymco tahun lalu memperkenalkan GP125. Tapi bagi yang mengikuti norma kemungkinan besar lebih mudah menerima komposisi desain Yamaha Freego, sebagai pesaing utama GP. Tapi Kymco secara gamblang menyebutkan, desain GP125 memang sengaja dibuat untuk mereka menyukai gaya rebel. Ingin tampil berbeda dari arus utama.

Memang betul. Padanan tebeng semacam paruh jarang ditemukan, khususnya pasar skutik Tanah Air. Bagian ini benar-benar meruncing, bahkan sekaligus difungsikan sebagai fender depan. Unik. Rancangan dari samping pun mengkurva, serta kontras mengotak di belakang. Agak brutal. Tapi justru ini unik, mengingatkan masa-masa masuk era milenium. Atau era skutik 90an.

Kymco juga menyebut GP125 menjadi penerus Jetmatic Trend, pamor puluhan tahun lalu. Sebab memang baru sekarang, mereka kembali memasukkan dapur pacu 125 cc sejak sang legenda stop produksi. Bahkan jenisnya masih sama-sama SOHC, hanya saja suplai bensin kini sudah injeksi. Seharusnya distribusi bahan bakar lebih akurat, sekaligus efisien.

Ukuran bore dan stroke (52,4 mm x 57,8 mm). Komposisi ini sungguh mencirikan skutik dalam kota. Sebab rancangan overstroke yang galak di putaran bawah ke tengah, relevan dengan kondisi berkendara stop and go. Catatan output menorah 8,7 Hp pada 8.500 rpm, serta torsi 9,1 Nm memuncak di 6.500 rpm. Cukup buat motor seberat 106 kg.

Memang dari sudut pandang kelengkapan fitur, agaknya Kymco tak bisa banyak cakap. Agak ketinggalan dari kompetitor. Lampu LED pun baru ada di stoplamp. Malah bukan pada pencahayaan utama. Satu-satunya perlegkapan modern adalah soket USB pengisi daya tanpa konektor. Selebihnya konvensional.

Instrumennya pun didominasi model analog. Dengan paduan layar kecil sebagai penampil beberapa informasi penting. Tapi, milik GP125 cukup atraktif untuk ukuran skutik entry level. Tampilannya sama sekali tak membosankan. Belum lagi, posisi duduk, ruang kaki lega, serta jok empuk khas Kymco menjadi daya tarik. Buat harga Rp 21 jutaan rasanya patut dipertimbangkan.

Baca juga: Hasil Road Test, Ini Kelebihan dan Kelemahan Honda All New PCX160

Kymco Like 150i

Kymco Like 150i

Underrated. Tapi kami cukup paham mengapa ia belum sepamor skuter asal Italia, apalagi Jepang. Narasi dikembangkan pabrikan soal motor ini terlalu mengarah ke rasa premium negeri pasta. Belum lagi gurat motor agak dibuat seirama produk Piaggio. Agak rawan diolok saat memakainya. Padahal, jika dilihat cukup menjanjikan. Ditambah harganya Rp 29,9 juta saja.

Tidak seperti GP125, fitur di dalam Like 150i jauh dari kompetitor. Ia memiliki serangkai teknologi unik. Misal, di dalam layar instrumen digitalnya tertera beragam informasi lengkap semacam speedometer, fuel gauge, odometer, volt meter, indikator ABS, indikator suhu mesin, dan peringatan service.

Sampai di situ saja? Tentu tidak. Navigasi, konektivitas smartphone, hingga kondisi cuaca sanggup ia sajikan. Begitupun radar untuk melacak Kymco yang sama. Seluruh sistem ini disebut Noodoe oleh mereka. Terakhir, tampilannya juga bisa dipersonalisasi sesuai selera. Menyimpan file foto pun dapat dilakukan.

Pilihan warna disediakan Kymco juga cukup banyak. Ada bright red, deep blue, plain grey, pearl white, serta silver crystal doff. Sebagai informasi, bungkusan kulit joknya tampak premium. Beberapa tema kelir malah dikombinasikan lapisan kulit merah marun. Jarang ditemukan pada skuter lain.

Dari segi teknis, tak bisa dianggap remeh. Mesin 149,8 cc SOHC 4-valve sanggup melontarkan tenaga 13 Hp di 8.500rpm dan torsi 10.2 Nm pada 6.500 rpm. Output ini bisa dikatakan lebih baik dari kawan-kawannya di Negeri Pizza. Untuk menjaga suhunya juga sudah dibekali pendingin cairan. Dan tentu saja, tenaga ditransfer oleh transmisi CVT.

Beranjak ke mekanisme pengendalian. Suspensi teleskopik menopang di depan dan di belakang mengandalkan suspensi ganda. Sedangkan perengkat penahan laju, diatasi oleh rem cakram 220 mm di roda depan dan 20 0mm di belakang. Bukan paduan teromol. Sensor ABS satu channel juga menjaga agar ban depan tidak terkunci saat pengereman keras.

SYM Jet14

SYM Jet14

SYM juga menjadi nama lain yang juga kurang mendapat perhatian publik. SYM Jet14 merupakan alternatif skutik ukuran ekstra penantang Yamaha Nmax dan Honda PCX. Dari segi styling, output tenaga, sampai harga boleh dibilang sepantar. PT MForce selaku APM SYM menjualnya senilai Rp 32,191 juta OTR Jabodetabek.

Interpretasi desain SYM biasanya berkiblat ke Eropa. Lebih banyak unsur elegan, serta beberapa pahatan tak lazim. Namun Jet14 agak berbeda. Pengemasan motor cenderung sporty, banyak aksen mengotak yang relevan dengan selera pasar Tanah Air.

Proporsional bukan? Lampu split trapesium, dihias windshield kecil, serta aksen tekukan panel samping sampai ke belakang rasanya menjadi hal lumrah ditemukan pada skutik sekelas. Tapi SYM tak berlebihan menuangkan kesan sporty. Secara bersamaan, aura elegan masih terpancar dari tubuhnya. Pas.

Sayang, ketimbang menaruh tangki di bawah seperti rekan sejawat, mereka memilih masih meletakkannya di dalam bagasi. Alhasil bagasi tak seluas milik Nmax atau PCX. Cukup untuk sekadar helm half face, tapi rasanya mengurangi unsur kepraktisan ala skutik menengah.

Memang di lain sisi area kaki lebih lega. Tak muncul gundukan di tengah yang menghalang. Dek rata lantai mempersilakan pengendara leluasa memijak. Plus bisa menyimpan barang jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Menyoal kelengkapan fitur memang tak sebaik kompetitor. Belum ada perangkat semacam Stop Start System, pembisu suara starter, atau kunci pintar. Masih konvensional. Untungnya panel meter digital menunjukkan data lengkap. Informasi fundamental tertera berikut penghitung konsumsi bahan bakar rata-rata. USB port tersedia juga di dalam laci, untuk memudahkan proses pengisian daya gawai di perjalanan.

Lampu belum full LED. Satu-satunya mika berisi dioda baru di stoplamp, sisanya halogen. Lantas urusan pengereman, roda depan dan belakang dijaga cakram besar. Hanya saja sensor ABS baru tersedia satu kanal.

Agak mengejutkan kala melihat dapur pacu. Siapapun pasti berekspektasi lebih kencang dari yang lain, sebab mesin satu silinder berkubikasi 168 cc SOHC. Nyatanya tak begitu. Jumlah output tak lebih baik dari rival, 11,8 Hp/8.000 rpm dan torsi 12,2 Nm/6.000 rpm. Sistem pendinginan pun masih bergantung pada cooling fan, bukan radiator.

Rasanya untuk memilih skutik satu ini memang sekadar berlandaskan selera. Atau paling tidak punya keinginan besar tak mau tampil sama dengan orang kebanyakan. Sebab, secara paket harga dan performa memang kalah dari kompetitor.

Baca juga: Pilihan Skutik Yamaha dengan Fitur Keyless dan ABS, Harga Mulai Rp 20 Jutaan

Piaggio Medley S

Piaggio Medley S

Campuran gaya skuter dan bebek seperti Piaggio Medley S ini memang jarang mendapat respons baik. Segmentasinya begitu sempit. Tapi sebetulnya ia menyimpan beragam potensi. Dari unsur elegan serta kemewahan, berikut perfoma dan daya akomodasi baik. Piaggio Indonesia menjualnya Rp 49,9 juta OTR Jakarta.

Unit yang kami maksud adalah versi facelift. Artinya, sudah seragam dengan produk Piaggio lain, termasuk Vespa. Alias memakai headlamp LED dengan pemisah tegas. Dan diberi aksen DRL pada mika terpisah, tempat lampu sein berada. Bagian unik di fasad juga dapat dilihat dari pemasangan aksesori semacam lubang udara. Dengan tepian merah menyala.

Sepintas seperti ramping bukan? Jangan salah sangka daya tampungnya payah. Ruang balik jok tergolong sangat besar. Bahkan satu helm full face dengan half face bisa masuk mudah. Rasanya cukup mengakomodir kebutuhan harian.

Belum usai di situ, panel instrumen versi facelift sepenuhnya disajikan layar digital. Displaynya lebih dari cukup, besar. Menginformasikan semua data penting serta tambahan-tambahannya. Seluruh kalkulasi konsumsi bahan bakar ditampilkan. Termasuk indikator baterai hingga sisa jarak tempuh dari bensin di tangki. Bahkan, telah support konektivitas gawai. Atau disebut MIAConnectivity System.

Sesifikasi teknis juga jempolan. Bukan pakai mesin Vespa entry level. Ini basisnya mirip milik GTS. Yakni berkubikasi 155 cc empat klep berpendingin cairan. Serta mengeluarkan tenaga 14,7 Hp di 7.750 rpm dan torsi 14,4 Nm pada 6.400 rpm. SIstem pengereman ABS pun dua kanal, cukup aman menjaga proses deselerasi.

Honda SH150i

Honda SH150i

Rival terkuat Medley S adalah Honda SH150i. Sama konsepnya, skuter tapi memakai lingkar ban besar. Serta bodi ramping semacam bebek. Ia pun main di segmentasi premium. Dijual Rp 41,9 juta OTR Jakarta.

Gurat desain mengesankan. Lain dari skutik-skutik biasa. Wujud SH 150i tampak premium dan berkelas. Penataan lampu utama begitu futuristik, berkat mika di area tebeng superbesar bersiluet X. Di situ pula menempel LED DRL, membuat tatapannya makin dramatis. Pahatan bodi samping sampai ke belakang, hingga bungkusan jok dengan detail jahitan juga terlihat rapi.

Keunggulan lain tersimak di area kaki-kaki. Peredaman depan ditopang fork teleskopik 33 mm dengan travel 89 mm. Ini lebih besar dari skutik kebanyakan. Dan dua shock belakang memiliki lima setelan preload, dapat disesuaikan kebutuhan pengendara. Ukuran ban juga nyeleneh. Honda membungkus pelek palang dengan ban 100/80 16 inci di depan dan 120/80 belakang. Termasuk besar dan lebar.

Peranti deselerasi tak kalah optimal. Dua disc brake 240 mm telah terkoneksi ABS dua kanal. Otomatis tak perlu khawatir mengerem keras lewat tuas kiri atau kanan sekalipun. Mungkin di samping unitnya CBU Vietnam, harga mahal disebabkan fitur safety maksimal juga. Kita tahu, setinggi-tingginya tipe PCX atau ADV150 yang tersedia hanya dilengkapi ABS satu kanal.

Lantas perangkat elektronik lain juga lengkap. SH punya sistem pencahayaan LED di depan dan belakang, kecuali sein. Idling Stop System dan ACG starter juga jadi bawaan standar, plus smart key system. Power outlet di dalam kompartemen pun ada, meski tipenya belum USB soket.

Jangan tertipu dengan tampilan panel meter yang tampak konservatif. Dominasi jarum analog mungkin membuat Anda berpikir tak banyak informasi tersaji. Padahal, selain jarum penunjuk kecepatan, temperatur mesin, serta bensin, ada layar digital kecil di bawahnya. Di situlah pengendara dapat melihat konsumsi bahan bakar real time, rata-rata, trip meter, serta beberapa informasi penting lain. Cukup.

Kalau basis dapur pacu kurang lebih setipe PCX. Satu silinder 153 cc eSP berpendingin cairan, dengan sistem injeksi elektronik. Komposisi diameter silinder dan langkah dibuat hampir setara (58 mm x 57,9 mm), supaya tenaga keluar di putaran merata. Hasilnya tenaga 14,6 Hp keluar di 8.250 rpm, sementara torsi 13,9 Nm memuncak pada 6.500 rpm.

Siapa Paling Menarik?

Kalau mengukur value for money, kami rasa Kymco Like 150i patut dijadikan opsi. Lantaran bentuk, fitur, hingga performa atas kertas semestinya memuaskan. Bisa mengalahkan rival sekelas. Tapi kalau merasa tanggung, alias ingin punya skutik nyentrik premium tulen, Piaggio Medley S begitu menggugah untuk dimiliki. Atas kemampuannya yang serba ada. (Hlm/Raju)

Baca juga: Alternatif Motor Sport 150 cc Berbanderol Setara All New Honda PCX 160

GIIAS 2021

Anda mungkin juga tertarik

  • Yang Akan Datang

Video Motor Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Motor