jakarta-selatan
kali dibagikan

Menebak Konstruksi Suspensi Teleskopik Motor di Masa Depan

  • 28 Sep, 2018
  • 990 Kali Dilihat

Fork atau garpu depan teleskopik yang kita lihat di semua motor, seolah peranti yang tak pernah mengalami perubahan. Ya, jika mesin bisa berubah teknologinya, swing arm belakang bisa beralih, lantas kenapa jenis teleskopik naik turun ini tak pernah ada improvisasi?


Ride Apart, situs tentang perkembangan dunia motor mengulas hal ini. mereka mengungkap, sistem teleskopik sudah puluhan tahun digunakan dan seolah jadi satu-satunya solusi untuk memberikan redaman, pengendalian, hingga penyaluran momentum paling diandalkan.


Faktanya memang demikian. Namun dari waktu ke waktu, sudah pernah ada pengembangan yang coba dilakukan pabrikan untuk menyajikan sistem berbeda. Berikut kami sarikan;


Suzuki Trac Anti Dive


Ide utama jenis suspensi ini, menghubungkan kontrol peredaman fork ke selang rem dan mencegah terbenamnya sok yang sangat ditakuti. Jika suspensi terlalu terbenam, maka efeknya berimbas ke tubuh pengendara dan akibat yang lebih fatal bisa terjadi. Aplikasinya ditemukan pada Suzuki GS1100E, era 70an.



Solusinya, memasang katup kecil ke fork dan hidraulis rem yang menutup selama pengereman ekstrem. Ketika ini terjadi, oli sok tak punya ruang untuk kemana-mana begitu dapat kompresi. Alhasil, sok jadi kaku dan motor bisa dikendalikan. Paling tidak itu ide mulianya.


Sialnya, muncul problem akibat kotoran. Katup mudah tersumbat oleh debu pada oli sok. Seiring dengan kakunya fork, masalah baru malah muncul. Ban depan berpotensi tergelincir. Sistem ini tak bertahan lama, insinyur Suzuki memilih model fork teleskopik konvensional dengan memainkan konstruksi pegas ataupun kekentalan oli sok. Konon metode ini terus dipertahankan hingga sekarang.


BMW Telelever Fork


Seiring perkembangan mesin, suspensi juga harus mengikutinya. Motor dengan tenaga 80 dk, tak bisa diberikan suspensi yang sama dengan kuda besi bertenaga hanya 40 dk. BWM sadar betul hal itu. Merek ini memang tak hanya berinovasi di teknologi mobil, namun juga motor.



Metode yang mereka gunakan, telelever fork. Yup, fork teleskopik tetap diandalkan untuk meredam benturan dari jalan. Namun asistensinya diberikan pada sistem swingarm. Sepasang lengan ayun menyambungkan sasis dan fork sebagai sambungan sekunder. motor memang jadi lebih stabil.


Mekanisme ini, sejatinya dikembangkan oleh perusahaan Inggris, Saxon-Motodd di 80an awal. BMW mencoba menyajikannya lebih canggih dan sukses membuat sistem yang unggul. Ketika mengerem atau menerima hantaman di roda, derajat trail dan rake motor akan naik, bukannya turun seperti yang umum terjadi pada fork teleskopik konvensional. Solusi ini memang sangat baik dan berimbas positif meningkatkan kestabilan di saat sok terkompres.


Yamaha Swing Arm


Swing arm atau lengan ayun saja, memang model konstruksi kaki yang umum ditemukan untuk roda belakang. Namun Yamaha sukses menyajikan mekanisme itu pada roda depan. Tampilan motor GTS1000 di 1993 pun sangat revolusioner. Seolah dikirim dari masa depan.



Ini detilnya. Kaki depan disusun oleh swingarm, center hub, link, hingga rodend. Ya, kalau Anda sering mengoprek kaki mobil, komponen ini memang ada di sana. Keunggulan sistem swingarm, rigiditas dan durabilitasnya. Imbasnya, tentu pada stabilitas yang lebih super hingga peredaman yang lembut.


Konon, Bimota Tesi pabrikan Italia mengasistensi Yamaha dalam hal pengembangannya. Yamaha GTS1000 di era itu pun jadi sangat fenomenal. Hadir dengan mesin injeksi, rem ABS juga kaki depan swingarm, sangat canggih!


Lantas mengapa sistem ini tak diteruskan? Alasannya ternyata sederhana. Harganya mahal!


Biaya menyajikannya sangat mahal dan tak masuk dalam skala ekonomi untuk penjualan massal. Apesnya lagi, GTS1000 juga kena dampak regulasi tenaga yang kala itu mencuat di Eropa. Seiring tamatnya karir motor itu, sok revolusioner ini pun tak dikembangkan lebih lanjut.


Kini, pengembangan teknologi motor memang terfokus di MotoGP. Ajang balap motor paling bergengsi itu masih jadi salah satu wahana pengembangan dan pengujian paling tepat. Nahasnya, sektor kaki-kaki menentukan lebih dari 50% hasil balapan. Rasanya jika mencoba beberapa rumus masa lalu di sana, terlalu berisiko.


Harapan atas hadirnya teknologi revolusioner tentu tak boleh padam. Sekali lagi, seiring berkembangnya kapasitas mesin dan peranti canggihnya, harusnya komponen fork depan tak lupa diperhatikan. (Van/Odi)


Sumber: Rideapart


Baca Juga: Merawat Filter Udara pada Moge, Biar Napas Lebih Panjang

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Motor Terbaru di Oto
  • Cleveland Ace 400 Scrambler | First Impression |...
    • 04 Des, 2019
    •  
  • Yamaha NMax Baru | First Impression | Berapa...
    • 04 Des, 2019
    •  
  • Yamaha XSR 155 | First Impression | Apa...
    • 04 Des, 2019
    •  
  • BF Goodrich CG | First Impression | Motor...
    • 04 Des, 2019
    •  
  • Husqvarna Svartpilen 701 | First Impression | Pakai...
    • 04 Des, 2019
    •  
  • KTM 450EXC-F Portugal Edition | First Impression |...
    • 30 Nov, 2019
    •  

Motor Populer

  • Populer
  • Terbaru
  • Yang Akan Datang
  • Komparasi