Begini Rasanya Enam Skutik Jepang yang Meluncur Sepanjang 2020 (Part 2)

Begini Rasanya Enam Skutik Jepang yang Meluncur Sepanjang 2020 (Part 2)

Menuju akhir tahun tanpa diduga pabrikan berboyong-boyong merilis skutik baru. Dan bukan hanya pemanis. Produk-produk ini merupakan barang penting mereka, apalagi di kelas entry level. Di bagian pertama tulisan ini kami membahas mengenai Honda BeAT, Yamaha All New NMax, dan Yamaha Aerox 155 Connected.

Nah di di bagian kedua, kami akan mengupas tentang Honda Scoopy, Suzuki Nex, hingga Yamaha Gear, yang meluncur di waktu berdekatan. Kami sudah berhasil mencicipinya, menghasilkan impresi seperti ini.

Honda All New Scoopy

Honda All New Scoopy

Untuk Scoopy, pengujian komprehensif belum kami lakukan. Masih sebatas mencoba meski pada arena ideal: Safety Riding Center baru milik Honda di Cikarang. Paling tidak, beberapa variabel bisa dikupas. Walaupun butuh pengetesan lebih lanjut nantinya.

Saat pertama duduk, tidak begitu beda dari Scoopy lama. Juga dengan posisi riding. Stang, jok, hingga pijakan kaki identik. Ketika mengendarainya, impresi kami sama arahnya seperti Genio dan Beat. Dari segi ketangkasan dan kelincahan boleh dibilang persis.

Pemasangan rangka eSAF berhasil memberikan dampak luar biasa. Berkat itu pula bobot frame diklaim lebih ringan delapan persen dibandingkan generasi lama. Alhasil, motor makin mudah dikendalikan. Utamanya waktu bermanuver tajam. Gesit dan cekatan.

Handling turut didukung ban berprofil donat. Mengenakan ukuran 100/90 depan dan 110/90 belakang. Hasilnya, saat bermanuver tidak perlu ragu lagi. Selain itu, motor jadi ajeg tanpa harus khawatir jatuh. Sudut kemiringan saat dibuat cornering juga bisa lebih dalam. Tapi tentu saja, harus diimbangi dengan skill berkendara yang mumpuni. Utamanya tak ada gejala melayang saat menikung. Racikan ini berbeda sekali dengan model sebelumnya, meski ukuran roda dan si kulit bundarnya sama.

Honda All New Scoopy

Karakter suspensi masih sama dengan model sebelumnya, cukup empuk, baik depan maupun belakang. Meski tak ada area obstacle bump course, kami yakin tidak mudah mentok, karena jarak main cukup panjang. Tapi hasil itu bisa beda jika berboncengan. Untuk ukuran skutik mungil, penggunaan teleskopik dan lengan ayun dengan peredam kejut tunggal, sudah lebih dari cukup.

Lantaran dimensinya kecil dan bobotnya ringan, saat di trek lurus kestabilannya mulai hilang. Banyak hal yang membuatnya begitu, salah satunya ukuran tubuh kami. Tapi kalau bicara akselerasi, motor ini cukup mumpuni di putaran rendah. Intinya skutik ini sangat cocok digunakan untuk penggunaan harian, apalagi buat melibas kemacetan ibukota. Ringan dan mudah dikendarai.

Menggendong jantung mekanis baru berteknologi eSP (enhanced Smart Power). Kapasitas tetap 110 cc, tepatnya 109,5 cc SOHC pendingin udara dengan sistem pembakaran injeksi PGM-FI. Walau demikian, racikan baru itu cukup responsif dibanding model lama. Salah satu alasannya karena mengadopsi over stroke atau langkahnya lebih panjang. Kompresi mesin juga jadi lebih tinggi, yaitu 10,1 : 1. Selain itu, tentu saja karena penggunaan rangka eSAF yang diklaim lebih ringan.

Menurut catatan pabrik, daya kudanya bisa memproduksi 8,87 Hp di 7.500 rpm dan torsi 9,3 Nm pada 5.500 rpm. Cukuplah untuk penggunaan dalam kota. Tak butuh akselerasi berlebih, yang penting kenyamanan tetap terasa.

Baca juga: First Ride All New Honda Scoopy: Tak Sekadar Ganti Wujud dan Performa

Suzuki Nex Crossover

Suzuki Nex Crossover

Suzuki ikut pula dalam euforia peluncuran skutik pemula. Bukan seri biasa disegarkan. Melainkan Nex yang berpenampilan maskulin, dinamakan Crossover. Ya, ini adalah bentuk evolusi Nex Cross. Meski sebetulnya tak begitu banyak aspek berubah.

Jika pernah memakai Nex standar atau Cross, seri baru ini pasti tak terasa berbeda. Stang kemudi terasa besar, namun dimensinya tidak terlalu tinggi atau pun rendah. Ukurannya pas, tak bakal menyulitkan kala dibawa manuver. Dan efek handlebar tadi, visibilitas semakin baik berikut posisi tangan tak banyak menekuk. Rileks. Ukuran itu pun sesuai dengan postur orang lokal.

Bicara handling, karakternya cekatan dan sesuai dengan khas skutik entry level yang ringan. Hal itu juga karena memang berat kosongnya hanya 94 kg. Meski menggunakan stang lebar, buat dipakai harian untuk meliuk di kemacetan juga terasa mudah dan mudah dikontrol. Tak butuh penyesuaian berlebih, langsung gas dan motor asyik dibawa riding. Kami pun sudah mencobanya kala menyalip kendaraan di jalan aspal. Ketika putar balik pun, siku pengendara tidak gampang mentok. Jadi sangat cocok buat rider yang suka selap-selip di kondisi lalu lintas padat. dirinya tetap memberikan kelincahan meski mengadopsi konsep tualang.

Baca juga: First Ride Suzuki Nex Crossover: Tetap Lincah Meski Adopsi Konsep Tualang

Suzuki Nex Crossover

Waktu diajak ke medan berbatu, ia masih mudah dikendalikan. Lagi-lagi setang lebar cukup membantu untuk masalah pengendalian. Asyiknya, bagian bawah tidak mudah mentok. Ground clearance atau jarak terendah dari tanah setinggi 150 mm. Sehingga terasa lebih mantap dan meyakinkan untuk dibawa berpetualang kemanapun tanpa rasa khawatir.

Lincahnya handling Nex Crossover saat di medan kurang baik didukung dengan penggunaan kulit bundar tipe tubeless dengan model dual purpose. Jadi bukan hanya sekadar untuk mendongkrak penampilan, jenis ban ini sangat tangguh dibawa melewati jalanan rusak. Ia pakai ban lansiran IRC GP-5 series yang memiliki kedalaman tapak masing-masing 5,1 mm dan 5,5 mm.

Didukung pula performa mesin yang memadai, berteknologi Suzuki Eco Performance (SEP), 1 silinder 4 langkah SOHC 2 katup, berpendingin udara dengan kapasitas 113 cc berpengkabut injeksi. Sebetulnya sama persis dengan yang lama. Jantung mekanisnya memiliki bore 51 mm dan stroke 55,2 mm dengan klaim tenaga maksimum 9,2 hp di 8.000 rpm dan momen puntir 8,5 Nm di 6.000 rpm.

Biarpun tergolong skutik kecil, tenaga yang dihasilkan cukup mumpuni untuk berkendara harian. Hanya saja putaran bawah terasa lemot, apalagi ketika melewati jalan menanjak. Maklum kapasitasnya tidak besar. Untuk menyiasatinya, harus sering-sering membuka gas. Tapi tentu saja bakal mempengaruhi konsumsi bahan bakar, terutama ketika ingin menyalip kendaraan di depan.

Yamaha Mio Gear 125

Yamaha Gear 125

Salah satu bintang di penghujung tahun ialah Yamaha Gear 125. Cukup tak disangka akhirnya Yamaha kembali melanjutkan kiprah Mio. Meski namanya dibuat ulang, namun kami rasa karakteristiknya bakal sama. Dan menjadi amunisi kuat pabrikan logo garpu tala di kelas entry level.

Ketika baru naik, terasa ukuran stang yang pas. Tidak begitu lebar dan kecil. Pengendara mudah mendapat visibilitas baik. Posisi tangan juga rileks, tidak menekuk. Dan saat duduk di jok, dengkul masih memiliki jarak alias tak mentok ke dek depan. Begitu pula masih banyak ruang untuk penyimpanan di laci.

Menariknya, ada kenyamanan a la Maxi pada jok. Dimensinya cukup lebar dan empuk. Secara bersamaan tak membuat kaki pengendara meti mengangkang. Sejauh pengujian, tidak muncul rasa pegal berlebihan. Cocok buat penggunaan harian.

Pergerakannya tidak menyulitkan pengendara. Masuk di antara mobil juga tidak perlu khawatir. Kendali kemudi cukup mudah, tak perlu ragu kala melakukan manuver. Nyatanya ketika berada di kemacetan, dirinya dapat meliuk-liuk dengan gampang. Dengan jarak sumbu roda 1.260 mm, karakternya jadi cekatan. Tercatat total panjang Gear 1.870 mm, lebar 685 mm, tinggi 1.060 mm.

Baca juga: Test Ride Yamaha Mio Gear 125: Skutik Sporty dengan Kenyamanan Maxi

Yamaha Mio Gear 125

Suspensi juga turut membantu dalam hal penanganan. Walau masih mengandalkan model teleskopik depan dan tunggal di belakang, bantingannya tergolong enak. Per ulir tersemat di kiri, mampu menahan bobot cukup baik sehingga tidak limbung. Ketika melewati jalan berlubang atau permukaan tidak rata, juga masih dalam batas wajar. Karakteristik peredam kejutnya tidak keras dan tak terlalu lembut, pas untuk ukuran skutik murah Yamaha.

Gear dibekali ukuran mesin memadai. Tercatat di dalam dapur pacu ada mesin 4-stroke, SOHC satu silinder 124,96 cc dengan berpendingin udara serta berteknologi Fuel Injection Blue Core. Jantung mekanis yang dimilikinya sangat menyenangkan ketika dipakai di perkotaan. Tenaganya tidak terlampau besar, namun tak kekurangan daya kala menyalip kendaraan. Boleh dibilang cukup responsif sesuai bukaan gas. Kalau dilihat dari catatan pabrik, ia mampu mengeluarkan tenaga sebesar 9,38 Hp pada 8.000 rpm dan torsi 9,5 Nm di 5.500 rpm.

Untuk membuktikan dirinya responsif, kami sempat memacunya dengan kecepatan tinggi sampai di atas 70 km/jam. Dilakukan pada jalan lengang. Menarik gas dalam-dalam dari kondisi diam untuk merasakan akselerasinya. Hasilnya luar biasa untuk ukuran skutik entry level dengan bobot 95 kg. Lebih lanjut kami mencobanya dengan melalui jalur menanjak, tidak ada kendala berarti. Pantaslah, karena racikan bore x stroke (52,4 x 57,9 mm) dan kompresinya 9,5:1, membuat dirinya menyandang skutik murah paling bertenaga.

Lantaran tidak ada instrumen rata-rata penggunaan bahan bakar, maka pengujian efisiensi kami melakukan sistem full to full. Selama pengetesan, kami telah melakukan perjalanan sejauh 115 km. Bensin yang sudah dihabiskan sebanyak 2,8 liter. Jadi hasilnya, 1 liter bisa mencapai 41 km. Angka itu bisa saja berbeda, tergantung cara berkendara. (Hlm)

Baca juga: Begini Rasanya Enam Skutik Jepang yang Meluncur Sepanjang 2020 (Part 1)