jakarta-selatan

Test Ride Yamaha TMax DX: Ultimate Scooter (Part-2)

  • 26 Sep, 2018
  • 2754 Kali Dilihat


Efisiensi Bahan Bakar


Efisiensinya bukanlah hal yang perlu digarisbawahi. Toh, dengan mesin 530 cc, tenaga 45,9 dk dan bobot 216 kg, kami tak berharap ia seirit Honda Beat. Jika dibandingkan, bahkan bensin yang diminumnya selevel dengan mobil kala dibawa ke luar kota.



  • Rute Luar Kota: Jakarta- Cikampek-Wanayasa-Bandung (PP, 2 hari pengujian,)

  • Jarak pengujian: 403 km (tripmeter MID)

  • Bahan bakar: RON 95

  • Bobot orang dan barang: ± 200 kg

  • Kecepatan rata-rata: 35 kpj (apps speedometer – Android)

  • MID : 26-28 kpl

  • Rute Dalam Kota: Bekasi-Slipi-Bekasi-Slipi-Bekasi(2 hari pengujian,)

  • Jarak pengujian: 200 km (tripmeter MID)

  • Bahan bakar: RON 95

  • Bobot orang dan barang: ± 130 kg

  • Kecepatan rata-rata: 25 kpj (apps speedometer – Android)

  • MID : 24 kpl


Handling Terbaik


Tikungan-tikungan di Wanayasa, memiliki derajat yang sangat sempit. Beberapa bahkan disertai jurang maupun tebing. Masuk ke tikungan, TMax tak perlu khawatir. Dua buah rem cakram besar sudah siaga di roda depan. Kaliper berukuran 26,5 cm terpasang di depan dengan sokongan masing-masing dua piston. Meredam kecepatan dengan rem ini saja sudah lebih dari cukup. Jika masih kurang, ada rem belakang dengan sebuah cakram yang dimensinya lebih besar lagi. Jangan takut juga meremas tuas rem terlalu ekstrem, ada sistem anti pengunci (ABS) yang siaga mengoptimalisasi proses deselerasi.



Keluar masuk tikungan dengan TMax, saya merasa percaya diri. Stangnya tak terlalu enteng, namun tetap mudah diarahkan. Motor pun sangat nurut dengan pengaturan beban yang saya beri saat menikung. Jujur mungkin TMax adalah salah satu motor dengan handling terbaik yang pernah saya uji. Saya pernah menjajal BMW C650 GT, dan feelingnya berbeda. Ciri khas handling Yamaha yang presisi bisa Anda rasakan lewat TMax DX. Seperti sudah disebut, inilah hasil maksimal dari merek lambang garputala.


Handlingnya disokong oleh suspensi terbalik (Up Side Down-USD) di bagian depan, dengan diameter batang yang cukup besar. Bukan saja andal mengatur redaman, tapi juga keren secara fisik. Warnanya emas, bak merek shock kenamaan. Ditambah lagi sebuah shock dengan konfigurasi yang sangat unik untuk menyokong buritan.



Sebuah suspensi terpasang bukan di atas swingarm seperti motorsport, melainkan di bagian bawahnya. Kami tak berani meragukan konfigurasi ini. Di level motor Rp 300 jutaan, dengan teknologi yang tak main-main, pasti ada alasan yang sangat penting mengapa settingan itu dijadikan pilihan oleh para insinyur. Meski letaknya tersembunyi dan hanya bisa dilihat dari kolong, namun suspensi ini bisa disetting dengan mudah. Cukup ambil obeng minus dan redaman yang lebih tepat bisa Anda cari.


Kami sudah pernah mengulas tentang masing-masing fitur di Yamaha TMax, Anda bisa membacanya di sini.


Fitur Berfaedah


Satu fitur yang kami juga rasakan manfaatnya ketika menembus pegunungan Wanayasa-Bandung adalah windshield elektrik. Peranti itu pada TMax bisa diatur ketinggiannya. Pada posisi terendah, Anda mendapatkan visibilitas terbaik tanpa hambatan kaca. Begitu diangkat, windshield sangat bermanfaat untuk menghalau angin ke muka. Pengoperasiannya cukup mudah, via tombol multifungsi yang bisa diakses dengan telunjuk dan jempol kiri.



Tambahan lain di tipe DX, penghangat tangan dan jok. Sempat kami ragu, fitur ini nirfaedah untuk iklim udara tropis seperti Indonesia. Toh tanpa perlu dipanaskan saja, terjemur sebentar di luar, jok sudah terasa sangat panas. Namun ketika berada di iklim dingin seperti Subang, Lembang, Bandung, nyatanya berguna. Penghagatannya pun relatif cepat. Apalagi level panasnya bisa Anda sesuaikan juga defaultnya.


Kuncinya juga sangat mewah. Oke, smart key memang bukan barang asing di motor era sekarang. Sistem kunci berbasis remot ini memang meningkatkan kepraktisan penggunaan dan keamanan pengendaraan. TMax melampauinya. Jika motor ber-smart key lain masih harus memutar kenop untuk aktivasi, ia hanya perlu menekan tombol di dashboard. Canggih!



Tiba di Bandung, saya langsung mengisi bahan bakar. Minyak dengan RON 95 yang kami isi penuh di Jakarta, tersisa hampir setengahnya (6/10-bar MID). Trip meter menunjukkan 172 km. MID menunjukkan konsumsi di level 25 kpl. Angka yang cukup baik bagi perjalanan dengan penuh adaptasi dan bobot berlebih.


Sempurna?


Sempurna? Rasanya demikian. Toh jika sudah membeli barang semewah itu, rasanya sudah tidak ada kompromi lagi. Namun, faktanya TMax masih bisa dibenahi lagi. Misalnya soal ruang bagasinya. Kami tak dapat angka pasti kubikasi yang bisa diasup oleh bagasi bawah jok motor itu. Namun faktanya dua helm half face tak bisa diletakkan di situ. Bahkan untuk menaruh sebuah helm falf face berkaca saja harus dibalik. Demi membawa baju yang cukup untuk dua orang, dengan perlengkapan jas hujan, kami sampai harus menambah tas untuk digantung di atas tangki bensin. Pun dengan laci tertutup di bagian depan. Lacinya cukup sulit dibuka dan mekanismenya terasa sangat murahan. Berbanding terbalik dengan sistep pegas hidraulis yang menutup bagasi dengan jok. Sungguh kedua faktor ini menurunkan sisi elegan dari motor ratusan juta itu. (Van/Odi)


Baca Juga: Test Ride Yamaha TMax DX, Ultimate Scooter (Part-1)

Galeri

kali dibagikan

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Yamaha TMAX DX

Lihat video terbaru Yamaha TMAX DX untuk mengetahui bagaiamana mesin, desain, konsumsi BBM, performa & lainnya.

Motor Yamaha Pilihan

  • Populer
  • Yang Akan Datang
  • Komparasi