jakarta-selatan

First Ride Vespa Primavera: Andal Menerjang Kemacetan di Jalur Bogor-Puncak

  • 12 Jul, 2019
  • 511 Kali Dilihat

Vespa Primavera rasanya pas bagi postur tubuh orang Indonesia. Tak aneh, ia jadi yang terlaris di Tanah Air, beriringan dengan Sprint. Jika dibanding saudara bongsornya (GTS), motor ini lebih masuk akal digunakan harian. Ini sudah terbukti, bahkan di titik kemacetan yang sangat parah. Primavera sanggup meliuk di antara kendaraan tanpa menyulitkan.


 



Jujur, kencan dengan Primavera tak terencana. Ini merupakan lanjutan kisah dari sesi test ride dengan Vespa GTS 150 sebelumnya. Saat itu, mau tak mau harus bertukar motor dengan peserta lain untuk mencapai titik finish di Puncak. Kebetulan, Primavera yang saya dapat. Tentunya ini jadi kesempatan emas untuk menyiksanya di jalur lintas kota. Bagaimana rasanya?


10.00 AM


Saat pertama duduk, motor memang agak tinggi. Tapi bodi dan jok ramping mengobatinya. Alhasil, pijakan kaki masih dalam batas wajar. Berikut bobotnya ringkas. Jadi tak muncul keraguan untuk mengendarainya.


Sembari jalan, saya melihat-lihat fitur. Tak banyak yang dimiliki. Hanya tertera speedometer jarum dan layar digital kecil. Isinya juga biasa saja. Pun pada sakelar di kiri kanan. Tak banyak yang bisa dimainkan, masih seperti yang dulu. Peningkatan kentara di generasi teranyar, ada di sektor pencahayaan. Baik di depan maupun belakang, sudah pakai LED. Selain kualitas penerangan meningkat, tampaknya pun jadi semakin cantik. Sisanya, aksesori saja.


10.20 AM


Hanya umpatan yang terbesit di benak. Terjebak di tengah kemacetan, tak bergerak sama sekali. Otomatis, harus cari akal mencari jalur. Berbagai upaya dilakukan. Setiap ada celah, Primavera dipaksa masuk. Pada titik ini, saya merasa beruntung, sekaligus bisa menilai kemampuan motor. Ia sanggup melalui jalur sempit, tanpa menyulitkan pengendaranya. Kontrol stang terasa ringan. Setidaknya, jika dibandingkan GTS. Lain cerita kalau bicara kompetitor Jepang. Bayangkan saja kalau masih duduk di atas motor bongsor itu, rasanya pasti lelah sekali menghela beban.


11.00 AM



Karena macet tadi, terpisahlah saya dari rombongan. Berarti, waktunya eksplorasi sendiri. Mengandalkan aplikasi peta di gawai, jalur alternatif dipilih. Medan yang dilalui merupakan aspal sempit, banyak lubang, tanjakan ekstrem, serta turunan curam.


Gas ditarik dalam-dalam saat mulai masuk jalur yang dimaksud. Lurusan sepanjang 500 meter tak boleh disia-siakan. Karena saya penasaran dengan akselerasi dan sekencang apa dia bisa berlari. Hasilnya? Torsi sangat mencukupi di awal, walau ada sedikit jeda. Namun lagi-lagi, kehilangan napas di akhir. Karakternya memang begitu dari dulu, khas. Lajunya “malu-malu” kalau sudah di kecepatan tinggi.


Sebagai catatan, mesin i-Getnya berkubikasi 154,8cc tiga katup. Nah, ini yang membuat performanya berada di bawah GTS. Kapasitas jantung pacunya sedikit lebih kecil, berikut jumlah valve yang hanya tiga. Mengenai output, tenaga puncaknya sebesar 12,9PS di 7.750rpm, sementara torsi maksimum di angka 12,8Nm pada 6.500rpm. Lumayan.


Berakhir sudah trek lurus. Sekarang giliran tikungan tajam di tanjakan dan turunan. Karena kelokannya sempit, Primavera terasa unggul. Suspensi berkarakter kaku memakan garis tikungan yang baik, tidak terlalu melebar. Saat mengembalikannya lagi ke posisi semula, juga tak perlu usaha banyak. Ini berkat desainnya yang ramping.


Mulai memasuki jalan berlubang dan tanah kerikil, redaman suspensinya terasa sedikit keras. Di sini kami sempat mengharapkan kembali ke GTS, jauh sekali perbedaannya. Tapi bukan berarti buruk, mungkin karena efek komparasi langsung membuat saya jadi punya standar tinggi.


Sempat juga terjebak macet di tanjakan. Mau tak mau harus menarik tuas rem, sembari memutar gas secara bergantian. Nah, usai itu, motor saya istirahatkan. Terasa sekali hawa panas dari ruang mesin. Bisa jadi, ini dampak tidak adanya radiator.


Terakhir, bagaimana kondisi rem? Ya, walau cukup disiksa, teromol belakang dan disc brake depan masih bekerja baik. Tidak ada gejala panas. Kinerjanya tak terganggu sama sekali.


11.40 AM


Akhirnya sampai di titik finish. Begini kesimpulannya. Walaupun Primavera saya uji di jalur lintas kota, namun keadaan saat itu bisa merepresentasikan kondisi padatnya Jakarta. Makanya, dengan lantang saya katakan, ia jauh lebih masuk akal digunakan harian ketimbang GTS. Bagaimana performanya di jalur kosong, tanjakan dan jalan berlubang? Jujur, motor masih sanggup melahap semua medan itu dengan baik. Tapi kalau bicara lebih mantap mana, jawabannya GTS. Tenaga dan suspensinya memiliki performa setingkat lebih atas. Lantas, bagaimana dengan Sprint? Tak perlu ada “ujian” lagi. Yakin betul, rasanya sama persis dengan Primavera. Karena hanya berbeda kosmetik saja.


Terakhir, melihat dari sisi harga. Catat dulu, paradigma yang digunakan tidak melibatkan kompetitor Jepang nan kaya fitur. karena pasti terasa mahal. Kalau dari sudut pandang Vespa, Rp 43 juta jadi angka yang paling ekonomis di kelas mesin 150cc. (Hlm/Van)


Baca Juga: Moto Guzzi V85 TT Meluncur di Indonesia

kali dibagikan

Harga dan Promo Varian Primavera

  • I-Get 150 | Rp 37,5 Juta (OTR)
    DP (mulai dari) Rp 5,75 Juta
    Angsuran Rp 1,51 Juta
    Tenor 35 Months
    Lihat Promo

Video Vespa Primavera

Lihat video terbaru Vespa Primavera untuk mengetahui bagaiamana mesin, desain, konsumsi BBM, performa & lainnya.

Motor Vespa Pilihan

  • Populer
  • Komparasi