jakarta-selatan
kali dibagikan

Comparison Test: Honda CR-V Turbo vs Nissan X-Trail Hybrid (Part-3)

  • 14 Des, 2017
  • 7710 Kali Dilihat


Penggunaan turbocharger pada Honda CR-V dan motor listrik pada Nissan X-Trail Hybrid, ditujukan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Selain lebih hemat, tujuan mulianya secara global untuk mengurangi dampak jangka panjang eksploitasi fossil fuel dan membuat bumi menjadi lebih ‘hijau’ atau ramah lingkungan.


Trend downsizing atau menurunkan kapasitas mesin pada mobil, memang salah satu solusi paling gampang. Kapasitas mesin yang lebih kecil, otomatis menjadikan konsumsi bahan bakar menjadi lebih sedikit ketimbang mesin sama yang kapasitasnya lebih besar. Inilah yang kemudian diaplikasi oleh Honda pada CR-V. Tapi penurunan kapasitas mesin yang signifikan memiliki efek samping, yakni performa yang tentu ikut turun.


Makanya bantuan induksi turbocharger dipasang untuk meningkatkan performa mesin saat dibutuhkan. Strategi ini sekarang banyak digunakan produsen mobil global. Tak terkecuali Honda. CR-V generasi terbaru menjadi Honda kedua di era modern yang dipasarkan menggunakan mesin turbo setelah Civic dan Civic Hatchback di Indonesia. Basis mesin yang digunakan ketiga mobil ini pun sama, meskipun mesin turbo CR-V memiliki output yang berbeda.


Performa



Terbukti, berkat turbo tenaga yang dihasilkan mesin 1,5 liter CR-V Turbo mencapai 190 PS. Output ini bahkan lebih besar dari CR-V bermesin 2,0 liter 155 PS. Begitupun dengan torsinya 240 Nm, unggul dari saudaranya yang bermesin lebih besar dengan 189 Nm.


Memang sebagai kompensasi, bobot CR-V Turbo sedikit lebih berat karena punya lebih banyak komponen seperti turbocharger dan intercooler. Namun selisihnya tidak banyak. CR-V 1.5 liter turbo memiliki bobot 1.607 – 1.649 kg sedang Honda CR-V 2.0 liter berbobot 1.509 – 1.544 kg.



[caption id="attachment_70628" align="alignnone" width="852"] Mesin CR-V hanya 1,5-liter, tapi tenaganya setara 2,5-liter[/caption]

Karena memang ditujukan untuk penghematan bahan bakar, transmisi yang dipakai oleh CR-V ini pun adalah otomatis jenis CVT (Continuous Variable Transmission). Transmisi ini lebih hemat karena perpindahan gigi yang mulus, sehingga hampir tak ada energi yang terbuang seperti saat jeda pergantian gigi pada transmisi otomatis konvensional maupun transmisi manual.


Namun ini entah disengaja atau tidak, yang kami rasakan justru transmisi CVT-nya membuat tarikan awal CR-V Turbo seakan kurang responsif. Tenaga yang dimuntahkan mesin tak diterjemahkan secara instan oleh transmisinya ke roda. Sempat ada jeda sampai akhirnya momentum tenaga puncaknya meletup di 5.600 rpm.


Awalnya kami mengira ini turbo lag. Tapi CR-V pakai turbo jenis variabel geometry yang mengatur pasokan angin ke turbin, selalu optimal di setiap rentang putaran mesin. Bahkan gejala ini semakin terasa ketika mode ECO diaktifkan. Kami curiga, memang sengaja dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan penyaluran tenaga yang lebih moderat untuk efisiensi bahan bakar yang lebih baik. Tapi ingat, bukan berarti performanya tak bisa diandalkan loh!



[caption id="attachment_70627" align="alignnone" width="852"] Mesin bensin berbasiskan MR20DD[/caption]

Di lain pihak, Nissan menggunakan pendekatan yang berbeda pada X-Trail dengan memasang motor listrik (hybrid). X-Trail dijual dalam dua pilihan mesin, yakni 2,0 liter dan 2,5 liter. Kapasitas mesin yang besar tentu menghasilkan konsumsi bahan bakar yang besar pula. Itu sebabnya Nissan memilih varian bermesin paling kecil (2,0 liter) untuk dipasangkan motor listrik supaya peningkatan efisiensi bahan bakar signifikan.


Di Indonesia, sudah ada beberapa mobil hybrid yang lebih dulu hadir. Toyota Camry dan Alphard, misalnya. Bedanya teknologi hybrid X-Trail dengan kedua mobil itu, mobil ini bisa melaju dalam mode berkendara full elektrik. Saat melaju dalam mode elektrik, mesin bensin benar-benar mati, sehingga sensasi mengendarai mobil listrik bisa dirasakan. Suara kabin yang hening semakin senyap, karena yang terdengar hanyalah suara artikulasi roda dengan jalan. Ini sangat terasa saat melaju di malam hari dalam kecepatan rendah di lingkungan perumahan.



Karena suaranya sangat sunyi, untuk faktor keselamatan pejalan kaki, X-Trail membunyikan suara artifisial ke bagian luar mobil sebagai penanda ada mobil yang melintas. Begitupun saat parkir mundur, terdengar suara peringatan layaknya truk yang sedang berjalan mundur.


Bagaimana dengan performanya? Ketika pedal gas dibejek dalam, otomatis mesin bensin hidup dan tiba-tiba jarum rpm loncat dari nol ke angka ribuan. Transisi saat mesin bensin bangun dari tidurnya sangat halus dan takkan dirasakan oleh pengemudinya. Saat mesin bensin hidup, ia juga berfungsi untuk mengisi kembali energi baterai penggerak motor listriknya. Motor listriknya juga bisa ikut membantu memutar roda untuk menghasilkan performa yang lebih baik.


Total output yang dihasilkan keduanya 179 PS dengan torsi puncak 200 Nm. Kalau dibandingkan dengan CR-V Turbo, di atas kertas memang X-Trail kalah. Namun ketika dikemudikan di jalan raya, sungguh perbedaannya tak begitu signifikan. Apalagi keduanya memakai transmisi otomatis CVT yang penyaluran tenaganya lembut.


Konsumsi BBM



Lantas bagaimana dengan konsumsi bahan bakarnya? Kami menguji keduanya dari Jakarta menuju salah satu pantai di daerah Merak. Perjalanan sejauh 91 km ditempuh keduanya dengan kecepatan rata-rata 59 kpj. Berkendara di waktu yang sama, kondisi lalu lintas yang sama, kualitas bahan bakar yang sama dan metode berkendara yang serupa, keduanya mencatatkan konsumsi bahan bakar yang berbeda.


Terbukti motor listrik sanggup membantu mesin 2,0 liter X-Trail mencatatkan konsumsi BBM (Bahan Bakar Minyak) yang lebih baik dengan 20,1 kpl. Sedangkan CR-V yang bermesin lebih kecil (1,5 liter), konsumsi bahan bakar yang dicapai adalah 18,1 kpl. Selisihnya 2 kpl.


Sebetulnya ini pencapaian yang signifikan bagi X-Trail mengingat mesinnya punya kapasitas lebih besar. Namun kapasitas besar tadi menjadi tidak berarti karena performanya justru kalah dari mesin 1,5 liter CR-V. Keunggulan satu-satunya X-Trail Hybrid terletak hanya pada efisiensi BBM yang lebih baik saja. Idealnya begini, karena pakai mesin lebih besar seharusnya performanya pun lebih baik dari CR-V. Barulah bisa dibilang X-Trail Hybrid menang telak dari CR-V Turbo dalam hal inovasi sistem penggeraknya.



Lebih disayangkan lagi, pengembangan teknologi, komponen motor dan baterai listrik lengkap dengan instalasinya harus ditebus dengan harga yang sangat mahal. Jadi keunggulan 2 kpl tadi pun menjadi kurang signifikan bila dilihat dari biaya kepemilikan.


Tapi kalau mengacu pada tujuan utama mencari inovasi terbaik untuk mengurangi konsumsi BBM, jelas X-Trail sangat berhasil. Cuma kalau Anda berminat memilikinya, ya itu tadi, sediakan mahar Rp 650 juta untuk menebusnya. Bandingkan dengan CR-V Turbo Prestige yang dijual dengan harga Rp 506 juta.


PENTING! Sewaktu artikel ini ditulis dan video dibuat, harga Nissan X-Trail Hybrid adalah Rp 650,1 juta. Sekarang sudah naik jadi Rp 661.650.000. (RS/Odi)


Baca Juga: Honda CR-V Turbo vs Nissan X-Trail Hybrid (Part-1)

Komparasi CRV vs X Trail

Honda CRV
Rp 462 - Rp 538,5 Juta
  • Tempat Duduk
  • Mesin
  • Tenaga
VS
Nissan X Trail
Rp 542,5 Juta
  • Tempat Duduk
  • Mesin
  • Tenaga
CRV vs X Trail

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Mobil Terbaru di Oto
  • Mitsubishi Xpander Cross | First Impression | Apa...
    • 13 Nov, 2019
    •  
  • Mitsubishi Xpander Cross | Harga Mulai Rp 267...
    • 13 Nov, 2019
    •  
  • Toyota Corolla Altis Hybrid | First Drive |...
    • 12 Nov, 2019
    •  
  • VW Tiguan Allspace 2019 | First Drive |...
    • 11 Nov, 2019
    •  
  • BMW X1 2019 | First Impression | Apa...
    • 08 Nov, 2019
    •  
  • Wuling Almaz WIND | Review | Mencoba Perintah...
    • 01 Nov, 2019
    •  

Mobil Populer

  • Populer
  • Komparasi