Penjualan Sepeda Motor 2020 Diprediksi Merosot 45 Persen, AISI Lakukan Adaptasi Pemasaran dan Layanan

Penjualan Sepeda Motor 2020 Diprediksi Merosot 45 Persen, AISI Lakukan Adaptasi Pemasaran dan Layanan

Pandemi mau tak mau menekan mobilitas masyarakat. Juga menggeser skala prioritas kebutuhan, sehingga daya beli terhadap produk otomotif melemah. Tentu secara sistemik memengaruhi angka penjualan sepeda motor. Bahkan tahun ini Asosiasi Industri Sepeda Motor (AISI) memprediksi kemerosotan hingga 45 persen dari tahun sebelumnya.

“Sebetulnya grafik penjualan 2017-2019 menunjukkan peningkatan. Angkanya hampir 6,5 juta unit. Namun kami tak dapat menghindar dalam situasi pandemi di 2020 ini. Sehingga, posisi year-to-date bulan Juli hanya mencapai 2,1 juta unit. Atau terkoreksi 42 persen dibanding periode sama 2019,” ungkap Sigit Kumala, Ketua Bidang Komunikasi AISI, dalam diskusi virtual bertajuk Actualizing the Post Normal Year 2021 & Beyond (22/9).

Ia pun memperlihatkan masa emas sepeda motor di 2011, mencapai penjualan 8 juta unit. Berbanding jauh dengan prediksi tahun ini. Bahkan jika disanding tahun kemarin sekalipun. “Tahun ini, diperkirakan hanya menyentuh 3,6 juta sampai 3,7 juta unit. Terkoreksi sekitar 45 persen dibandingkan tahun lalu,” ungkapnya.

Jika melihat lini masa, momen terpuruk terjadi setelah transisi dari kuartal pertama ke kuartal dua. Sesaat setelah diumumkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di area Jabodetabek. Makin buruk, saat kebijakan ini meliputi kota besar di seluruh Indonesia.

Impor Honda Beat Filipina Stop

“Januari hingga Maret (Q1) sebenarnya masih relatif stabil, di atas 500 ribu unit sebulan. Meskipun sebetulnya minus 6,5 persen dari periode sebelumnya. Memasuki awal April, sesaat setelah PSBB berlaku di Jabodetabek, barulah terkoreksi sampai 78 persen. Makin parah saat PSBB diberlakukan di kota besar Indonesia, kembali menurun 82,3 persen dari bulan sebelumnya,” kata Sigit.

Baca Juga: 71 Karyawan Pabrik Motor Suzuki Terinfeksi COVID-19, Produksi Diturunkan 50 Persen

Sigit menambahkan, para anggota AISI saat itu sama sekali tidak mengoperasikan pabrik. Sebab harus mengikuti protokol kesehatan, sesuai arahan pemerintah. Perubahan perilaku konsumen juga turut memengaruhi industri sepeda motor. Selain mobilitasnya berkurang, fokus daya beli tentu mengarah pada kesehatan dan makanan. Karena itu yang sifatnya sekunder dan tersier (Otomotif) menjadi tergeser.

Kendati begitu, kebijakan PSBB transisi sedikit banyak menstimulasi keterpurukan dua bulan sebelum. Pada Juni, terdongkrak lebih dari 669 persen, kembali menyentuh angka ratusan ribu unit. Data dagang Juli pun naik menjadi 292 ribuan unit atau meningkat 73,9 persen.

Adaptasi Cara Pemasaran dan Layanan

Menurut Sigit, Industri roda dua melibatkan banyak perusahaan. Prosesnya terbagi dalam banyak tingkatan, dari lini produksi hingga after sales. Lebih dari 1,5 juta orang terlibat di dalam industri roda dua. Maka itu sangat penting untuk bertahan dan berkembang lebih baik lagi.

Salah satunya memperkuat bisnis retail dengan memanfaatkan pemasaran online, dari yang sebelumnya lebih sering dilakukan offline. Semua penawaran produk dan jasa dioptimalisasi lewat proses virtual. Begitu pun layanan konsumen, seperti servis kunjungan ke rumah dan perusahaan, booking online, dengan catatan tetap memenuhi standar protokol kesehatan.

“Kolaborasi kuat dari hulu sampai hilir juga diperlukan demi mempertahankan industri roda dua. Termasuk peranan pemerintah. Begitu pula kerjasama dengan mitra bisnis, terutama bidang pembiayaan,” tutup Sigit. (Hlm/Odi)

Baca Juga: Industri Otomotif Nasional Dinilai Tetap Prospektif Lantaran Beberapa Faktor

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store