Ini 7 Motor Honda Berwajah Retro, Dari Imut Hingga Big Bike

Ini 7 Motor Honda Berwajah Retro, Dari Imut Hingga Big Bike

Berbagai model motor dijajakan PT Astra Honda Motor (AHM) di Tanah Air. Konsumen bisa memilih berbagai model, baik dari tampilan, segmen, dan harga. Satu yang menarik, AHM menjadi merek yang paling serius menggarap segmen motor retro.

Boleh dibilang hanya mereka pabrikan Jepang yang punya sederet opsi roda dua lawas meliputi segala jenis. Dari skutik entry level, bebek, hingga cruiser dan naked bike. Harganyapun beragam mulai dari puluhan juta hingga rausan juta rupiah.

Inilah tujuh daftar motor retro Honda di Tanah Air.

Honda CT125

Honda CT125

Yang paling baru ialah CT125. Merupakan wujud reinkarnasi CT series puluhan tahun silam. Dan diimpor AHM ke Indonesia, menyasar pasar para penghobi serta kantong tebal. Sebab banderolnya tak main-main. Bebek scrambler unik ini dijual Rp 75 juta OTR Jakarta.

Oke, secara tampilan mungkin interpretasinya sama dengan model lama. Honda benar-benar fokus membenahi teknologi, menyoal estetika dibiarkan otentik. Seperti motor tulang belulang dengan kelengkapan petualang. Khas CT dari dulu.

Tentu saja makanannya bukan sekadar aspal. Ground clearance cukup tinggi, apalagi dibekali ban dual purpose 80/90 17 inci depan belakang. Lebih penting lagi, posisi knalpot ada di atas. Termasuk filter udaranya. Alhasil jarak ketahanan air mumpuni.

Berbagai perbaikan dan penyematan teknologi terkini dilakukan. Modernisasi tertera mulai di kokpit. Kendati kluster pakai model bulat, tapi semuanya dipresentasikan digital. Pencahayaan depan pun pakai LED nan terang. Dua cakram juga disematkan ABS satu kanal. Soal dapur pacu juga injeksi (PGM-FI). Kapasitas bersihnya 124,89 cc satu silinder, memproduksi tenaga 8,7 Hp/7.000 rpm dan torsi 11 Nm/4.500 rpm.

Honda Monkey

Honda Monkey

Diatasnya, dengan harga sedikit lebih mahal, ada Honda Monkey. Walaupun dimensinya tak seberapa, namun pesona motor ini mudah memikat mata siapapun. AHM kini melegonya mulai Rp 77,7 juta OTR Jakarta. Naik Rp 12 jutaan sejak pertama meluncur Juli 2019.

Model ini memang sedikit unik. Honda menargetkan segmentasi sama dengan CT: Mereka yang tak peduli mengocek kantong agak dalam demi hobi, atau alasan apapun. Lagi pula, meski bagi sebagian besar orang mahal, unit impor dari AHM ini nyatanya lebih murah. Sebab sebelum itu terjadi, para importir umum memasang banderol ratusan juta rupiah.

Sama, interpretasi lawas sepenuhnya diterjemahkan pada Monkey. Dari mulai bentuk tangki, lampu, jok serta segala aksesori. Hampir identik. Tentu dengan tambahan teknologi modern yang tak menyangkut estetika. Semacam lampu LED, panel meter full digital, bahkan answer back system.

Komposisi roda gambot dan kecil. Diameterya hanya 12 inci, dengan lebar 120/80 depan dan 130/80 belakang. Polanya kasar ala dual purpose, sebab memang temanya begitu. Mengingat ia mengenakan knalpot scrambler dan suspensi upside down.

Menariknya, tak cuma ABS menjaga pengereman roda depan. Sensor itu turut dipakai untuk pengoperasian Internal Measurement Unit (IMU). Teknologi yang biasanya masuk line up moge. Hanya saja hanya dua titik. Fungsinya untuk menjaga motor dari risiko wheelie atau stoppie.

Jelas jantung pacu PGM-FI jadi sumber tenaga. Berkubikasi 125 cc SOHC dengan tenaga 9,6 Hp di 7.000 rpm dan torsi 11 Nm pada 5.250 rpm. Sangat cukup untuk bobot sebesar ini, apalagi dipadu transmisi manual empat percepatan. Sehingga momentum gerak sepenuhnya dikontrol tangan Anda.

Honda Super Cub C125

Honda Super Cub C125

Ketimbang dua motor tadi, sensasi nostalgia orang Indonesia bakal lebih relevan dengan satu ini. Honda Super Cub C125, adalah wujud reinkarnasi dari bebek tujuh puluhan, atau sering disebut bekjul. Puluhan tahun kebelakang ia sangat pamor sebagai alat transportasi harian segala kalangan. Dari muda hingga tua.

Agak berbeda dari kedua line up retro sebelum. Jika Monkey dan CT dikemas persis versi lama, Cub berdandan lebih modern. Nuansa futuristik tergambar pada setiap sisi. Mungkin ungkapan tepatnya klasik dalam interpretasi modern. Ia dijual Rp 72,7 juta OTR, untuk kawasan Jakarta.

Komposisi warna menyesuaikan tema C70 lawas. Warna dominan kebanyakan cerah, berpadu sayap depan dan tutup filter putih. Khas. Fasadnya cukup unik, alur stang membentuk huruf Y. Sementara lampu LED nan futuristik dipasang tepat di bawah garis singgung. Standarnya mengenakan sadel tunggal. Sehingga fender bulat di belakang makin terekspos.

Fiturnya canggih. Di samping pencahayaan optimal, panel instrumen tentu disajikan lewat layar digital. Informasinya lumayan lengkap. Lebih menarik lagi untuk menyalakan mesin tinggal memutar kenop dan tombol. Sebab ia dibekali sistem smart key.

Mesin tak jauh beda dari lini retro build up. Menggendong jantung 125 cc SOHC PGM-FI bertenaga 9,2 Hp di 7.500 rpm dan torsi 9,79 Nm pada 5.000 rpm. Transmisi manual empat speed jadi penyalur daya. Sementara peranti deselerasi kombinasi cakram-teromol.

Honda Scoopy

Honda Scoopy

Yang mungkin akan banyak ditemui di jalan-jalan adalah Honda Scoopy. Htak luput membenamkan konsep retro di kelas skutik. Kendati bukan sesuatu yang historis, atau kental nuansa lawas, Scoopy sah-sah saja disebut motor modern-klasik. Bentuknya yang serba bulat dan memakai ban kecil cukup memesona. Ditambah, punya fitur lengkap dan banderol Rp 19,750 OTR Jakarta, tak begitu mahal.

Memang, di segmen entry level dirinya termasuk premium. Lantaran teman-teman sekelas dijual kisaran Rp 16- Rp 18 jutaan. Tapi tak dapat dipungkiri, dari segi pengemasan, komposisi warna, sampai barang yang dipasang membuat Scoopy terasa lebih eksklusif.

Semisal, lampu depan LED bukan dipancarkan reflektor. Melainkan sudah proyektor, dikenal lebih fokus menyorot cahaya. Juga memiliki penampilan lebih elegan. Dari mulai Idling Stop System (ISS), soket 12V, sistem rem CBS, hingga anti-theft alarm. Tentu bersamaan dengan answer back system yang dioperasikan lewat remote.

Malah padanan dapur pacu 110 cc eSP lebih sempurna. Jika Beat dan Genio mengadopsi model overstroke, Scoopy memiliki perbandingan langkah dan diameter setara. Atau square engine. Hasilnya, tenaga 8,97 Hp dan torsi 9,4 Nm mampu diekstraksi, yang mana sedikit lebih besar dari sang raja jalanan. Sayang, belum ada versi baru. Sehingga struktur utama belum memakai jenis eSAF.

Honda Genio

Honda Genio

Genio, datang mencoba peruntungan kelas tengah. Dalam artian ditempatkan lebih mewah dari Beat, sementara kelasnya di bawah Scoopy. Sebab itu pula pengemasannya ada di pertengahan. Anda bisa melihat secercah nuansa lawas, secara bersamaan bentuknya futuristik. Seperti bodi Scoopy yang ditekuk agak kotak.

Persepsi soal Genio melengkapi kekosongan segmen antara Beat dan Scoopy bukan sekadar terkaan. Kalau dilihat dari segi harga pun memang begitu. Paling murah, AHM meniagakan seri CBS di Rp 17,680 juta OTR Jakarta. Lantas CBS-ISS Rp 18,15 juta OTR Jakarta, persis ada di pertengahan tanpa bersinggungan sama sekali.

Salah satu keunggulan skutik ini, ialah pemakaian rangka eSAF (enhanced Smart Architecture Frame) terbaru. Bentuknya bukan lagi pipa bulat, melainkan agak pipih dan telah melewati proses pressing serta laser welding khusus. Alhasil, bobot totalnya jadi ringam, sekaligus diklaim memberi kenyamanan serta fleksibilitas lebih.

Fitur dasarnya kurang lebih mirip. Pencahayaan utama sudah LED, lengkap dengan separator pembagi high beam dan low beam. Secara estetika cantik. ACG starter juga menjadi paket bawaan, membisukan suara proses nyala mesin. Plus soket 12V dan panel digital. Sementara tipe CBS-ISS, tentu dapat tombol untuk mematikan mesin waktu idling.

Mesin Genio merupakan jenis 110 cc eSP teranyar. Komposisinya overstroke, membuahkan tenaga 8,87 Hp di 7.500 rpm serta torsi 9,3 Nm pada 5.500 rpm. Lenkap dengan sistem injeksi elektronik, serta transmisi CVT. Yang menarik, konsumsi bahan bakar adik Scoopy ini cukup hebat. Satu liter bensin diklaim dapat membawa hingga 59,1 km, jika ISS terus aktif.

Honda Rebel

Honda Rebel

Tak berhenti di kelas pemula. Paling tidak terdapat dua wakil motor retro Honda pada segmen Big Bike. Salah satunya Honda Rebel, yang baru disegarkan Februari lalu. Honda melepasnya di Rp 189,5 juta OTR Jakarta, dengan upgrade fitur dan tampilan cukup kentara.

Fasadnya makin atraktif. Sebab lampu bulat lama bercahaya halogen kena revisi. Diganti dioda empat titik dengan lensa proyektor. Unik sekaligus sangar. Stop lamp pun LED, beserta keempat sein. Instrumen sepenuhnya digital berjenis LCD negatif, supaya mudah dibaca. Informasinya lengkap, hingga informasi posisi gigi.

Bentuk tak ubahnya dari generasi lalu. Tapi soal pemberian kelir beda cerita. Salah satu warna anyar paling atraktif adalah Matte Jeans Blue, sagat kasual juga sporty. Berikutnya Matte Armored Silver Metallic, untuk mereka yang suka gaya monokrom. Terakhir, warna lama bertajuk Graphite Black.

Pembaruan penting tertera pula dalam girboks enam percepatan. Versi baru ditambah assist dan slipper clutch. Ini menjadi penting, sebab tenaga besar berkemungkinan memberi efek mengentak saat downshift keras. Atas slipper clutch risiko ban mengunci jauh terminimalisir. Sekaligus, feedback tuas kopling jauh lebih ringan.

Adapun dapur pacu tetap. Dua silinder paralel 471 cc DOHC injeksi elektronik (PGM-FI). Komposisinya square engine, selisih ukuran bore dan stroke cuma terpaut angka desimal. Sementara rasio kompresi 10,7:1, menghasilkan output 44,9 Hp di 8.500 rpm dan torsi puncak 43,6 Nm mulai 5.500 rpm.

Honda CB650R

Honda CB650R

Penutupnya, sekaligus jadi yang termahal di antara jabaran tadi, CB650R Neo Sport Café. Honda melego naked sport cantik ini mulai Rp 292,9 juta OTR Jakarta. Dari segi wujud, rasanya ia paling berhasil memadukan konsep klasik dengan modern dalam takaran pas.

Komposisi bodi layaknya motor lama. Pakai lampu bulat, tangki berbentuk tegas namun guratnya halus, serta mengenakan model sein terpisah. Tapi headlight bundar itu diisi dioda. Sekaligus berhias DRL setengah lingkaran, membuat tatap wajahnya dramatis. Tidak memberikan kesan intimidatif, namun layak jadi sosok yang dihormati. Begitu gambarannya.

Padanan warna serba monoton juga tak membuatnya tampil heboh. Begitu minimalis dan elegan. Lantas diberi aksen kontras pada upside down depan, yakni berlabur emas. Sebagai informasi, tipe inverted fork ini SFF-BP buatan Showa. Mirip kepunyaan Ninja empat silinder, tapi lebih besar.

Harga tinggi sepadan pula dengan serangkai fitur fungsional. Girboks jelas mengadopsi assist dan slipper clutch. Begitu pula dua rem depan dan belakang terkoneksi ABS. Pentingnya lagi, sudah ada Honda Selectable Traction Control (HSTC), untuk filterisasi jumlah torsi ke roda belakang sesuai keinginan.

Seonggok mesin besar dijejali ke rangka diamond. Kami kira siapapun bakal terpuaskan dengan suara dan gapaian tenaga. Sebab basisnya empat silinder yang terkenal membunyikan suara galak. Serta sanggup melontar daya 89 Hp di 11.000 rpm dan torsi 60,7 Nm pada 8.000 rpm dari jantung 648 cc-nya. (Hlm)

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store