jakarta-selatan
kali dibagikan

First Ride Royal Enfield Himalayan Part 2: Jelajah Alam Bersama Kesederhanaan

  • 11 Des, 2019
  • 577 Kali Dilihat

Mata terbelalak kala matahari sudah tinggi. Kami kelelahan. Rencana berangkat jam delapan pagi lewat begitu saja. Tapi tak apa, di hari kedua ini, jadi momen terakhir menelaah performa Royal Enfield Himalayan. Pantai Sawarna dan jalur offroad Citorek merupakan destinasi utama. Biarpun panas menyengat, tak kami anggap rintangan berarti.


Royal Enfield Himalayan


Aspal berkelok kembali jadi santapan Royal Enfield Himalayan. Kurang lebih saat satu jam perjalanan, laut mulai terlihat. Landskap istimewa bagi pekerja Ibu Kota seperti kami. Tapi posisinya masih di atas bukit. Perlu satu jam lagi mencapai titik pantai.


Di pertengahan, tiba-tiba Road Captain membelokkan rute ke jalur offroad. Kami nurut saja. Ban depan perlahan dimasukkan ke tanah. Dan saat roda belakang mulai menyentuh, tuas kopling serta gas kami sentak bersamaan.


Sedikit spinning menjadi sensasi menyenangkan. Sambil melaju, kami mengulang itu terus. Mengasyikkan. Sejauh mata memandang, kontur bergelombang serta batu besar bertebaran. Tapi tak sulit mengatasinya. Semua dilahap dengan mudah.


Torsi berlebih dan ban Pirelli beralur semi pacul, menjadi paduan pas menggigit tanah. Mengendalikannya pun tak banyak usaha. Bobot besar itu bisa dijinakkan mudah. Adaptasi seharian kemarin, makin membuat kami menyatu dengan motor berparas klasik ini.


Ground clearance juga cukup tinggi. Tak khawatir menyangkut. Dan yang penting, kendali tangan tetap stabil berkat setelan stang agak berat. Redaman fork teleskopik dan mono shock belakang, pula membuat motor ajek. Padahal kami memacunya agak kencang. Dari sini, sudah bisa diambil hipotesa : Himalayan pantas dikategorikan sebagai motor Adventure pemula. Tapi belum usai. Masih banyak yang harus ia buktikan di rintangan terakhir nanti.


Kala kami keluar dari lajur itu, ada satu hal yang baru disadari. Hamparan tanah tadi ternyata bekas hutan terbakar. Lebih tepatnya lagi dibakar. Apa lagi selain modus membuka lahan produksi para manusia tamak? Klise. Penjahat agraria terorganisir dan abadi di bumi Nusantara.


Royal Enfield Himalayan


Ya, terlepas itu, perjalanan kami terus berlanjut. Hingga tibalah di tepi laut. Derai ombak Sawarna akhirnya di depan mata. Kami menepi di salah satu kedai kecil, sekaligus istirahat dan memandang sosok Himalayan dalam panorama berbatas langit.


Keren. Memang pas membawa dia ke sini. Aura adventure Himalayan begitu kental, walau tak pakai ornamen heboh. Maskulinitasnya natural. Sederhana. Komposisi motor hanya berupa lampu bundar, tangki kotak serta stoplamp minimalis. Bahkan sumber pencahayaan depan belum LED. Hanya di belakang saja yang sudah.


Pernyataan lugasnya sebagai motor tualang, ada di beberapa aspek. Bentangan tulang yang mengurung sebagian tangki salah satunya. Di situ pula emblem Royal Enfield terpasang. Selain membuat kekar, permukaan tangki terhindar dari risiko terbentur. Boleh jadi kepala silinder pun ikut terlindungi saat motor roboh ke samping.


Lantas windshield, lumayan tinggi. Bagian dada cukup terlindung dari empasan angin. Tapi tidak kalau kepala. Dimensinya tak setinggi itu. Terakhir, ada rak besi yang berfungsi untuk menaruh barang. Atau pun bisa menjadi genggaman jika motor perlu ditarik dan didorong.


Secara utuh, garis-garis Himalayan sebetulnya cenderung biasa. Desainernya bukan seorang brutalis. Condong mengikuti norma. Namun corak klasik dan sederhana ini yang kami suka. Balik lagi, ini hanya persepsi pribadi. Sah jika Anda tak setuju.


Royal Enfield Himalayan


Momen absurd, tak lama datang. Begini, kita semua tahu, menerjang pasir pantai itu tak mudah. Bisa repot nantinya. Tapi apa yang kami putuskan? Berkendara masuk ke tepian! Sulit menahan rayuan gemuruh ombak dan sayang jika motor ini tidak dicicip begitu.


Tak butuh waktu lama, "kekonyolan" itu pun datang. Roda belakang kami menggali. Habis terkubur pasir pantai. Ada trik khusus untuk recovery sebetulnya. Turun dari motor - tuntun sembari menggoyangkan stang - gas perlahan, jangan sampai menggali lebih dalam. Sayangnya, kali ini tak berhasil. Posisi motor terlalu masuk. Begitu pun kerabat-kerabat lain. Satu-satunya jalan, mencampur daya kuda dan beberapa tenaga manusia untuk menyelamatkan tunggangan kami masing-masing.


Bekalan bensin 15 liter (full tank) dari Jakarta mulai terkuras. Sisa seperempat bar saja. Bahan bakar eceran pun jadi pilihan satu-satunya, khawatir tak ada lagi yang jual. Nah, perlu diketahui, rasio kompresi mesin hanya 9,5:1. Berikut tak satu pun teknologi yang memaksa ia harus pakai RON tinggi. Maka meminum Pertalite (oktan 90) bukan jadi masalah. Soal seberapa haus motor ini, dalam perhitungan kasar kami, ia mencapai angka 24 kpl. Lumayan bagus untuk motor 400 cc.


Usai itu, kami berkelana lagi. Inilah trek terakhir, paling ditunggu-tunggu. Jalan Panggarangan - Citorek dihiasi batu kali, kerikil dan tanah saja. Jaraknya 12 km lebih. Otomatis tekanan ban harus kami kurangi. Traksi di medan offroad, lebih baik jika sedikit kempes. Terlalu keras malah membuat efek membal sekaligus mengurangi gigitan permukaan ban.


Tanpa ragu, gas kami putar dalam-dalam. Posisi tubuh setengah berdiri, dengan badan agak merunduk. Bukan gaya-gayaan. Ini memang posisi ideal melibas permukaan batu. Jika duduk, goncangan makin terasa dan malah kurang stabil.


Puas sekali rasanya, karena lebih banyak menanjak tajam, kami jadi tak akrab dengan rem. Gas dan tuas kopling saja yang digunakan. Selama disiksa begitu, Himalayan tak ada gejala hilang performa. Teriakannya pelan namun terus merangkak naik. Jika diinterpretasikan, seperti mesin diesel yang badak.


Tiba-tiba, petir dan hujan menyambar. Lengkap sudah perjalanan hari ini - offroad sambil diguyur air. Kami semua pun tak memutuskan berhenti. Terus mendaki dalam kecepatan tinggi. Rata-rata, kami melaju di 60-80 kpj di atas permukaan batu. Sampai kerikil berbunyi nyaring di kolong dek. Untung saja sudah ada skid plate, jadi blok mesin terlindungi.


Hingga sampai di titik turunan curam, perasaan cukup gamang. Selain harus mengurangi kecepatan, ketangkasan mengendalikan roda selip dan momentum engine brake dibutuhkan. Kami beberapa kali hampir terpeleset, mengingat motor ini belum ada slipper clutch. Saat downshift terlalu cepat, roda belakang mengunci dan menggelincir.


Terlalu keras menginjak rem juga bisa berakibat fatal. Belum ada ABS. Bagusnya ditekan perlahan, serta menggabungkan tuas depan dan pedal rem belakang supaya optimal. Salah satu teman kami sempat terjatuh akibat tak adanya slipper clutch dan ABS.


Sekitar dua jam terus menerus begitu, akhirnya kami finis di Citorek. Tempat yang kini disebut negeri di atas awan. Pas sekali, matahari baru mau terbenam. Sekeliling terlihat oranye dengan gumpalan awan persis di depan mata. Indah. Ya, perjalanan setelah itu hanya menuju Jakarta, tak ada yang perlu diceritakan rasanya.


Royal Enfield Himalayan


Waktunya menyimpulkan! Yap, kami suka dengan karakter Himalayan. Ia galak di medan-medan curam dan ekstrem. Sesuai tema motornya. Namun yang suka melaju agresif di aspal datar, dijamin tak puas.


Tapi, ada sebuah kekurangan yang mungkin bisa mengubah hasrat seseorang, suara! Bebunyian dari knalpotnya, sama sekali tidak menggugah. Alunan satu silinder tak merdu didengar. Ganti exhaust? Ya, mungkin bisa sedikit mengobati. Namun sepengalaman kami mendengar di jalanan - kondisi memakai sistem pembuangan aftermarket. Biasa saja. Suara Himalayan bagaimanapun tak segarang torsinya.


Untuk harga Rp 101,5 juta OTR Jakarta, kami rasa tak ada pilihan lagi di kelas 400 cc. Sudah cukup ekonomis. Bagi para pemula yang baru main moge adventure, Himalayan rasanya pantas dijadikan opsi.


(Hlm/Van)


Baca Juga: Part - 1, Jelajah Bersama Kebersamaan

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Royal Enfield Himalayan

Lihat video terbaru Royal Enfield Himalayan untuk mengetahui bagaiamana mesin, desain, konsumsi BBM, performa & lainnya.

Motor Royal Enfield Pilihan

  • Populer
  • Komparasi