First Ride Royal Enfield Himalayan Part 1: Jelajah Alam Bersama Kesederhanaan

Gambar
Review Pengguna

Boleh jadi ini lebih dari sekadar First Ride. Kami mengetes Royal Enfied Himalayan di habitat sesungguhnya - dua hari penuh - berjarak 430 km lebih. Taman Nasional Gunung Halimun, Pantai Sawarna, lajur batu Citorek dan kembali lagi ke Jakarta.

Royal Enfield Himalayan

 

Rute ini rasanya cukup untuk menerjemahkan data matematis Royal Enfield Himalayan ke realitas. Ary Muliawan, Rides & Community Manager Royal Enfield Indonesia, yang ikut dalam jelajah ini pun bertutur pada kami, untuk tak ragu menyiksa Himalayan. Kami tanam terus ucapan itu, tak ada rasa takut memeras habis taji motor Adventure India berdarah Inggris ini.

Berangkatlah kami dari kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) di pagi hari. Sejak 15 menit pertama, tak diberi lagi jalur aspal luas dan halus. Ary yang memimpin jalan, tak mau membiarkan roda dua jagoannya manja. Sengaja dipilih kontur berlubang, perkampungan sempit, hingga landskap sub-urban yang kami pun tak pernah melihatnya.

Tapi karena jalur semacam itu, ada satu hal yang langsung disadari. Menaiki Himalayan tak ada canggungnya. Padahal dalam keadaan kosong, beratnya mencapai 191 kg. Melihatnya saja sudah berekspektasi macam-macam. Kuatkah kami mengendalikannya di jalur off-road? Bagaimana jika terjatuh? Mengingat dimensinya juga besar.

Namun, semua itu terlupakan saat melaju. Tak butuh adaptasi banyak. Walau mengusung mesin 400cc, impresi kami tak jauh beda dengan menunggangi kuda besi yang jauh lebih kecil. Bahkan statusnya sebagai dual purpose (motor tinggi), memiliki jarak pijak ergonomis. Postur standar sekitar 170 cm, masih sangat mudah menapak tanah dengan baik. Maka tumbuhlah rasa percaya diri untuk menjinakkan figur tadi.

Di hari pertama, ruas jalan menuju destinasi akhir belum butuh banyak usaha. Masuk Bogor, lebih banyak jalan aspal berkelik kelokan hingga Sukabumi. Ya, tipikal jalur antar-kota yang membelah pegunungan. Dan menurut kami, Himalayan andal menerjang kontur semacam itu. Impresif.

Memang, tidak ada yang spesial dengan daya kudanya. Walau ia berbekal mesin satu silinder 411 cc injeksi, output maksimalnya cuma 24,5 hp dan baru bisa diraih pada 6.500 rpm. Besar? Sama sekali tidak. Payah. Motor adventure 250 cc dari Jepang saja sanggup memberi lebih dari itu. Sebutlah CRF 250 Rally dan Kawasaki Versys 250. Di jalan lurus kalian pasti tertinggal jauh.

Royal Enfield Himalayan

Lantas maksud Royal Enfield Himalayan impresif di sini, ia berlaga layaknya motor tualang sejati. Ramuan silinder overstroke (78 mm x 86 mm) berhasil memberi torsi sangat melimpah, sekaligus mudah diraih. Dalam catatan angka, besarannya 32 Nm dan sudah muncul pada 4.250 rpm!

Itu pun sesuai dengan kenyataannya. Tak sulit menarik momentum motor ini di tanjakan. Bermain-main di gigi dua dan tiga sudah cukup. Jarang muncul gejala ngelitik, lajunya kuat-kuat saja. Jujur, hampir tak butuh kami memutar gas hingga putaran tinggi. Rasio gear juga besar-besar, dia bernapas terus tanpa tertatih.

Ada satu hal yang pasti jadi pertanyaan, soal getaran mesin. Perlu diketahui, basis jantung pacu berkode LS 410 SOHC ini, sama sekali berbeda dengan milik saudara-saudaranya. Paling utama, ia sudah menggunakan rantai keteng, bukan push rod.

Dilanjut, kini terdapat balancer pada kruk as. Alhasil reduksi getaran berhasil diperbaiki. Bukan berarti hilang sama sekali. Sejauh yang kami rasakan, di atas 6.000 rpm rasa getar itu ada. Tapi memang jauh lebih baik ketimbang seri 500 maupun 350.

Beranjaklah kami ke jalan yang sedikit lurus. Tangan kanan mengepal, menarik habis tuas gas. Jarum rpm kami paksa menyentuh red line dan berpindah gigi seakurat mungkin. Angka 130 kpj mudah dicapai. Namun sensasi getar di kecepatan tinggi memang tak menyenangkan. Semakin paham, kecepatan bukanlah esensi motor ini.

Lalu apa yang bisa disajikan saat bermanuver di tikungan? Sejauh ini, baik-baik saja. Tapi perlu berhati-hati saat merebah, karena mengembalikan ke posisi semula agak berat, begitu juga kemudinya. Wajar saja ini motor jangkung. Namun akurasi fork teleskopik dan monoshock di belakang rasanya cukup buat ukuran motor jenis begini. Tidak terlampau limbung walau rebound-nya empuk.

Berikutnya soal fitur, hampir tak punya apa-apa. Dari teknis mesin hingga perangkat yang tertanam sederhana. Tapi kami suka dengan bentuk instrumen klusternya. Satu lingkaran besar memandu kecepatan. Sementara tiga lainnya yang lebih kecil, menunjukkan sisa bensin, takometer serta kompas digital. Lantas pada layar berwarna oranye, tertera informasi suhu, waktu, posisi gear dan trip meter. Fungsional. Jangan harap ada cruise control, mode berkendara, maupun embel-embel canggih. ABS saja absen.

Singkat cerita, pukul delapan malam kami tiba di peginapan di Sukabumi. Perjalanan kurang lebih memakan waktu sebelas jam - termasuk istrahat makan - ditambah pula sesi foto dan menikmati pemandangan alam pegunungan. Wajar jika cukup lama.

Royal Enfield Himalayan

Turun dari motor, tangan terasa sangat pegal. Dan yang kami sadari, semua ini akibat posisi duduk yang kurang proporsional. Agak menunduk. Tangan terlalu bertumpu ke stang. Walau figurnya lebar, tapi agak jauh digapai. Sekaligus kurang tinggi.

Namun, saat kami tanyakan ke salah satu kerabat yang memiliki postur jauh lebih tinggi, ia tak merasa begitu. Mungkin, setelan ini kurang cocok buat ukuran tubuh standar orang Indonesia. Menambah riser atau mengganti fatbar bisa menjadi solusi. Karena titel motor tualang, seharusnya memiliki posisi duduk tegak dan nyaman. (Hlm/Van)

Berlanjut ke Part 2

Baca Juga: Menguji Skutik Gaya Adventure, Honda ADV150 di Bali

Jelajahi Royal Enfield Himalayan

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store