Jepang Alami Kemerosotan Ekonomi, Industri Otomotif Ikut Terjerembab

Jepang Alami Kemerosotan Ekonomi, Industri Otomotif Ikut Terjerembab

Lantaran wabah COVID-19, Jepang harus menelan pil pahit. Negeri Matahari Terbit alami resesi ekonomi selama triwulan pertama. Pertumbuhan mereka minus 3,4 persen selama Januari hingga Maret 2020. Namun angka itu dikatakan sedikit lebih baik dari yang diramalkan, dekaden 4,5 persen. Pemerintah tidak menerapkan lockdown, tapi mengumumkan darurat nasional pada April. Sehingga mengganggu rantai pasokan dan bisnis. Termasuk sektor otomotif.


Ekonom, analis serta pembuat kebijakan menyebut, keterpurukan masih berlanjut. Mereka memproyeksikan kontraksi hingga 21,5 persen pada kuartal kedua atau hingga Juni 2020. "Dipastikan kuartal kedua ini menjadi jauh lebih buruk. Banyak perusahaan berjuang untuk mendapatkan pendanaan. Dan itu menunjukkan investasi bisnis masih tetap lemah. Kemudian banyak pekerja khawatir tentang upah mereka," terang Takeshi Minami, ekonom Norinchukin Research Institute, seperti dilansir Japan Times.


Baca Juga: Berbagai Langkah Toyota untuk Selamat di Tengah COVID-19


Krisis sontak menekan pembuat kebijakan untuk berusaha memperbaiki keadaan dengan stimulus. Pemerintah sana mengucurkan dana 117 triliun yen, yang mencapai lebih dari 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Bank of Japan bulan lalu mengerek plafon pembelian obligasi, karena pemerintah meningkatkan pengeluaran. BOJ juga diharapkan untuk mengenalkan program pinjaman untuk perusahaan terdampak COVID-19.


japan car industry


Otomotif


Informasi lain menunjukkan, ekspor turun 6 persen selama kuartal pertama. Bahkan Toyota Motor Corp, raksasa otomotif di negara itu, merasakan penurunan laba 80 persen pada tahun fiskal ini. Kemudian penjualan kendaraan baru secara nasional pada April turun 28,6 persen dari tahun lalu. Totalnya menjadi 270.393 unit. Bahkan besarannya kian mengecil selama tujuh bulan berturut-turut. Sebab COVID-19 ikut menginfeksi permintaan kendaraan.


Di luar Kei Car (sejenis LGCG di Indonesia). Jumlah itu dinilai sebagai terlemah sejak dari data perolehan 1968, menurut Asosiasi Dealer Otomotif Jepang. Hasil selama April pula menjadi terburuk sejak 2009 selama krisis keuangan global. Juga pada Maret 2011, usai gempa besar dan tsunami melanda pantai Pasifik Tohoku.


Nah, kemudian penjualan Kei Car dengan kubikasi enjin hingga 660 cc merosot 33,5 persen, menjadi 98.255 unit. Juga ikut turun selama tujuh bulan berturut-turut, menurut Asosiasi Kendaraan Mini Jepang. Pandemi Corona terus menghambat penjualan. Memaksa produsen mobil besar sekelas Toyota Motor Corp, Honda Motor Co dan Nissan Motor Co, untuk memangkas produksi.


Pemerintah Jepang menyatakan keadaan darurat selama sebulan penuh demi memperlambat penyebaran virus. Jadi mengharuskan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah. Sehingga mau tak mau putaran roda ekonomi tersendat. Pukulan telak jua datang dari kenaikan pajak konsumsi 1 Oktober 2019. Dari 8 persen menjadi 10 persen. Otomatis penjualan kendaraan niaga seperti truk, bus dan mobil mini juga turut terbebani. (Alx/Odi)


Sumber: Japantimes


Baca Juga: Penyesuaian Industri Otomotif di Tengah Pandemi COVID-19

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store