Toyota Ekspektasikan Penurunan Laba Hingga 80 Persen Akibat Corona

Toyota Ekspektasikan Penurunan Laba Hingga 80 Persen Akibat Corona

Imbas kerugian dari virus corona jelas dirasa oleh pabrikan otomotif dunia. Kenyataan cukup mengkhawatirkan, bahkan raksasa pun terdampak. Melansir dari Reuters, baru-baru ini Toyota memprediksi penurunan laba operasional sebesar 80 persen. Kembali ke titik terendah dalam sembilan tahun terakhir.

Pada tahun fiskal 2019 – berakhir Maret 2020 – Toyota mencatat penurunan laba sebesar 160 miliar Yen (Rp 22 triliun). Hal ini akibat penjualan tahunan terpangkas 127 ribu unit, dari rekor 10,6 juta pada tahun sebelumnya. Paling terasa dari salah satu pasar utama mereka, Amerika Utara. Di sana, penjualan selama kuartal pertama anjlok sampai 8 persen.

Untuk tahun fiskal berakhir Mei 2021, jumlah penjualan diramalkan turun drastis sampai 8,9 juta mobil saja. Turun dari 10,46 juta dari periode sebelum. Namun mereka tetap optimis mendapat laba, hanya saja jeblok 80 persen. Hitungan target operating profit 500 milyar Yen, terjun bebas dari 2,44 triliun Yen. Ini merupakan profit paling loyo sejak tahun fiskal 2011/12.

Baca Juga: Toyota Hybrid Tembus Penjualan 15 juta Unit, Masih Banyak Model Anyar Menanti

Gambaran Toyota ini dapat menjadi bayangan betapa beratnya perjuangan pabrikan otomotif agar bisa pulih. Bagaimana tidak, mereka adalah salah satu raksasa otomotif paling profitable. Meski begitu, satu per satu jenama besar memulai kembali operasional pabrik. Dieksekusi perlahan seiring pelonggaran regulasi yang membatasi gerak para pekerja. Pun belum bisa sepenuhnya pulih lantaran pandemi belum usai.

Toyota global production

Output dari industri sendiri akan terbatas. Pasalnya, rantai pasokan terganggu, belum lagi penerapan standar operasional baru guna mencegah penyebaran virus. Jumlah giliran kerja dan jumlah pekerja mungkin dibatasi. Tak hanya itu, perusahaan tentu akan menyesuaikan kapasitas dengan jumlah permintaan. Saat banyak orang kehilangan pekerjaan, dan perhatian soal krisis ekonomi, pertimbangan membeli barang seperti mobil juga akan menjadi nomor kesekian. Tidak mungkin untuk melakukan produksi sebanyak mungkin.

“Virus korona telah memberi kami guncangan yang lebih hebat ketimbang krisis keuangan global 2008,” jelas Presiden Toyota, Akio Toyoda saat media briefing secara live stream. Ia menambahkan, "Kami mengantisipasi penurunan drastis pada volume penjualan. Meski begitu, kami tetap berekspektasi tetap bertahan di zona hitam (profit). Kami berharap dapat menjadi pemimpin pemulihan ekonomi negara ini.”

Pabrikan otomotif Jepang sedang bersiap menghadapi ambruknya penjualan selama setahun. Sebagaimana pandangan para ekonom melihat butuh waktu untuk proses recovery. Hasilnya, beberapa analis menilai akan terjadi pemangkasan jumlah penjualan global tahunan sampai sepertiga bagian. Jauh lebih besar daripada saat krisis keuangan global yang mencatatkan penurunan 11 persen. Toyota berekspektasi penjualan tetap lemah sampai Desember, sebelum kembali ke tingkatan 2019 pada tahun berikut.

Walau profit melemah dan marjin penjualan terpotong, dikabarkan upaya pengembangan tetap di taraf normal. Total lebih dari 1 triliun Yen dianggarkan untuk belanja modal dan investasi litbang, tidak berbeda jauh dari periode sebelum. “Kami tidak dapat berhenti berinvestasi untuk masa depan,” jelas Operating Officer, Koji Kobayashi, kepada Reuters. (Krm/Odi)

Sumber: Reuter, Channel News Asia

Baca Juga: Akankah Layanan Digital Jadi The New Normal Usai Pandemi COVID-19?

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store