• Wishlist

Rivalitas Zaman Setrum, Pilih Hyundai Ioniq atau Nissan Leaf?

Rivalitas Zaman Setrum, Pilih Hyundai Ioniq atau Nissan Leaf?

Terasa atau tidak, langkah kita menuju zaman kendaraan dengan tenaga listrik alias setrum kian dekat. Eksistensi unit Nissan Leaf nyata, minimal pernah merasakan aspal ibu kota. Bahkan Hyundai Ioniq sudah mulai dipasarkan meski belum terlalu digembar-gemborkan. Keduanya bisa dikomparasi sebab sama-sama meramaikan segmen Electric Vehicle (EV) terjangkau di pasar global. Lantas bila nanti harus memilih, kira-kira pilih siapa?


Hyundai Ioniq retail pakai lampu LED


Gaya


Meski membawa identitas EV, keduanya tidak dirancang menyolok seperti kebanyakan jenama anyar. Tidak ada upaya memamerkan lekuk yang sanggup memalingkan pandangan tiap orang. Mereka tampil sederhana, bagai kebanyakan model mobil di jalan raya. Jadi soal desain, sepenuhnya sesuai selera masing-masing. Orang awam mungkin tidak mengindahkan ketika mereka melintas.


Ada perbedaan profil di rancangan luar. Nissan menciptakan Leaf sebagai EV hatchback, sementara Hyundai mendesain Ioniq sebagai model sedan tak berbokong alias liftback. Kendati begitu, ukuran keduanya hampir identik, terutama di catatan memanjang hanya berselisih 20 mm. Sila bandingkan, Leaf mencatat 4.490 mm x 1.788 mm x 1.530 mm lawan Ioniq 4.470 mm x 1.820 mm x 1.450mm. Selisih satuan sentimeter di sudut terluar tidak menunjukkan suatu signifikansi.


Potensi


Kesampingkan gaya, karena itu cenderung berkaitan dengan selera objektif. Justru penekanan utama soal mobil listrik adalah potensi penggerak. Seberapa kuat keluaran daya berikut seberapa jauh ia sanggup berjalan. PT Hyundai Mobil Indonesia sudah merilis data spesifikasi Ioniq yang akan dipakai untuk Grab. Pun dikabarkan sudah boleh dipinang konsumen umum. Lain cerita soal Nissan, belum ada ‘hilal’ terkait kapan Leaf akan diniagakan.


nissan leaf


PT HMI membawa Ioniq dengan bekal baterai 38.3 kWh. Berdasar perhitungan WLTP (Worldwide Harmonized Light Vehicle Test Procedure) daya jangkau mencapai 182 mil atau sekitar 293 km. Andai bakal dipakai selama lima hari untuk beraktivitas, berarti jatah harian sebanyak 58 km tanpa 'dicas'. Namun perhitungan ini tidak saklek, ada variabel lain berpengaruh dalam kenyataan, seperti suhu dan cara berkendara.


Baca Juga: Hyundai Ioniq Versi Grab Beda Dengan Retail, Ini Detailnya


Sebagai pembanding, paling setara adalah Leaf biasa tanpa imbuhan e+. Ia mengadopsi baterai 40 kWh dengan klaim tempuhan WLTP hingga 270 km. Kalau dibagi lima hari jadi 54 km per hari saja. Percayalah nanti butuh strategi penjatahan jarak tersendiri kalau Anda mulai menggunakan KBL (Kendaraan Bermotor Listrik). Lantaran pengisian ulang tidak semudah dan secepat mengisi bensin. Teknologi belum sampai di tahap itu.


Di samping daya jangkau, output motor listrik merupakan hal yang selalu membuat penasaran. Karakteristik pun bisa jadi sangat menyenangkan, konon torsi instan tersedia sejak pedal diinjak. Motor Ioniq sanggup mengail tenaga hingga 136 PS. Biasa? Tunggu dulu, angka torsi mencapai 295 Nm. Leaf lebih hebat lagi, keluaran tenaga mencapai 149,6 PS dengan momen puntir fantastis 320 Nm. Torsi berlimpah ini jarang ditemui di hatchback perkotaan bermesin konvensional.


Interior Hyundai Ioniq EV


Kabin dan Teknologi


Rancangan desain luar mengalun seirama sampai ke interior. Tidak mau memamerkan jati diri KBL. Terlebih pada Leaf, di panel instrumen tetap tersedia cluster analog bersanding monitor. Head Unit terbenam bukan berupa layar ekstra besar, kian mencirikan mobil konvensional. Mungkin ditujukan agar peralihan ke zaman setrum tidak terlalu mengagetkan. Mengingat ia punya kodrat sebagai EV terjangkau.


Namun, di balik kesederhanaan rancangan, tersemat teknologi mutakhir. Diantaranya fitur ProPilot dan e-Pedal. ProPilot memungkinkan pengendalian swatantra di satu jalur. Gas, rem, dan kemudi secara otonom bekerja tanpa perlu input pengemudi. Begitu juga saat parkir. e-Pedal menjadi bagian transformasi cara berkendara satu pedal. Saat melakukan komutasi, pedal gas mengatur laju sekaligus daya henti – kecuali harus mengerem mendadak.


Juga terpancar nuansa tak berlebihan di Ioniq. Permainan desain cenderung kekinian berkat floating screen di tengah. Meski begitu, komposisi ini tidak tampil terlalu futuristis. Layar panel instrumen tetap terpisah, bersemayam di bawah tudung bak mobil konvensional. Ada satu komponen yang berhasil membuatnya seperti terlahir dari masa depan yakni selektor transmisi. Hyundai memberikan sentuhan ala tombol arah di stik konsol gim.


Interior Nissan Leaf 2018


Teknologi Ioniq mungkin tidak sehebat Leaf, meski tetap bisa disandingkan. Ada paket Hyundai SmartSense, asisten pengendara untuk memonitor keadaan sekitar guna melindungi dari potensi celaka. Termasuk di dalamnya terdapat Forward Collision Warning beserta Avoidance Assist. Lane Keeping Assist dan High Beam Assist juga masuk ke dalam komponen standar.


Simpulan


Untuk model dalam negeri mungkin belum bisa dikomparasi secara nyata. Lantaran belum ada kepastian dari Nissan kapan Leaf mulai berlaga. Bila mengacu skenario di atas, ada probabilitas ProPilot tidak bisa diadaptasi. Jadi, soal pertarungan teknologi bisa jadi imbang. Terkait potensi, Ioniq unggul di jarak tempuh sementara Leaf memenangkan gelontoran tenaga. Soal desain? Jelas balik lagi ke diri masing-masing, suka gaya hatchback atau liftback. (Krm/Tom)


Baca Juga: First Drive Nissan Leaf: Kesan Pertama “Biasa Saja” Terhadap Mobil Listrik (Part-1)