Hyundai Ioniq Versi Grab Beda Dengan Retail, Ini Detailnya

Hyundai Ioniq Versi Grab Beda Dengan Retail, Ini Detailnya

Tren kendaraan listrik semakin berkembang di segmen fleet. Bila sebelumnya Bluebird menggandeng Tesla dan BYD sebagai penyedia armadanya, kini giliran Grab bekerjasama dengan Hyundai. Perusahaan penyedia taksi berbasis aplikasi itu menggunakan sedan Ioniq elektrik. Sebagai model untuk fleet, tentu ada perbedaan spesifikasi dengan unit yang dijual secara retail. Apa saja?


Hyundai Ioniq retail pakai lampu LED


Penyesuaian spesifikasi untuk segmen fleet memang perlu dilakukan. Hal ini untuk menekan biaya pembelian unit. Biasanya, beberapa fitur dilepaskan, atau komponennya dipilih yang lebih ramah bujet. Untuk Ioniq versi Grab, pembedanya terletak pada tampilan dan kelengkapan perangkat.


Menurut Hendrik Widjaja, Deputy Marketing Director PT Hyundai Mobil Indonesia, eksteriornya tak memiliki penerangan utama berteknologi LED, melainkan proyektor halogen. Ini juga berlaku pada lampu kabut. Namun begitu, ia masih memakai daytime running light dan lampu belakang kombinasi LED.


"Yang ada di showroom, itu untuk market retail. Market fleet itu fiturnya berbeda, terutama dalam option. Yang digunakan di fleet itu low spec," ucap Hendrik saat ditemui di diler Hyundai Simprug, Jakarta, pekan lalu (24/01).


Baca Juga: Spesifikasi Mobil Listrik Hyundai Ioniq yang Menjadi Armada Grab


Pembeda lain terletak pada fitur, seperti tak adanya kamera parkir belakang. Padahal ini dapat membantu pengemudi saat parkir mundur, sehingga lebih aman. Tapi, perangkat keselamatan aktif tetap disematkan, seperti Anti-lock Braking System (ABS), Electronic Brake Distribution (EBD) dan Hill-start Assist Control (HAC). Begitu pula kantung udara yang jumlahnya mencapai 7 titik, sehingga perlindungan terhadap seluruh penumpang tetap optimal.


Interior Hyundai Ioniq EV


Diferensiasi berikutnya, jok yang tak memiliki pengaturan elektrik. Masih memanfaatkan tuas manual. Tentu penggunaannya akan memangkas harga jual. Komponen yang membedakan lagi adalah hilangnya wireless charging. Padahal fitur ini sangat berguna untuk mengisi daya gawai komunikasi elektronik, lantaran lebih praktis ketimbang colokan konvensional. Kendati belum begitu banyak yang menggunakan smartphone dengan dukungan pengisi daya nirkabel.


Walau ada sejumlah perbedaan, mobil listrik Ioniq yang dipakai Grab dikatakan tetap memakai platform sama. Sumber energi untuk menggerakkan motor listrik berasal dari baterai berkapasitas 38,3 kWh. Estimasinya, ia mampu melaju sejauh 373 km (dari baterai penuh sampai habis). E-Motor atau Permanent-magnet Synchronous Motor yang diusung dapat menghasilkan tenaga sebesar 136 PS dan torsi 295 Nm. Sangat cukup untuk menghadapi jalanan perkotaan, khususnya di Jakarta.


Ioniq yang masih diimpor dari Korea Selatan dipersenjatai segudang kecanggihan. Termasuk adanya mode berkendara Eco, Comfort dan Sport. Ketiganya bakal menyesuaikan kinerja kendaraan, baik untuk mengejar efisiensi atau performa tinggi. Ada pula paddle shift yang dipasang pada mobil.


tampak belakang Hyundai Ioniq


Menariknya, ia bukan digunakan sebagai pengganti gigi, melainkan pengatur tingkat pengereman regenerative. Semakin tinggi tingkatannya, maka pengeremannya bertambah kuat, yang berdampak pada peningkatan pengisian baterai. Sementara untuk pengisian daya baterai bervariasi. Bila memakai charger on-board standar 7,2 kW membutuhkan waktu 6 jam. Namun, penggunaan fast-charging 50 kW, hanya memakan waktu 57 menit (dari nol persen ke 80 persen). (Hfd/Tom)



Baca Juga: Hyundai Tucson Facelift Mengaspal, Apa Saja yang Berubah?

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store