jakarta-selatan

First Drive Nissan Leaf: Kesan Pertama “Biasa Saja” Terhadap Mobil Listrik (Part-1)

  • 22 Mar, 2019
  • 506 Kali Dilihat


Mobil listrik menakutkan? Adakah potensi mobil korslet saat menerjang hujan? Bisakah menerobos genangan yang cukup dalam? Mengisi daya baterainya ribet? Harganya mahal? Itu beberapa kekhawatiran yang menghantui tatkala menyebut mobil listrik. Kami coba temukan jawaban atas misteri itu ketika menguji Nissan Leaf di Hong Kong.



Kami berkesempatan menguji Leaf generasi kedua, pekan lalu. Dalam gelaran Nissan Futures yang dihelat Nissan Motor Asia Oceania, ada sesi test drive di jalan umum. Jurnalis dari seluruh negara di kawasan ini diundang untuk menjajalnya. Indonesia kebagian tiga mobil dengan spesifikasi Leaf Jepang. Beruntung, OTO.com berkesempatan menguji mobil ini sepanjang perjalanan, tidak bergantian seperti dua mobil lainnya.


Kendaraan ini bentuknya hatchback seperti kebanyakan model City Car yang beredar di Indonesia. Bayangkan saja Toyota Yaris atau Honda Jazz, dimensinya hanya lebih besar sedikit dari dua model itu. Ukurannya 4.480 x 1.790 x 1.540 mm (P x L x T) dengan jarak poros roda (wheelbase) 2.700 mm. Dimensi yang “biasa saja.” Artinya tak butuh ruang khusus di rumah Anda untuk memiliki mobil dengan teknologi mutakhir ini.



Dimensi yang hanya sedikit lebih besar ini, punya imbas positif pada ruang yang nyaman untuk lima penumpang dewasa. Saya terus berada di bangku pengemudi selama pengujian, maka tak bisa berkomentar banyak tentang kenyamanan yang dirasakan saat jadi penumpang di perjalanan. Namun melihat pihak Nissan Hong Kong yang memandu kami duduk di belakang, tak terlihat keluhan darinya. Apalagi, itu juga kali pertama baginya berada di kabin Leaf. Soalnya di Hong Kong, mobil ini baru diedarkan mingg ini.


Sebagai pengemudi, saya mendapatkan ruang yang masih nyaman bagi tubuh yang cukup besar ini (tinggi 175 cm, bobot 110 kg). Semua kontrol bisa diakses dengan mudah. Tuas pemindah mode kendara (bukan transmisi) berada cukup tinggi, gampang dijangkau. Di sekitarnya terdapat tombol ECO Mode dan tuas E-Pedal.



Uniknya, tuas mode berkendara, berbentuk seperti kenop bulat yang cukup besar. Ada lima pilihan yang bisa dikontrol dari kenop itu: Parking, Netral, Rear (mundur) dan D (Drive) juga B (Brake Mode). Setelah melakukan pilihan, kenop kembali ke posisi semula. Dalam kondisi berhenti, untuk memastikan kendaraan tak bergerak, tinggal menekan tombol P (Park) di atas kenop. Mode B, disebut berguna untuk meningkatkan kemampuan pengereman (engine brake) saat berkendara di jalan menurun yang cukup panjang.


Kontrol lain, berada di posisi layaknya mobil kebanyakan. Tuas pengatur lampu di kanan dan wiper di kiri. Tombol pengatur AC, penghangat kursi, ada di konsol tengah dashboard. Tata letak kontrol yang juga “biasa saja” dan tidak butuh pemahaman khusus untuk mengendalikan semuanya.


Usai menekan tombol start stop engine, mobil on, tanpa ada suara sama sekali. Ini sangat berbeda dari mobil kebanyakan. Tak ada suara mesin yang meraung, tak ada takometer yang mengindikasikan putaran mesin dan berada di level 1.000 rpm ketika idle. Begitu kenop dimasukkan ke D, Leaf langsung kami lenggangkan, tanpa getaran apapun ke kabin.


Inilah titik paling unik dan tidak biasa bagi kami. Bahkan di beberapa kesempatan, saya sempat khilaf menekan ulang tombol start stop setelah mobil menyala. Lantaran, belum mendengar suara mesin yang menggerung sebagai indikator kendaraan sudah aktif. Begitulah mobil listrik, mati dan nyala, tak ada bedanya.


Bersambung ke part-2


Baca Juga: First Drive Nissan Leaf: Kesan Pertama “Biasa Saja” Terhadap Mobil Listrik (Part-2)

Galeri

kali dibagikan

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Nissan Leaf

Lihat video terbaru Nissan Leaf untuk mengetahui interior, eksterior, performa, dan lainnya.

Mobil Pilihan

  • Populer
  • Yang Akan Datang