Mobil Listrik Hybrid Lebih Irit 80 Persen

Mobil Listrik Hybrid Lebih Irit 80 Persen

Mobil listrik dinilai mampu menghemat energi hingga 80%. Angka ini berlaku saat dibandingkan dengan mobil konvensional berbahan bakar fosil. Ini merupakan hasil studi dan riset dari tiga universitas: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka melakukan uji coba terhadap mobil listrik Toyota jenis hybrid atau plug-in hybrid.

“Berdasarkan penelitian, rata-rata mobil listrik jenis hybrid bisa hemat 50%, sedangkan yang plug-in hybrid bisa lebih hemat lagi hingga 75-80%,” jelas Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam keterangan resminya.

Menurut Menperin, penggunaan mobil listrik bisa menghemat BBM hingga dua kali lipat dibanding saat memakai bahan bakar B20. “Kalau program B20 saja sudah bisa menghemat sekitar 6 juta kiloliter BBM. Maka dengan hybrid atau plug-in hybrid bisa dua kali lipat penghematan. Tujuan studi dan riset tersebut, membahas tentang karakteristik teknis, kemudahan pengguna, dampak lingkungan, sosial dan industri serta kebijakan dan regulasi yang akan ditetapkan ketika teknologi itu sudah berkembang,” tuturnya.

Langkah itu pun diyakini dapat merealisasi keinginan Pemerintah, untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2). Besarannya 29% pada 2030, sekaligus menjaga ketahanan energi, khususnya sektor transportasi darat. Riset pun diharapkan terus berkembang, sehingga target 20% untuk produksi kendaraan emisi karbon rendah (LCEV) pada 2025 dapat tercapai.

Roadmap Kendaraan Listrik

Dikatakan, studi dan riset juga sejalan dengan hal yang didorong oleh Kemenristekdikti, terkait kemampuan mobil listrik nasional (molina). “Saat ini, roadmap pengembangan industri otomotif nasional sedang kami dorong, termasuk peraturan pemerintah atau perpres terkait pengembangan kendaran listrik dan fasilitas-fasilitasnya," imbuh Airlangga.

Dalam upaya pengembangan kendaraan listrik, Kemenperin mengusulkan pada Kementerian Keuangan untuk pemberian insentif fiskal. Bentuknya berupa tax holiday, Bea Masuk Ditanggung Pemerintah, serta pembiayaan ekspor. Tak ketinggalan bantuan kredit modal kerja untuk pengadaan battery swap. Kalau dari sisi fasilitas nonfiskal, mereka berjanji memberi penyediaan parkir khusus, keringanan biaya pengisian listrik di SPLU, hingga bantuan promosi.

Setelah tahap pertama ini, Kemenperin melanjutkan laporan hasil riset mobil listrik. Itu seputar aplikasi, ketahanan dan ketersediaan infrastruktur. Tahap kedua kemudian dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Universitas Udayana. Proyek ditargetkan rampung pada Januari 2019.

“Di tahap kedua, riset yang sama juga dilakukan oleh perguruan tinggi selanjutnya. Dengan demikian terjadi integrasi di kampus. Mulai dari riset sampai dengan aplikasi, sehingga ekosistem itu bisa terpetakan di perguruan tinggi. Untuk Perpres-nya, rencananya dikeluarkan tahun ini," pungkasnya. (Alx/Van)

Baca Juga: Mau Modif Mobil, Jangan Lewatkan Pameran Ini!

GIIAS 2021

  • Yang Akan Datang

Video Mobil Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Mobil