• Wishlist

Melihat Peluang Bisnis DFSK di Segmen Kendaraan Minibus dan Blind Van

Melihat Peluang Bisnis DFSK di Segmen Kendaraan Minibus dan Blind Van

Perspektif pasar kendaraan komersial masih potensial di Indonesia. Cakupannya luas dilihat dari aspek tren postif dunia logistik dan jasa transportasi. Misalnya kendaraan angkutan barang, travel hingga segala sesuatu yang berkaitan erat dengan fleet market. DFSK pun sadar, celah itu selama ini belum disentuh maksimal. Maka diperlukan unit pendobrak di segmen dituju. Di negara asalnya, Cina, DFSK punya jenis minibus satu platform: EC36, EC35 dan C37.


Beberapa unit tertangkap kamera di sini. Mobil itu sedang ditowing kemudian diunggah di Instagram. Kemungkinan salah satu dari deret di atas. Andai resmi dijual, acapkali perusahaan pakai nomenklatur yang lebih mudah dilihat khalayak. Lencana mobil dibikin lebih dikenali, bukan jenis kode macam itu.


Kembali ke model yang belum digarap. Nah, selama ini DFSK hanya menjajakan Supercab, Glory 560 dan 580. Sebetulnya perusahaan mencermati grafik pertumbuhan yang cukup konsisten. Bahkan ceruk pasar masih terbuka untuk kendaraan Minibus & Blind Van. Berkaca dari data Gaikindo, kedua model terus tumbuh, meski pasar otomotif nasional dekaden 10,6 persen dari tahun sebelumnya.


DFSK Supercab


Jika data dielaborasi lebih detail, penjualan minibus sepanjang 2019 mencapai 18.300 unit dan tumbuh 2 persen dibanding tahun sebelumnya. Kemudian penjualan di segmen blind van mencapai 9.600 unit. Atau terkerek signifikan hingga 15 persen. Perkembangan ini yang kemudian jadi stimulus DFSK untuk melakukan ekspansi bisnis. Sebelumnya, pabrikan hanya menyasar di kelas pikap ringan Supercab.


Menurut riset internal DFSK, Penggunaan model minibus oleh konsumen di Tanah Air kerap dijadikan kendaraan dua fungsi. Yang pertama, bagi pelanggan perseorangan cenderung menggunakan kendaraan minibus sebagai kendaraan penumpang. Jumlahnya 60 persen dan 40 persen dipakai untuk keperluan angkut barang. Lain halnya cara pandang konsumen corporate atau perusahaan (fleet market). Minibus dimanfaatkan mengangkut barang dengan komposisi 60 persen. Selanjutnya 40 persen sebagai kendaraan penumpang.


Lalu berbeda lagi dengan model blind van. Ia memang ditujukan untuk mendukung kelancaran berbagai bisnis konsumen di Indonesia. Penggunaan kendaraan itu dipakai guna mendukung bisnis logistik, food & beverage, ambulan, ekspedisi, sosial car dan berbagai kebutuhan lain.


Dogfeng C37 diduga segera beredar di Indonesia


Sehingga kalau dinalar, peluang DFSK untuk penetrasi dan mengembangkan bisnis di kedua lahan semakin terbuka lebar. Sebab tidak banyak pemain di kedua lahan. Masuknya DFSK ke segmen ini membuat konsumen lebih leluasa. Memilih mana kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan. Ditambah, pabrikan Cina ini kerap membanderol mobil relatif miring dari rival sekelas. Tak hanya itu, jaminan 3 tahun atau 150 ribu kilometer pun selalu disediakan. Kita tunggu saja kedatangan model anyar di GIICOMVEC 2020 pada 5-8 Maret di JCC Senayan. (Alx/Tom)


Baca Juga: Bahagiakan Konsumen, Suku Cadang DFSK Glory 560 Diklaim Selalu Siap Tersedia