Aliansi Renault Nissan Mitsubishi Ubah Cara Berbisnis

Aliansi Renault Nissan Mitsubishi Ubah Cara Berbisnis

Wabah COVID-19 mengubah episentrum bisnis otomotif. Strategi-strategi anyar bermunculan. Salah satunya dari aliansi pabrikan Prancis-Jepang. Lantaran musim kemarau jualan mobil, memaksa mereka pertimbangkan melenyapkan sejumlah model. Juga tutup pabrik. Dan sekarang Renault Nissan Mitsubishi mengumumkan langkah bisnis baru. Jurus ini dinilai bantu menamengi krisis ekonomi yang tengah berlangsung.

Contoh paling kentara pada produksi mobil. Kelak setiap segmen pasar, entah itu MPV, SUV dan lainnya bakal memiliki satu model basis utama. Bisa Anda lihat sendiri, Xpander dijadikan sebagai Livina. Lalu X-Trail juga Outlander bakal saling berbagi struktur rangka serta enjin. Model bisnis baru ini diharapkan memangkas ongkos riset pengembangan kendaraan hingga 40 persen. Selain efisien, konsumen semakin mudah menemukan suku cadang.

“Aliansi adalah kemitraan strategis dan operasional unik di dunia otomotif. Ini memberi kami keunggulan kuat dalam lanskap bisnis otomotif global yang terus berubah. Model bisnis baru memungkinkan kekuatan grup untuk mengeluarkan sebagian besar aset serta kemampuan kinerja masing-masing perusahaan. Kemudian terus membangun budaya, beserta warisan (kekhasan, Red),” ungkap Jean Dominique Senard, Chairman of the Renault-Nissan-Mitsubishi alliance.

nissan chairman

Matikan Pabrik

Strategi baru lain, mereka melihat masing-masing perusahaan dari jajaran aliansi, berfokus pada satu atau beberapa wilayah. Maksudnya, dari sekian pabrikan, dimonitor mana yang paling kuat dalam suatu regional. Alhasil manufaktur Nissan di Indonesia harus ditutup dan basis fasilitas produksi berfokus hanya di Thailand. Informasi ini tertulis jelas dalam website global. Bahkan merek ini memangkas fixed cost keseluruhan 300 miliar yen.

Baca Juga: Toyota Ekspektasikan Penurunan Laba Hingga 80 Persen Akibat Corona

Dengan menerapkan rencana itu, Nissan bertujuan menggenggam margin laba operasi 5 persen dan pangsa pasar global sebesar 6 persen pada akhir tahun fiskal 2023. Termasuk kontribusi proporsional 50 persen dari usaha patungan ekuitas di Cina.

"Rencana transformasi kami bertujuan guna memastikan pertumbuhan stabil. Alih-alih ekspansi penjualan berlebihan. Kami sekarang siap berkonsentrasi pada kompetensi inti kami dan meningkatkan kualitas bisnis. Kemudian sambil mempertahankan disiplin keuangan dan fokus pada pendapatan bersih per unit demi mencapai profitabilitas. Ini bertepatan dengan pemulihan budaya perusahaan yang didefinisikan sebagai "Nissan-ness" untuk era baru," Makoto Uchida, Chief Executive Officer Nissan, menjabarkan.

Guna meningkatkan daya saing mereka. Menurut alokasi baru, Nissan menjadi referensi pasar Cina, Amerika Utara dan Jepang. Renault bertanggung jawab untuk kawasan Eropa, Rusia, Amerika Selatan, kemudian Afrika Utara. Sementara Mitsubishi menebar jaring di wilayah Asean serta Oseania.

Lalu Nissan bakal memimpin pembaruan segmen SUV kompak setelah 2025. Sedangkan Renault konsentrasi menjamah segmen subkompak SUV. Aliansi memperkirakan, hampir 50 persen dari modelnya bakal dikembangkan dan diproduksi di bawah skema anyar pada 2025. (Alx/Odi)

Sumber: Nissan

Baca Juga: Nissan Umumkan Strategi Baru, Salah Satunya Tutup Pabrik di Indonesia

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store