jakarta-selatan

Harapan Perkembangan Industri Otomotif Nasional

  • Jul 03, 2018
  • 1000 Dilihat

Berbincang soal industri otomotif, sejatinya dinamika empiris sejarah industri otomotif Indonesia sudah dimulai hampir seabad lalu. Persisnya di 1927. Cikal-bakal bisnis otomotif sudah mulai semenjak General Motors mendirikan pabrik perakitan di Tanjung Priok. Malah pabrik itulah yang terbesar kedua di Asia setelah Yokohama, Jepang.


Alasan mereka memilih Jakarta ketimbang Singapura lantaran insentif kebijakan yang lebih baik. Puluhan tahun kemudian, tepatnya 1969, William Soeryadjaja pendiri Astra, mencaplok pabrik General Motors dari status BUMN PN Gaya Motor menjadi bagian dari imperium kerajaan bisnis otomotif Astra.


Potensi pasar otomotif Indonesia sangatlah besar. Dengan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5%, seharusnya menjadi keuntungan tersendiri bagi sektor industri otomotif Indonesia, di tengah pelambatan ekonomi global. Industri otomotif menjadi salah satu andalan pada kebijakan industri nasional, yang juga memberikan nilai besar dalam produk domestik bruto. Berkaca pada 2017 saja, industri otomotif mencatatkan kontribusi subsektor industri alat angkutan terhadap PDB sektor industri non-migas sebesar 10,17%. Jelas bukan angka kecil.


Harapan Perkembangan Industri Otomotif Nasional


Nah, lantas apa sih yang harus dikembangkan oleh pemangku kepentingan? Ceruk pasar yang besar itu akan tetap besar jika pemain bisnis otomotif menjadi pelakon utama. Ambilah contoh, beberapa Agen Pemegang Merek (APM) asal Negeri Matahari Terbit, sudah menanamkan investasi dalam bentuk pabrik dan fasilitas riset lokal. Beberapa yang sudah melakukannya: Toyota, Daihatsu, Mitsubishi dan pabrikan lain. Tujuannya, selain menghasilkan produk kompetitif, juga untuk menekan ongkos produksi.


Bercermin Pada Potensi Pasar


Linear dengan produk otomotif, pasar domestik paling potensial adalah pada segmen Multi Purpose Vehicle (MPV). Pangsa pasarnya dari tahun ke tahun semakin naik. Dari data Gaikindo 2017 saja, MPV menjadi penopang penjualan sebanyak 338.119 unit. Bahkan, mobil produksi Indonesia berhasil menjadi salah sektor industri otomotif nasional ke kancah pasar global (Xpander, Avanza, Ertiga, Innova).


Namun jika kita berbincang soal kendaraan MPV legendaris, agaknya Toyota sudah familiar di benak Anda. Sejak kehadiran generasi pertama pada Juni 1977, total penjualan Toyota Kijang di Indonesia hingga kini sudah mencapai lebih dari 1.750.000 unit dan merupakan angka penjualan tertinggi di segmen MPV Indonesia. Kijang juga merupakan model pertama Toyota yang memasuki pasar global di 1987.


Tidaklah berlebihan, jika keberhasilan Toyota Kijang Generasi-2 membuka peluang terbentuknya segmen pasar MPV di Indonesia, yang sampai saat ini merupakan ceruk pasar terbesar dalam kancah pasar otomotif nasional. Lihat saja dari data Gaikindo. Segmen MPV menguasai hampir 50% pasar otomotif nasional.


Harapan Perkembangan Industri Otomotif Nasional


Lalu datanglah produk baru Mitsubishi Xpander, yang tengah naik daun dan penjualannya terbilang apik. Sepanjang Maret 2018 saja, ia menorehkan penjualan 9.000 unit. (Saat berita ini ditulis, belum ada update dari Gaikindo soal penjualan di paruh tahun fiskal 2018).


Basis Produksi dan Andalan Ekspor


Beberapa pabrikan seperti Toyota, Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi sudah melakukan produksi lokal MPV mereka. Bahkan sampai mengekspor ke luar negeri. Sementara Honda juga melakukan ekspor, bukan dalam bentuk kendaraan, namun part dari kendaraan. Sejalan dengan bertambahnya antusias konsumen domestik dan kebutuhan ekspor, ekspansi bisnis pun dilakukan dengan menambahkan pabrik dan fasilitas R&D.


Tak hanya kepentingan bisnis mereka semata, tapi juga untuk mendukung program pemerintah memiliki basis produksi otomotif yang kuat. Dan hal ini sejalan dengan keputusan pemerintah, soal keharusan industri otomotif Indonesia menggunakan komponen buatan dalam negeri dan kandungan lokal dalam jumlah tertentu.


Dalam siklus seabad industri otomotif Indonesia, terjadi keunikan sejarah, General Motors berpatungan dengan SAIC Tiongkok untuk membuka pabrik Wuling di Bekasi. Hal ini seakan kembali mengingatkan kita kepada fenomena 1927, ketika General Motors memilih Tanjung Priok sebagai lokasi perakitan mobil General Motors kedua di Asia setelah Jepang.


Peresmian pabrik mitsubishi


Jika saja pemerintah terus menjalin kolaborasi yang apik dengan pelaku alias pemain otomotif, maka Indonesia harus sukses berintegrasi dengan arus besar global supply chain industri otomotif. Kalau semua pihak terkait mau bersungguh-sungguh belajar dari riwayat jatuh bangun imperium otomotif Indonesia, karena ayunan pendulum kebijakan, maka kita merayakan seabad industri otomotif Indonesia pada 2027 sebagai andalan ekonomi nasional. Dengan atau tanpa brand lokal, Indonesia akan mampu menjadi bagian global supply chain otomotif global. (Alx/Van)


Baca Juga: Alasan Pertamina Naikkan Harga Pertamax, Tapi di Papua Malah Turun

Shares

Promo Populer di Jakarta Selatan

Mobil Pilihan

  • Populer
  • Terbaru
  • Yang Akan Datang
  • Komparasi