Bagaimana Etika Berkendara Bisa Menjaga Keamanan dan Keselamatan Berkendara Saat Macet

Bagaimana Etika Berkendara Bisa Menjaga Keamanan dan Keselamatan Berkendara Saat Macet

Satu hal yang perlu kita pahami bersama dari awal, jalanan adalah ruang publik, milik bersama. Artinya, penggunaannya tentu memerlukan regulasi dan saling mengerti yang tinggi antar pengguna jalan. Termasuk ketika jalanan padat, penting untuk memahami etika yang baik dan benar saat terjebak di kemacetan.

Tujuannya, keselamatan dan kemaslahatan bersama. “Pasti kemacetan berkurang 15% (ketika semua pengguna jalan tertib), dan yang lebih penting ketika kemacetan disikapi dengan benar maka jadi teratur,” tutur Sony Susmana, dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI). Iapun sempat berbagi pada kami, beberapa hal penting yang perlu dipahami saat berkendara, terutama di tengah kemacetan.

Baca dan Patuhi Aturan Lalu Lintas

Prinsip paling fundamental saat menggunakan jalan raya, patuhi aturan yang berlaku. Gunakan aturan lalu lintas sebagai panduan berkendara. Tentunya, rambu dan marka sudah harus Anda pahami saat melakukan pengujian surat izin mengemudi (SIM). Regulasi dan perangkatnya tidak semata-mata dibuat untuk mengatur arus kepadatan. Tujuan utamanya, menciptakan ketertiban dan keselamatan seluruh pengguna jalan. Banyak alasan yang menjunjung kebersamaan di balik peraturan yang dibuat.

Jangan Melakukan Manuver Berbahaya

Kecelakaan dengan efek fatal karena menaruh kaki di dasbor

Kerap kita jumpai mobil yang tampak terburu-buru di tengah kemacetan. Berpindah-pindah jalur dengan harapan bisa berada di posisi terdepan dan lebih cepat sampai. Faktanya, ia juga tak akan lebih cepat dari mereka yang tetap di lajurnya. Tindakan ceroboh seperti ini malah dapat mengakibatkan senggolan dan memicu konflik.

Selalu pastikan posisi kendaraan berada di lajur yang tepat sehingga tidak membingungkan pengendara lain. Nyalakan sein terlebih dahulu untuk meminta jalur. Setelah diberi kesempatan (ingat, bukan setelah ada kesempatan) baru perpindahan jalur dapat dilakukan.

Sesuaikan Kecepatan dan Jaga Jarak Aman

Memaksakan jarak yang dekat karena takut ‘disalip’ merupakan sebuah kebiasaan buruk. Semakin dekat jarak antarmobil maka risiko terjadinya benturan semakin tinggi. Ruang respon Anda untuk mengantisipasi tumbukkan dengan kendaraan di depan kian sempit. Jaga terus jarak Aman sesuai kebutuhan dan situasi. Hal ini juga dapat meminimalisir jika terjadi tabrakkan beruntun.

Jangan pula berkendara di luar kecepatan normal. Sama seperti jarak, kecepatan akan berpengaruh pada kemampuan respon mobil saat Anda berikan perintah. Dengan menjaga kecepatan normal, Anda akan memiliki kendali penuh pada kendaraan, termasuk ketika harus mengambil keputusan.

Selalu Mengalah dan Sopan

Asuransi Astra

Kunci utamanya, berpikiran positif dan rileks. Berkendara tidak hanya mementingkan kebugaran fisik. Kebugaran mental pun perlu dijaga agar menghindari konflik yang tidak perlu. Berikan ruang bagi kendaraan yang lebih kecil dan pejalan kaki saat berhenti di persimpangan.

Beri Ruang Bagi Pengguna Jalan Prioritas

Perhatikan keadaan sekitar terutama dari arah belakang. Waspada dan beri jalan ketika mendengar bunyi sirine, terutama ambulans dan pemadam kebakaran. Artinya, sedang ada suasana genting yang mungkin terjadi di sekitar Anda ataupun di sudut kota lainnya. Membuat antrean yang tertib bisa membantu kendaraan emergency merespons kejadian dengan cepat.

Sony menambahkan, saat terjadi penyempitan jalur atau bottleneck tetap kedepankan toleransi. Artinya, berikan ruang bagi kendaraan di depan yang mengisi jalur. Sebaliknya, ketika berpindah selalu beri lampu isyarat dan tunggu diberi kesempatan. Sesuaikan laju dan jaga jarak aman. (Krm/Van)

Baca Juga: Tips Berkendara Bagi Wanita

 

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store