• Wishlist

Skandal VW Juga Berdampak Pada Tiga Pabrikan Jepang

Skandal VW Juga Berdampak Pada Tiga Pabrikan Jepang

Jakarta: Skandal emisi diesel yang menimpa Volkswagen (VW) rupanya masih berbuntut panjang. Pemerintah Amerika Serikat memberikan tenggat waktu hingga akhir bulan Maret ini untuk pabrikan Jerman tersebut menyelesaikan masalah mereka. Namun efek lain skandal VW tersebut adalah, beberapa negara lain seperti diberikan 'tamparan' untuk memeriksa lagi apakah prosedur uji emisi mereka sudah benar.


Jepang, yang ternyata terbilang longgar dalam hal uji emisi juga merasa kena 'tampar'. Prosedur pengujian mereka hanya sebatas uji laboratorium, tanpa melibatkan pengetesan di kondisi sebenarnya (real world testing), khususnya untuk mobil bermesin diesel. Regulator di Negeri Sakura itu terperanjat karena ternyata empat model bermesin diesel dari tiga pabrikan besar yaitu Toyota, Nissan, dan Mitsubishi menghasilkan nitrogen oxide (Nox) yang melebihi ambang batas, jika dikendarai dalam kondisi sesungguhnya.


Selama ini, undang-undang emisi di Jepang hanya mengharuskan setiap model mobil untuk lulus uji emisi di laboratorium. Walhasil, Toyota Prado, Hiace, dan Nissan X-Trail Diesel ternyata menghasilkan emisi Nox 10 kali lebih tinggi jika diuji di jalan raya. Selain itu, Mitsubishi Delica D:5 menghasilkan emisi 5 kali lebih banyak dari yang diharuskan, dalam kondisi pengujian yang sama. Hasil yang cukup menggembirakan diraih oleh Mazda CX-5, dimana uji emisi di laboratorium dan jalan raya menghasilkan nilai yang sama, sedangkan Mazda 2 memiliki nilai yang sedikit melewati ambang batas, seperti dikutip dari Autoblog.


Kenapa bisa begitu? Diperkirakan saat mesin menyala dalam kondisi cuaca dingin, software ECU memerintahkan untuk menutup resirkulasi gas buang untuk mencegah kerusakan mesin. Namun efek sampingnya adalah peningkatan Nox.


Dan sedikit penjelasan teknis, Exhaust Gas Recirculation, atau dikenal juga dengan singkatan EGR adalah sebuah proses dimana sebagian dari gas buang diputar kembali ke ruang bakar untuk membantu proses pembakaran di mesin. Pada mesin diesel modern gas ini didinginkan dengan semacam heat exchanger agar lebih dingin dan memiliki massa gas yang lebih besar.


Namun karena diesel memerlukan panas untuk menghasilkan pembakaran optimal, ECU mencegah proses resirkulasi ini terjadi, saat kondisi di sekitar kurang memungkinkan (contohnya cuaca dingin tadi). Pengalirannya dimungkinkan oleh katup yang dikendalikan oleh komputer, dan pada mesin diesel, bisa menekan emisi Nox hingga 50 persen.


Untungnya, ketiga pabrikan tadi tidak perlu khawatir akan sangsi yang mungkin terjadi. Ini karena pengujian di jalan raya alam kondisi sesungguhnya bukan hal wajib, dan belum diatur oleh undang-undang transportasi di Jepang. Pengujian tadi hanyalah sebatas eksperimen. Sebuah eksperimen yang membawa hasil yang mengejutkan. Kini, pertanyaan baru muncul. Benarkah diesel modern adalah mesin yang bersih?


Baca Juga: Tamparan Kedua Untuk VW

Jelajahi Volkswagen Touran

Volkswagen Touran Rp 465 Juta Cicilan : Rp 10,61 Juta