Evolusi 200 Tahun Rem Mobil, dari Balok Kayu Hingga Otomatis

Evolusi 200 Tahun Rem Mobil, dari Balok Kayu Hingga Otomatis

Rem. Jika mendengar kata ini, yang terbayang adalah peranti penghenti laju kendaraan. Cerita rem jauh ke belakang, sama tuanya dengan kelahiran kendaraan itu sendiri. Diperkirakan pada 1800-an, mekanisme untuk memperlambat laju kendaraan sudah diuji coba. Saat itu lebih digunakan untk menghentikan laju gerobak yang menjadi alat transportasi utama kala itu.

Kini, setelah lebih dari 100 tahun, sistem pengereman kendaraan kian berkembang. Tak hanya dari sisi desain tapi juga fungsi dan kegunaan. Mulai dari sistem paling sederhana hingga menjadi alat yang komplek untuk beradaptasi dengan kondisi jalan yang berbeda.

Teknologi rem yang ada saat ini sudah semakin canggih bahkan terdapat sensor yang membuat peranti tersebut bekerja secara otomatis. Banyak bentuk rem yang telah dikembangankan seiring dengan kemajuan teknologi mobil saat ini hingga saat mudah untuk dideteksi saat terjadi kerusakan. Kami merunut sejarah perkembangan tersebut dan mengemukakan fakta-fakta yang terdapat di setiap era pengembangan peranti keselamatan paling penting ini.

Rem Kayu

1. Rem Balok Kayu (1800)

Sistem pengereman pertama yang digunakan pada kendaraan adalah rem balok kayu. Teknologi ini digunakan pada semua jenis kendaraan beroda di era 1800-an, saat itu didominasi oleh kereta kuda dan kendaraan bermesin uap. Ini adalah sistem rem yang hanya terdiri dari tuas sederhana yang menggerekan balok kayu langsung ke roda. Tentu saja sangat efektif untuk menghentikan kendaraan yang saat itu melaju dengan kecepatan maksimal 30 km/jam dengan lalu lintas yang sangat lengang.

Hingga pada akhirnya, Michelin bersaudara -- Edouard dan Andre Michein -- memperkenalkan ban karet di akhir 1890. Roda berbingkai baja yang saat itu eksis menjadi ketinggalan jaman dan sistem pengereman balok kayu pun mulai ditinggalkan. Pasalnya, tuas rem balok kayu tersebut tidak mampu menghentikan laju roda yang sudah menggunakan ban karet.

Baca juga: Rivalitas SUV Ladder Frame 4x2, Pilih Mitsubishi Pajero Sport atau Toyota Fortuner? 

Rem tromol

2. Rem Tromol (1899)

Setelah usainya revolusi industri jilid pertama di dataran, Eropa barulah lahir sebuah sistem pengereman yang modern. Drum Brake Mechanical atau sistem pengereman tromol yang lahir dari Gottlieb Daimler yang menciptakan konsep rem tromol pertama pada 1899. Setelah itu, konsep tersebut disempurnakan oleh Wilhem Maybach pada 1901. Ia membuat sebuah rem tromol mekanis sederhana, di mana kabel baja dililitkan di sekitar roda belakang dan dioperasikan melalui tuas di ruang kemudinya. Tapi kemudian, pada 1902, Louis Renault yang merupakan pelopor industri otomotif Perancis membuat paten untuk penemuan rem tromol dan dijadikan standar untuk sistem pengereman mobil saat itu.

Pada perjalanannya, rem tromol bekerja hanya dengan menghasilkan gesekan yang menghentikan putaran roda dan masih banyak terdapat kelemahan. Salah satunya adalah ketika pengendara menanjak bukit, rem tromol tidak mampu menahan putaran roda sehingga kendaraan berbalik dan terguling. Kemudian ada juga faktor eksternal seperti ruang tromolnya yang terendam air dan debu dan membuatnya cepat usang. Kebanyakan tidak bertahan lama dan sangat sering diganti. Akhirnya beberapa pabrikan saat itu, mencoba untuk melakukan sistem tromol yang lebih baik dan mampu bertahan hingga kendaraan melalui 1.500 km.

3. Pengembangan Rem Tromol (1903)

Setelah mengalami banyak masalah pada era penemuan pengereman tromol, akhirnya pabrikan menempatkan bantalan rem di balik roda di dalam kendaraan. Sehingga material seperti debu, air dan lain-lain yang dapat merusak kinerja rem tidak terjadi lagi. Kemudian evolusi ini menjadi sebuah inovasi yang penting dalam sejarah rem pada kendaraan saat ini.

Duesenberg Model A

Duensenberg Model A menjadi mobil pertama yang menerapkan rem hidrolik pada 1921

4. Rem Hidrolik (1918)

Pada tahun 1918, Malcolm Lockheed mengusulkan konsep sistem rem hidrolik yang dipasang di keempat roda mobil. Lockheed menggunakan silinder dan tabung untuk mendukung kinerja rem yang mengalirkan cairan untuk ditransfer menjadi gaya pada bantalan rem. Kemudian mekanisme pengeremannya pun diubah dengan menggunakan pijakan pedal rem. Sehingga pengendara hanya membutuhkan sedikit tenaga untuk menginjak pedal rem agar roda berdeselerasi.

Mobil yang pertama kali mengadopsi sistem rem hidrolik adalah Duensenberg Model A pada tahun 1921. Pabrikan otomotif Amerika tersebut sempat mengalami masalah yaitu kebocoran cairan pada sistem hidroliknya. Namun para insinyur dari Maxwell Motor Corporation membuat segel karet untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada 1923, merek rem Lockheed ini kemudian menjadi peranti opsional pada kendaraan Maxwell-Chalmers dengan banderol USD 75. Kemudian pada 1924 sampai 1962 terdapat desain rem baru dengan kinerja yang lebih sempurna dan digunakan pada mobil-mobil Chrysler. Jejak tersebut diikuti oleh pabrikan lain di AS, di antaranya Dodge, Chrysler DeSoto, REO, Franklin Graham hingga Plymouth menjadikan sistem rem hidrolik sebagai standar kendaraan mereka.

Salah satu pabrikan yang paling terlambat menggunakan rem ini adalah Ford dan General Motors, pasalnya saat itu pabrikan masih mempercayakan sistem tromol untuk kendaraan mereka. GM baru menggunakan sistem tersebut pada pertengahan 1930-an. Sedangkan Ford Motor Company baru merilis kendaraan dengan menggunakan sistem pengereman hidrolik di akhir 1938.

Baca juga: Kepincut Wuling Cortez Bekas, Sekarang Harganya Murah Mulai Rp 150 Jutaan

Disc Brake

5. Rem Cakram / Disc Brake (1898 – 1960)

Sebenarnya penemuan rem cakram sudah ada sejak 1898 oleh Elmber Ambrose Sperry. Saat itu ia yang tengah memproduksi sebuah kendaraan listrik menggunakan rem cakram untuk roda depannya. Rem cakram tersebut diproduksi oleh Cleveland Machine Screw Co. yang mengadopsi kinerja pengereman sepeda, di mana kaliper dengan batalan menjepit rotor atau cakram pada roda. Namun, hak paten tersebut jatuh ke tangan William Lanchester pada 1902 yang dikenal sebagai insinyur dari Inggris.

Saat itu, ide tersebut masih sangat buruk karena remnya menghasilkan suara bising yang diakibatkan oleh lapisan tembaga yang menggesek logam cakram. Lima tahun berselang, insinyur Inggris lain bernama Herbert Frood memecahkan masalah tersebut dengan melapisi bantalan dengan material asbes. Konsep tersebut masih digunakan hingga pada mobil-mobil keluaran 1980.

Rem cakram sendiri baru populer dan digunakan luas oleh mobil-mobil Eropa pada 1950. Hal tersebut dikarenakan mobil di era itu mulai memiliki bobot dan kecepatan yang meningkat. Sehingga sistem pengereman hidrolik dianggap tidak mampu mendistribusikan panas dan mengimbangi performa mesin.

Di Amerika , Pabrikan pertama yang memasang sistem pengereman dengan cakram adalah Crosley Motors. Pada tahun 1949, rem cakram ditanamkan pada Crosley Hotshot tetapi berhenti digunakan pada tahun 1950. Rem yang diproduksi Auto Specialists Manufacturing Company (Ausco) tersebut mengalami banyak masalah mulai dari luas area bantalan yang kurang memadai hingga pada kinerja pedal rem yang belum sempurna untuk melakukan deselerasi. Selain di itu rem cakram juga digunakan oleh Chrysler Imperial 1949 dan 1953 dengan metode hidrolik.

Hingga akhirnya pada 1962, Bendix yang merupakan pabrikan asal Amerika melakukan penyempurnaan pada sistem kerja rem cakram tersebut. Model yang pertama mendapatkan peranti cakram adalah Studebaker Advant Hawk dan Lark V8 yang merupakan mobil berperforma tinggi saat itu. Pada 1960-an, banyak pabrikan mobil di seluruh dunia mulai mengganti rem tromol dengan rem cakram. Beberapa perusahaan tersebut adalah adalah Lancia dari Italia, Mercedes-Benz, Renault, Nissan dan Volvo yang memulai pada 1966.

Baca juga: Penyebab Pelek Mobil Rusak dan Memilih Produk Aftermarket

Rem ABS

6. Anti-Lock Brake System / ABS (1929-1970)

Fitur ABS sendiri merupakan teknologi pendukung sistem pengereman yang sudah ada saat itu agar mencegah rem terkunci saat digunakan. Ini adalah fitur yang menggunakan sensor dan mampu mendeteksi rem terkunci saat dioperasikan. Sensor secara otomatis mengaktifkan katup hidrolik untuk mengurangi tekanan rem pada satu roda. Sistem ini mengubah cara fungsi rem yang hanya memberikan kontrol pada laju roda menjadi sebuah kendali lebih bagi pengemudi.

Rem anti-lock (ABS) pertama kali diperkenalkan oleh insinyur Perancis yang sekaligus perintis penerbangan, Gabriel Voisin pada tahun 1929 . Saat itu,sistem ABS masih digunakan untuk pesawat terbang. Kemudian hal tersebut disempurnakan oleh duet Bosch dan Mercedes-Benz pada tahun 1936 dengan menjadikannya sistem rem elektronik untuk mobil-mobil produksi Mercedes.

Di tempat lain, pada 1958, Road Research Laboratory (RRL) dan Dunlop mengembangkan ABS mekanis non-elektrikal. Fitur tersebut pertama kali digunakan untuk menguji Jaguar Mark VII yang sudah dilengkapi dengan rem cakram. Kemudian pada 1966, fitur ABS dipasang dan menjadi peranti standar pada sedan sport keluaran Inggris, Jensen FF.

Sedangkan di AS, Ford menawarkan sistem ABS untuk Lincoln Continental Mark II 1954 sebagai fitur opsional. Karena harganya sangat mahal untuk diproduksi, pabrikan menarik fitur tersebut dari peredaran. Kemudian pada 1968, Ford memperkenalkan sistem rem anti-lock analog "Sure-Track" yang hanya beroperasi pada roda belakang. Sistem ini menggunakan sensor yang mengirimkan data ke komputer transistor di belakang dashboard. Itupun masih mengeluarkan biaya produksi yang mahal. Hingga akhirnya pada 1970, Ford membenamkan sistem ABS sebagai fitur standar pada Mark III keluaran 1970.

Di era itu Bosch dan Mercedes juga baru memperbarui sistem rem anti-lock 1936 mereka dan memasangnya di Mercedes S-Class 1978. ABS yang disempurnakan tersebut merupakan sistem yang sudah full elektronik dan bekerja mengontrol keempat roda mobil. Sehingga pabrikan lain saat itu menyusul untuk menggunakan fitur keselamatan tersebut hingga pada model-model saat ini.

7. Rem Empat Roda

Secara runutan kinerja rem ini sudah digunakan pertama kali pada mobil Dutch Spyker 1903 yang memiliki tenaga maksimal 60 hp. Selain itu, produsen mobil asal Italia, Isotta Fraschini Company juga menggunakan sistem pengereman empat roda untuk mobil-mobilnya. Hingga pada 1910, Giustino Cattaneo mendapatkan hak paten dari sistem rem empat roda.

Di Amerika sendiri, kinerja rem empat roda juga digunakan oleh mobil-mobil keluaran Duesenberg di tahun 1915. Mobil-mobil tersebut menerapkan sistem rem internal pada roda depan dan belakang. Saat itu, pabrikan menciptakan kendaraan yang mampu melesat hingga 130 km/jam dan merupakan mobil balap yang turut serta di ajang Elgin Road. Kemudian pada 1919, sebuah perusahaan mobil Spanyol Hispano-Suiza menggunakan pedal satu kaki untuk mengoperasikan rem empat roda untuk model H6B-nya.

Sebelumnya, mengoperasikan rem tangan dan kaki terpisah secara bersamaan. Di New York Auto Show tahun 1923, hanya Duesenberg dan Rickenbacker yang memiliki mobil dengan rem empat roda. Tahun berikutnya, jumlah pabrikan yang berpartisipasi dalam acara tersebut, yang menawarkan rem empat roda telah meningkat menjadi 26. Pada 1980-an, sebagian besar mobil dilengkapi dengan rem cakram penggerak empat roda.

Baca juga: Ancaman Banjir di Musim Hujan, Perhatikan Hal Ini Agar Mobil Tetap Terlindungi

power brake

8. Power Brake (1903 - 1930)

Power brake sebenarnya termasuk inovasi paling awal seiring dengan pengembangan rem di tahun pertama. Ini merupakan fitur standar pada kebanyakan mobil saat ini tapi tidak terpikir kapan ini ditemukan. Tinche menjadi pabrikan pertama yang membuat bantuan pengereman pada 1903. Saat itu, pabrikan menggunakan pompa kecil untuk memampatkan udara dan menghentikan mobil. Bahkan bisa digunakan untuk memompa ban dan sinyal peluit.

Mobil produksi Pierce-Arrow poduksi 1928 memiliki sistem power brake yang dioperasikan vakum untuk remnya. Kemudian pada 1927, seorang insinyur Belgia bernama Albert Dewandre juga menemukan sistem rem servo atau power brake yang ia sebut "Dewandre." Di tahun yang sama, mobil Chandler hadir dengan Power Brake vakum Westinghouse.

Beberapa tahun kemudian rem tromol dengan bantuan vakum dipasang ke mobil Cadillac, Lincoln, Mercedes, Duesenberg, dan Stutz. Hal tersebut karena rem tromol saat itu masih populer dan lebih murah digunakan dibandingkan rem cakram.

9. Self Adjusting Brakes (1925 - 1960)

Kalau berbicara tentang Self Adjusting Brakes mungkin yang pertama kali menggunakannya adalah pabrikan Cole Motor pada 1925. Pasalnya mereka menanamkan fitur tersebut pada mobil-mobil 890 Cole dan diikuti oleh pabrikan lain seperti Jowett Cars yang menggunakan Self Adjusting Brakes mobil-mobil mereka yang bergenre sedan, Brougham dan Touring. Meskipun fitur tersebut masih sebagai peranti opsional dengan tambahan biaya.

Kemudian teknologi Self Adjusting Brakes ini hingga tahun 1946 ketika Studebaker menggunakan sistem Wagner Electric untuk mobil-mobilnya. Peranti ini juga digunakan pada model Mercury 1957 dan mobil keluaran AMC di pertengahan 1960-an.

Volkswagen Golf 2017

10. Rem Otomatis (2006)

Rem dengan teknologi ini, pertama kali dikembangkan oleh Mercedes-Benz di tahun 2006. Pabrikan mulai menyempunakan sistem Brake Distronic Plus dengan menambahkan radar jarak jauh. Radar tersebut mampu mendeteksi obyek di depan mobil dan mengoperasikan rem secara otomatis demi menghindari tabrakan.

Menurut laporan Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS 2017, empat dari 20 produsen mobil yakni Tesla, Mercedes-Benz, Toyota dan Volvo sudah memasang sistem pengereman otomatis pada lebih dari setengah model produk mereka. Enam produsen lain, seperti Honda, Audi, BMW, Subaru, Volkswagen and Maserati/Alfa Romeo, lebih dari 30 persen mobil baru yang diproduksi sejak 2017 terindikasi dilengkapi sistem pengereman otomatis. Mazda, misalnya, menyebut fitur ini sebagai Smart City Brake System.

Teknologi pengereman otomatis ini menggabungkan sensor dan kontrol rem untuk membantu mencegah terjadinya tabrakan. Dilansir dari Life Wire, tiap pabrikan mobil memiliki teknologi sistem pengereman otomatisnya sendiri. Ada sistem yang menggunakan laser, radar, data video, hingga GPS. Data sensor tersebut kemudian digunakan untuk menentukan apakah ada benda yang ada di jalur kendaraan.

Jika ada objek terdeteksi, sistem kemudian dapat menentukan apakah kecepatan kendaraan lebih besar dari kecepatan objek di depannya. Perbedaan kecepatan yang signifikan dapat mengindikasikan bahwa kemungkinan tabrakan akan terjadi. Pada titik inilah sistem secara otomatis mengaktifkan pengereman. (Ndo/Raju)

Sumber: Didyouknowcars, autoevolution

Baca juga: Awas Rem Blong! Simak Penyebab dan Cara Mencegahnya