jakarta-selatan
kali dibagikan

First Drive All New Mazda3: Mudah Disukai

  • 22 Jul, 2019
  • 680 Kali Dilihat

Jujur, sampai sekarang, masih terbayang wajahnya dengan segala kesenangan yang diberikan. Pertama kali memandang desain baru Mazda3, sekilas tidak banyak berubah dibanding generasi terdahulu. Tapi di sinilah letak daya tarik utama. Pola garis mayoritas tetap sama, hanya didesain ulang dengan guratan garis desain KODO terbaru. Desain dasar yang sudah keren, bertambah ganteng lagi. Grille perisai besar dengan sayap menghubungkannya ke headlamp yang lebih tajam, memancarkan peringai sangar dan berwibawa. Kedua varian dibedakan. Hatchback berwarna abu-abu tua sementara sedan dilabur krom.



Sporty dan elegan, beda sangat kentara untuk disesuaikan karakter pembeli. Selera saya tentu masuk ke versi hatchback. Bukan karena minim kromium saja, melainkan bentuk bodi keseluruhan yang eksotik dan seksi. Inilah perwujudan nyata Kai Concept yang diterjemahkan dalam model produksi tanpa banyak ubahan.


Jarang sekali desain hatchback bisa semenarik ini. Terutama lekukan buritannya. Pilar C tebal memberi efek bokong semok, hampir menyerupai liftback. Lekuknya sangat bersih, bahkan cenderung polos. Ya, coba perhatikan sekujur tubuh mobil yang diimpor dari Jepang ini. Lebih halus dibanding generasi terdahulu.



Konsep “less is more” termasuk dalam pengembangan bahasa KODO terkini. Menekankan estetika Jepang minimalis dan sederhana. Meski tanpa banyak bermain garis tegas, malah makin cantik. Atensi terhadap detail ditingkatkan sampai bagian terkecil.


Coba lihat tampak frontal depan. Wiper kaca tidak terlihat, tersembunyi rapi di balik ujung kap mesin. Bahkan tidak ada lagi lubang kunci di gagang pintu. Semuanya terlihat bersih. Meski begitu, keseluruhannya sungguh masuk ke selera personal saya. Bahkan melihat Civic Turbo hatchback menjadi biasa saja.



Bodi sedannya juga keren. Proporsinya pas dari segala sudut. Lebih banyak bermain krom untuk menunjukkan sisi elegan dan dewasa. Cocok untuk pemilik yang matang tapi tetap berjiwa sporty. Ukuran pelek sedan dan hatch sama-sama 18 inci dengan balutan ban 215/45. Desain dan warnanya saja yang mendiferensiasi.


Gaya minimalis juga menyambut dalam kabin. Nuansa warna dibedakan, untuk hatchback dominan merah di dasbor dan jok kulit. Sedangkan Mazda3 sedan, hitam semua. Desain dasbornya baru dan bakal dipakai oleh model-model terbaru Mazda generasi ketujuh.



Tidak banyak tombol bertebaran, sedikit tapi fungsional. MZD Connect diperbarui, pengaturannya melalui kenop di konsol tengah yang dipermudah. Mengubah berbagai fungsi di kendaraan bisa dilakukan. Bahkan kombinasi setelan mencapai ratusan, untuk disesuaikan keinginan maupun kebutuhan.


Desain dasbor minimalis dengan fungsional lebih baik. Segala informasi, pengaturan dan navigasi kini terintegrasi dalam sebuah layar sentuh di tengah dashboard yang dapat dioperasikan melalui tombol di konsol tengah. Sistem ini merupakan salah satu bentuk interaksi antara mobil dan pengemudi.



Namun, hubungan erat sesungguhnya terjalin saat tubuh dilesakkan ke jok semi bucket. Sangat suportif dengan ergonomi pas untuk ragam postur. Posisi mengemudi dapat dibuat rendah (low slung) melalui pengaturan elektrik, yang sayang tidak diikuti jok penumpang depan. Posisi setir tinggi, tertata tepat di depan dada. Tarik sedikit jangkauan (reach) setir untuk memudahkan manuver. Dan wow.. posisi mengemudi layaknya dalam sebuah sportscar. Bagian ini saja sudah merefleksikan kesenangan berkendara.


Jangan mengharap kabin lapang. Tipikal Mazda, ruang belakang tergolong sempit, khususnya untuk orang berpostur tinggi besar. Masih tersisa ruang untuk kepala maupun lutut, tapi hanya sedikit. Apalagi versi hatchback. Atap yang lebih rendah semakin mengurangi ruang kepala. Begitu pula sandaran terlalu tegak dan daya pandang terhalang pilar C yang supertebal. Ini menandakan mobil yang dirancang untuk disetiri sendiri. Agak egois memang.



Saat beranjak jalan membelah kemacetan Ibukota, kenyamanan ternyata sangat tak dilupakan. Noise, Vibration and Harshness (NVH) ditingkatkan, membuat kabin semakin terisolir dari dunia luar. Kelas premiumnya terasa, sudah seperti merek-merek Eropa.


Ditambah lagi adopsi G-Vectoring Control Plus (GVC Plus). Kelanjutan dari teknologi human-centric, yang membuat pergerakan mobil makin nyaman dan responsif. Sistem mengatur torsi mesin saat memasuki tikungan. Bobot kendaraan berpindah, memberi efek terhadap cengkeraman roda, sehingga tercipta manuver senetral mungkin dengan respons setir presisi. Untuk GVC Plus, rem ikut berperan guna menjaga pergerakan bodi. Pengendalian pun meningkat, tanpa mengurangi kenyamanan berkendara.



Bantingan suspensi tergolong sedikit keras, tapi mampu diredam dengan sangat baik. Entah mengapa, duduk di kabin belakang sedan lebih nyaman peredamannya. Padahal tidak ada setelan khusus dan bobotnya cuma lebih berat 2 kg dari hatchback. Mungkin bodi dan overhang panjang mempengaruhinya.


Kesenangan mulai merajalela saat dipacu kencang. Kestabilan bagus dan tetap melekat erat dalam kecepatan 160 km/jam. Diajak bermanuver masih sangat mudah tanpa banyak body roll. Seluruh penumpang dalam kabin juga tidak sampai bergoyang kesana kemari. Begitu tenang dan santai, seolah berada di kelas berbeda dibanding lawan selevelnya.



Yang mengherankan, peralihan suspensi belakang dari multi-link ke torsion beam tidak memberi pengaruh negatif. Konstruksi yang umum digunakan LMPV, city car, compact hatchback hingga small sedan ini cukup mengundang rasa skeptis awalnya. Dari multi link yang kompleks ke model jauh lebih sederhana, seperti sebuah kemunduran. Ternyata tidak, pengendalian tetap mengasyikkan. Kekurangan hanya satu, bantingan kaku.


Teknologi baru Skyactiv-X masih jauh terwujud di Indonesia. Untuk sekarang, tetap setia dengan Skyactiv-G 2,0-liter. Tidak dibiarkan alakadarnya, ada perubahan pada intake, bentuk piston dan injeksi untuk memperbaiki efisiensi. Alhasil output turun jadi 155 PS dan torsi 200 Nm, dari sebelumnya 165 PS dan 210 Nm. Cukup dapat dirasakan bedanya yang tidak segalak model terdahulu. Tapi masih bersemangat saat terus menerus dipacu putaran tinggi. Kecepatan 170 km/jam mudah diraih walau sedikit tersengal-sengal. Soal ini, masih kalah dari mesin turbo bawaan Civic.


Kenyamanan berkendara bukan hanya dari kekedapan kabin atau teknologi GVC Plus. Kini Mazda3 dilengkapi MRCC (Mazda Radar Cruise Control) atau lebih beken dikenal sebagai cruise control adaptif. Bila ingin santai melaju di jalan tol, Anda tidak perlu menekan pedal gas dan rem lagi. Mobil dapat melaju mengikuti kendaraan di depan secara otomatis dan menjaga jarak yang ditetapkan. Ada juga Lane Departure Warning System (LDWS) dan Lane-keep Assist System (LAS) agar tidak sembarangan berpindah lajur. Selain terdengar suara peringatan, setir langsung bergetar dan bergerak untuk mengembalikan posisi.


Terlepas dari harga yang tinggi karena status CBU Jepang dan ragam fitur baru, mobil ini memang makin canggih, mewah, enak dilihat dan tetap nikmat dikendarai. Segala sesuatu yang Anda butuhkan jika senang mengemudi sendiri, semuanya tersedia komplet. (Odi)


Baca Juga: Road Test Mazda CX-5: Performa Terbaik Di Kelasnya

Galeri

  • Tampak Depan Bawah Mazda 3
  • Tampak samping 3
  • Lampu depan 3
  • lampu belakang 3
  • Mazda 3 Drivers Side Mirror Front Angle
  • Mazda 3 Front Side View
  • Dashboard 3
  • Setir Mazda 3
Mazda 3
Rp 497,8 - Rp 546,8 Juta
Lihat Promo

Harga dan Promo Varian Mazda 3

  • Skyactive-G 2.0 Hatchback | Rp 497,8 Juta (OTR)
    DP (mulai dari) Rp 74,46 Juta
    Angsuran Rp 9,96 Juta
    Tenor 60 Months
    Lihat Promo
  • Skyactive-G 2.0 Sedan | Rp 546,8 Juta (OTR)
    DP (mulai dari) Rp 79,66 Juta
    Angsuran Rp 10,55 Juta
    Tenor 60 Months
    Lihat Promo

Video Mazda 3

Lihat video terbaru Mazda 3 untuk mengetahui interior, eksterior, performa, dan lainnya.

Mobil Mazda Pilihan

  • Populer
  • Komparasi