Siap Produksi Kendaraan Listrik di Indonesia, Hyundai Minta 4 Hal Ini Kepada Pemerintah

Siap Produksi Kendaraan Listrik di Indonesia, Hyundai Minta 4 Hal Ini Kepada Pemerintah

Investasi Hyundai Motor di Indonesia mencapai puluhan triliun rupiah. Modal itu digunakan untuk membangun fasilitas produksi di Cikarang, Jabar. Termasuk di dalamnya rencana pembuatan kendaraan elektrifikasi. Jenama asal Korea Selatan ini berhasrat betul menjadi pemain utama di lahan mobil berdaya setrum. Mereka melihat potensi besar – dengan catatan – selama didukung oleh kebijakan pemerintah. Maka perusahaan mengusulkan empat hal pada regulator.

"Pemerintah Indonesia belum memberikan subsidi bagi mobil listrik. Sehingga perlu regulasi untuk mendorong mobil listrik semakin banyak di jalan Indonesia," ucap Lee Kang Hyun, Chief Operating Officer Hyundai Motor Asia Pacific, dinukil dari Merdeka. Dalam acara itu, ia turut mengajukan beberapa kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah agar pasar maupun ekosistem mobil listrik berkembang dengan baik.

Yang pertama, perluasan kebijakan pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Khususnya bagi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) sebesar 0 persen diberlakukan dalam lingkup nasional. Pasalnya saat ini baru Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menerapkan BBNKB 0 persen untuk kendaraan elektrik murni.

Hyundai Ioniq 5

Kedua, dukungan subsidi dari pemerintah supaya mobil listrik memiliki daya saing. Yakni dari sisi harga jual dibandingkan mobil bermesin konvensional (ICE) di pasar. Ketiga, mengadopsi hukum untuk meminta insentif pembelian mobil listrik di segmen fleet atau B2G maupun B2B. Termasuk kebutuhan pemerintah mengganti semua kendaraan dinas bermesin bakar ke kendaraan elektrik yang diproduksi di Indonesia pada 2025.

Baca juga: Indonesia Berhasrat Industrialisasi Baterai sampai Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik

Lalu pengajuan keempat. Menyiapkan kebijakan yang mewajibkan pembangunan stasiun pengisian daya mobil listrik di gedung-gedung baru. Baik perkantoran maupun apartemen. Hal ini untuk menambah fasilitas pengisian daya seperti di luar negeri. Saat ini jumlah SPLU masih tergolong sedikit.

Untuk diketahui, pabrik Hyundai pertama di Asia Tenggara (ASEAN) berada di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Perusahaan berlogo H miring ini juga bakal menjadikan RI sebagai negara pertama lokasi pusat R&D Hyundai secara regional. Pembangunan tempat riset ini masuk dalam rencana investasi US$ 1,55 miliar atau setara Rp 22 triliun.

Hyundai E-GMP

Sementara fasilitas produksi berdiri di lahan seluas 77,6 hektare. Kemudian bakal dioperasikan oleh PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI). Rencananya, pabrik memulai produksi komersial pada paruh kedua 2021. Lalu kapasitas pembuatan mencapai 150.000 unit saban tahun di tahap pertama. Lantas kapasitas penuh sanggup menyentuh 250 ribu unit. Saat ini pembangunan plant mencapai 90 persen.

Dalam hal produksi dan penjualan. Hyundai mengambil pendekatan yang sangat berpusat pada pelanggan. Kendaraan ditawarkan berdasarkan skema build-to-order (BTO), memungkinkan pelanggan memilih spesifikasi produk saat memesannya. Hal ini juga dapat menurunkan biaya persediaan. Pada saat produksi komersial dimulai, mereka juga berencana untuk mengimplementasikan saluran retail online-offline-mobile terintegrasi baru. Atau omni-channel, dengan beberapa perusahaan e-commerce lokal terbesar. Semua demi mengoptimalkan pemasaran serta pengalaman pelanggan. (Alx/Tom)

Sumber: Merdeka

Baca juga: SPY SHOT: Terduga Hyundai Creta Kegep Lagi di Cipali, Ancang-Ancang Debut Produk Lokal?

Coronavirus

Anda mungkin juga tertarik

  • Yang Akan Datang

Video Mobil Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Mobil