Apa Kabar Nasib Peugeot di Indonesia?

Diterbitkan Pada Januari 10, 2017 Oleh Ivan Hermawan untuk Peugeot RCZ di Oto

Penjualan hanya 35 unit selama 11 bulan di Indonesia pada 2016, Peugeot merupakan salah satu produk yang terpuruk dibanding merek mobil lain yang dipegang raksasa otomotif Indonesia, Astra International. Presiden Direktur Astra International, Prijono Sugiarto menyebut merek ini akan tetap dipertahankan meski penjualannya tak menuai keberhasilan.


“Kami akan tetap pada langkah kami yang sedang kami lakukan, sampai suatu hari ada strategi baru yang lebih menguntungkan buat perkembangan bisnis kami,” jelas Prijono pada OTO.com di sela pembukaan showroom BMW Astra International di Pluit, Jakarta Utara (10/1).


Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang dirilis pada Desember 2016 mencatat penjualan selama 11 bulan, mencatat merek Perancis ini hanya meniagakan 35 unit. Model yang menyumbang penjualan terbanyak pun hanyalah RCZ, sportscar eksotik yang harganya memang terjangkau dibanding model sejenis.


Merek lain yang penjualannya tak seburuk Peugeot, sudah angkat kaki atau melakukan reorganisasi bahkan perubahan strategi. Sebut saja General Motors Indonesia, yang akhirnya menutup fasilitas produksinya di Pondok Ungu, Bekasi. Ford Motor Indonesia pun angkat kaki dan berganti sebagai layanan aftersales semata. Sedangkan Mazda Motor Indonesia, beralih organisasi ke tangan Eurokars.


“Banyak faktor yang harus diperhatikan, jadi tidak semudah itu kami akan menyerah. Tapi kami sebagai Astra sebagai pemain otomotif terbesar tidak ingin meninggalkan konsumen. Paling tidak kami mempertahankan supaya mereka kembali ke workshop kami,” imbuh Prijono.


Orang nomor satu di Astra Group Indonesia pun menjelaskan apa faktor yang membuat Peugeot sedemikian terpuruknya. “Satu merek itu laku atau tidak laku karena banyak aspek, salah satu aspek yang penting adalah mata uang (nilai tukar). Peugeot menggunakan mata uang Euro, pada saat 10 tahun lalu, nilai Euro terhadap US dollar Cuma 80 sen, hari ini kan jadi 1,05 sempat menyentuh 1,30,” tutur pria yang memulai karirnya sebagai Sales Engineering Manager di Daimler-Benz Indonesia.


Alasan berikutnya yang dipaparkan Prijono terkait mobil berlambang singa adalah faktor harga sebagai barang impor. “Kami melihat posisinya Peugeot seperti telur dan ayam. Kalau mau sukses, harus dilokalkan produksinya. Begitupun untuk lokalisasi produk, melihat volume penjualan yang ada. Volume penjualan, tergantung mata uang tadi,” tutup Prijono.


Baca Juga: Peugeot 3008 DKR, Suksesor 2008 DKR di Rally Dakar

Iklan

Berlangganan Buletin