Lima Tips Mudah Menjaga Performa Ban, Tidak Perlu Alat Khusus

Lima Tips Mudah Menjaga Performa Ban, Tidak Perlu Alat Khusus

Ban merupakan salah satu komponen krusial dalam hal performa dan keselamatan. Kalau bermasalah, dapat memicu terjadinya celaka lantaran berperan sebagai kontak utama dengan aspal. Untuk itu, perlu perhatian khusus guna menjaga kondisi prima – mau itu sering digunakan atau tidak. Ada baiknya lakukan tips berikut ini agar tidak menyesal di kemudian hari.

Hindari Terjadinya Flat Spot

Di tengah pandemi, mungkin sebagian dari Anda jadi jarang bepergian. Terpikir akhirnya sang tunggangan juga bisa beristirahat. Namun, terlalu banyak istirahat tentu tidak baik. Bakal ‘kaget’ dan berpotensi menimbulkan masalah bila harus beroperasi setelah terlalu lama hibernasi. Contoh ban, jika terlalu lama diam maka akan menimbulkan flat spot.

Flat spot sendiri adalah bagian dari deformasi ban. Muncul pada satu bagian yang terlalu lama menumpu beban akibat mobil atau motor tidak dijalankan – selama satu dua bulan atau lebih. Seperti dijelaskan Presiden Direktur Michelin Indonesia, Steven Vette. “Jika beban kendaraan bertumpu pada satu titik pada waktu terlalu lama, selain akan membuat ban kendaraan kempis juga berisiko menimbulkan flat spot atau deformasi pada ban,” jelas Steven.

Ketika hal itu terjadi, lingkar ban tidak lagi sempurna. Rata di satu bagian jelas disebut tidak layak pakai sebab dapat membahayakan keselamatan. Pun karet pembungkus roda bukanlah barang murah, disayangkan juga bila harus diganti padahal ulir telapaknya masih begitu tebal. Untuk menghindari hal ini, Steven menyarankan kendaraan minimal dijalankan satu minggu sekali. Bertujuan memastikan pergantian posisi tumpuan beban kendaraan pada ban.

tekanan angin ban

Pantau Tekanan Angin

Bagian dari meminimalisir risiko terjadinya flat spot tadi adalah menjaga tekanan angin. Salah satu faktor penting juga saat berkendara. Customer Engineering Support Michelin Indonesia, Mochammad Fachrul Rozi, memaparkan,”Kurang mengisi angin atau mengisi secara berlebih, dapat mengakibatkan ban aus lebih cepat, mengurangi cengkeraman, dan menjadikan lebih boros bahan bakar.”

Tak membutuhkan waktu lama untuk memastikan tekanan angin yang pas. Dapat mengambil acuan dari manual book atau lazim ditemukan pada stiker di sill pintu pengemudi. Rozi menyarankan untuk cek tekanan angin secara rutin termasuk ban cadangan satu bulan sekali. Sebab, meski tidak ada kerusakan pada elemen roda, ban bisa kehilangan tekanan sampai 1 psi per bulan. Tentu semakin parah bila ada kebocoran katup, luka paku di telapak, atau kerusakan pada pelek. Alat ukur tekanan angin pada ban juga sudah umum dan banderolnya tidak mahal.

Baca juga: Hendak Balik Nama BPKB Mobil, Simak Cara dan Langkahnya

Perhatikan Kelayakan Tapak Ban

Ulir ban bertugas untuk hadirkan cengkeraman optimal di berbagai kondisi jalan. Tiap guratan ditujukan agar efektif mengalirkan buangan air sekaligus menjaga stabilitas pengendalian. Berbahaya jika tapak sudah menipis apalagi botak. Terutama di kondisi jalanan basah, lantaran meningkatkan risiko terjadinya aquaplaning.

alur tapak ban

Guna memastikan keselamatan perjalanan, disarankan periksa tingkat keausan ban secara teratur. Mudah, tinggal cek indikator keausan (Tread Wear Indicator). Caranya, pastikan dulu mobil berhenti dan posisi rem tangan aktif. Lalu, indikator tadi terletak dalam sela ulir di tengah ban berupa tonjolan strip kecil. Cek apakah masih tersisa jarak antara permukaan indikator sampai kontak ke aspal. Atau, bisa juga periksa kedalaman bila tersedia alat ukur. Maksimal menyisakan ketebalan 1,6 mm. Kurang dari itu atau tread wear indicator sudah mejeng sejajar berarti ban harus segera diganti.

Segera Bersihkan Batu Kerikil yang Bersarang

Setelah wara-wiri dan kemudian parkir di garasi, boleh jadi ada kerikil terselip dalam ulir. Seringkali kurang diperhatikan padahal dapat merusak ban. Terutama pada unit dengan pola halus atau rapat. Tidak terlihat berbahaya, memang. Namun, ketika sudah bersarang, dapat melukai material lantas menimbulkan korosi pada serat baja dalam ban.

Di samping itu, semakin kurang dihiraukan, semakin dalam pula bebatuan menekan telapak ban saat berjalan. Lapisan berpotensi rusak dan memengaruhi umur ban. Terlebih lagi bila berbentuk runcing, bikin ban mudah sobek. Jadi, ada baiknya bersihkan dari batu yang tersangkut sekalian cek ketebalan.

Pastikan Kelayakan Katup Angin

Katup angin (pentil ban) dan tutupnya, mungil dan sering luput dari perhatian. Yep, tonjolan kecil itu berfungsi menjaga tekanan serta menghalau kelembaban masuk. Ditutup agar partikel debu tidak mengganggu tugas katup sebagai jalur keluar/masuk angin. Bukan sebatas jalur masuk angin, ia bisa jadi biang kerok hilangnya tekanan tanpa disadari.

Pentil ban dapat mengalami kerusakan seperti getas atau sobek. Mungkin tidak langsung terasa. Tapi seiring berjalannya waktu, ban akan lebih sering kekurangan angin. Misal terbukti tidak ada kebocoran dari ban, coba cek bagian katup. Lakukan pengujian dengan air sabun atau dengar suara mendesis ketika digoyangkan. Kalau terjadi, mau tidak mau harus ganti.

Mudah bukan untuk memantau dan menjaga kondisi ban? Sederhana namun ketika kurang perhatian bakal jadi masalah di masa mendatang. Andai tidak yakin dengan penilaian sendiri, sila kunjungi diler ban atau tempat servis terdekat. (Krm/Tom)

Sumber: Michelin

Baca juga: Kiat-kiat Membeli Mobil Bekas Agar Tak Tertipu dan Salah Ambil Unit

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store