Road Test BMW 320i Sport: Kembali Mengenal Seri-3 Setelah Puber (Part-1)

Gambar
Review Pengguna

Ekspektasi pekat menyelimuti hati di detik-detik menuju pertemuan pertama dengan BMW 320i Sport. Tentu perlu lebih dari sekadar suguhan material mewah guna memuaskan kebutuhan penghargaan atas prestasi. Ia bukan sebatas kendaraan pemenuh keperluan dasar komutasi meski trim bawah. Banderol nyaris semiliar, diberatkan image Seri-3 sebagai benchmark sedan eksekutif kompak berdarah sporty.

Pertemuan Pertama

Datanglah unit tes berkelir abu untuk ‘pedekate’ selama lima hari. Impresi pandangan pertama? Nyaris biasa saja. Mudah dikenali. Tapi ternyata semakin memabukkan setelah kembali berkenalan lebih jauh di generasi ini.

Perkembangan desain Seri-3 dari masa ke masa sejak pergantian millennium, sekilas cenderung konservatif. Nuansa membulat generasi E46 terus dieksploitasi hingga kini. Tapi mungkin memang begitu jalan hidup Seri-3, berkembang mengikuti aturan tradisi. Tak jauh dari resep awal yang dianggap sempurna.

BMW 3-series G20

Coba suruh bandingkan gambar F30 dengan G20 kepada mereka yang awam soal otomotif. Kemungkinan besar akan menyebut keduanya adalah satu mobil. Lantas begitu membandingkan sendiri secara nyata, proporsi terasa jelas berubah. Beltline mengangkat sajikan imaji chubby tapi tidak gemuk. Curvy bukan obesitas. Juga membuat rumah kaca jadi semakin ramping menguatkan nuansa atletis.

Revisi proporsi turut membuat siluet wajah lebih luwes, tidak secanggung pendahulu. Ubahan lain ditemukan pada pahatan samping. Jika seluruh generasi sebelum selalu mengandalkan satu garis tegas mendefinisikan bahu, G20 dibuat dua terpisah sejajar. Satu dari sepatbor depan mengangkat mendekati beltline, satu dari sudut lampu belakang menurun ke pintu belakang. Melenceng dari tradisi? Nampaknya tidak, justru ini memberikan sedikit bumbu anyar sehingga evolusi tidak membosankan.

Pasalnya, desain keseluruhan G20 tetap mengedepankan jimat turun temurun leluhur Seri-3. Posisi kabin agak mundur dan bonnet memanjang demi menggambarkan kuda-kuda penggerak roda belakang. Quad Headlamp diinterpretasikan jelas. Selain garis DRL, ada penekanan di sisi terbawah lampu. Lonjakan bak sirip hiu seakan memisahkan dua sumber cahaya high beam dan low beam.

Lambang kewajiban BMW tak ketinggalan diadopsi. Twin Kidney Grille kian tegas dan agak membengkak. Jangan takut, inflamasi tidak sebesar eksekusi seri flagship. Masih terlihat proporsional dengan segala kesibukan area paras. Desain berupaya mengoptimalkan pendinginan dan aliran udara sebaik mungkin lewat katup pada jeruji grille. Kemulusan aliran angin dilakukan melalui NACA Air Duct berbentuk huruf T rebahan. Kanal ini melancarkan aliran udara dari depan agar semakin mulus menabrak angin.

Dua elemen lain turut berevolusi di G20. Pertama Hofmeister Kink. Itu, lekukan melengkung persis di akhir bingkai kaca belakang. Melihat dari luar terkesan biasa saja. Memang sedikit berubah karena tidak lagi melengkung sempurna, ada sedikit tambahan sudut membelok. Tapi ternyata cukup mengagetkan kala pintu dibuka. Frame-nya tertinggal sebagian di pilar C, persis di kink.

Tidak lupa tail lamp berbentuk huruf L dianut sebagai penghormatan warisan leluhur. Bukan di rumah lampu melainkan pada isian LED. Rumah lampu sendiri tidak begitu kentara menunjukkan bahasa desain bokong BMW. Cenderung mendatar dan agak sipit. Mungkin yang bermata jeli tahu ini mirip rear lamp pabrikan mana.

Dari luar, kepintaran sekaligus kepraktisan G20 base trim ditunjukkan dengan fitur pada bukaan bagasi. Tinggal mengayunkan kaki ke depan, 320i Sport bakal memberikan akses ke ruang penyimpanan belakang. Lega, total kapasitas mencapai 480 liter, cukup untuk menyimpan banyak bawaan.

Familiar. Kata ini tepat menjelaskan nuansa pembaruan seri tiga. Ia seperti seseorang yang kenal dekat dari masa lampau. Mengikutinya melewati masa pubertas, tidak mengagetkan atau bikin pangling. Tampak semakin manis sejak terakhir bertemu di F30. Tapi ini dari pandangan pertama, bagaimana ketika berbincang lebih intim?

“Hai, Apa Kabar?”

Aura interior sedan kompak terpancarkan di momen pertama membuka pintu. Terlihat sempit dan padat dari luar. Hampir menganggap remeh karena mengingat definisi kompak masa kini sudah jauh berbeda sejak awal 3er terlahir resmi di Indonesia. Pasalnya, kalau melirik data dimensi, G20 dapat disetarakan dengan ukuran Seri-5 E34, yang eksis pada 90an. Namun itu sebatas impresi pandangan saja.

BMW 320i interior

Duduklah saya di kursi pilot, ternyata sama sekali tidak sempit. Ruang kaki berlimpah ruah, paha saya pun berjauhan dari sisi pintu dan konsol tengah. Kian nyaman ditopang penyangga paha dengan setting manual. Tidak lantas kecewa, tentu electrically adjustable seat hadir sebagai equipment standar. Pengaturan tersedia mulai dari pergeseran vertikal, horizontal, reclining, sampai lumbar support – guna menggenggam pinggang agar tubuh tidak terpelanting kala bermanuver. Sayang, penyesuaian posisi setir mengandalkan tuas non elektris.

”Makin kesini makin dewasa,” ungkap saya dalam hati. Pendekatan desain kabin lebih sederhana tapi tidak monoton. Energi kekanakan disalurkan untuk memancarkan sikap anggun. Terpampang jelas di dasbor. Kontur permukaan cenderung rata tanpa lekuk, ceruk, atau apapun itu. Mengalir halus sampai tudung instrumen. Nuansa simple tak banyak disibukkan oleh tombol-tombol terpisah. Kontrol AC misalnya, berpadu jadi satu dengan kisi dalam satu ornamen bezel – lanjut memanjang sampai sisi penumpang. Semua lebih tertata.

Kedewasaan nan sederhana juga ditampilkan lewat konsol tengah. Perdana, sebuah seri tiga tanpa tarikan rem tangan konvensional. Suka atau tidak, perangkat rem parkir menganut sistem elektris lewat sakelar. Yang pasti, barang ini menunjang kepraktisan komutasi harian. Karena ada fitur auto hold. Mobil akan tetap berhenti total meski transmisi masih di posisi D.

Ia tak merasa perlu tuas rem tangan karena mungkin dianggap malah menyibukkan. Padahal, cukup girang bila mengetahui punya barang untuk mengeksekusi handbrake turn. Ada cita rasa sporty walau secara rasional tidak akan dilakukan. Jadinya malah terlihat membosankan. Kendati begitu, penting mana antara cita rasa ketimbang kenyamanan pengoperasian nyata?

Ibarat sekolah jauh-jauh sampai ke Negeri Cina, kini Seri-3 pun semakin intelek. Layar besar ada dua, satu sebagai informasi utama pengemudi, satu lagi multimedia. Otak sistem infotainment disuntikkan iDrive 7.0 anyar, responsif, dan sedap dipandang. Ragam fitur mulai dari setting karakteristik berkendara, alat navigasi, sampai konektivitas smartphone tersedia di sini.

Pengaturan sekilas cukup standar untuk mobil Eropa sekelas. Seri-3 G20 menganut sistem kenop fleksibel di tengah. Bisa diputar, ditekan, atau kontrol arah. Ada juga di setir guna mengatur audio dan handsfree telephone berikut voice command. Nah, kali ini terlahir spesial. Hand Gesture Control sudah bisa dinikmati. Tanpa perlu menyentuh apapun, gestur tangan dapat mengatur sistem multimedia. Ini mainan baru, ditambahkan agar berkendara minim distraksi. (Krm/Odi)

Baca Juga: Road Test BMW 320i Sport: Masih Menyenangkan? (Part-2)

Jelajahi BMW 3 Series Sedan

BMW 3 Series Sedan Rp 976 Juta - Rp 1,12 Milyar Cicilan : Rp 22,27 Juta

Bandingkan & Rekomendasi

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store