Riset ITB: Pengereman ABS Sepeda Motor Bisa Tekan Risiko Kematian di Jalan
Target keselamatan jalan Indonesia menuju 2030 masih menghadapi tantangan besar. Riset ITB menilai teknologi pengereman sepeda motor perlu segera diperkuat
Angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas masih menunjukkan tren mengkhawatirkan. Sepanjang 2024, tercatat 26.839 nyawa melayang akibat kecelakaan lalu lintas. Angka itu meningkat 6,2 persen dibandingkan 2021. Pemerintah sendiri menargetkan angka kematian turun menjadi 15.160 orang pada 2030. Target itu tercantum dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan atau RUNK LLAJ.
KEY TAKEAWAYS
Mengapa ABS dinilai penting bagi sepeda motor?
Roda sepeda motor dapat terkunci kurang dari 0,2 detik saat pengereman darurat. ABS membantu mencegah roda terkunci.Berapa potensi kematian yang dapat dicegah melalui teknologi pengereman?
Riset ITB memperkirakan 26.679 hingga 111.163 kematian dapat dicegah hingga 2045.Dengan waktu menuju 2030, pilihan intervensi keselamatan dinilai menjadi perhatian amat penting. Salah satu sektor besar berada pada kendaraan roda dua. Sepeda motor mendominasi kendaraan terdaftar di Indonesia dengan porsi mencapai 84 persen. Kendaraan roda dua juga terlibat dalam sekitar 73 persen dari lebih 149 ribu kecelakaan setiap tahun.
Sepeda Motor Jadi Titik Penting Keselamatan
Besarnya populasi sepeda motor membuat aspek keselamatan kendaraan perlu mendapat perhatian lebih. Kajian Institut Teknologi Bandung atau ITB menyoroti teknologi pengereman sebagai salah satu solusi. Riset itu menghitung potensi penerapan teknologi pengereman pada sepeda motor baru. Hasilnya menunjukkan peluang pencegahan kematian cukup besar hingga 2045.
Kajian ITB memperkirakan teknologi pengereman berpotensi mencegah 26.679 hingga 111.163 kematian. Besarnya dampak bergantung pada skenario penerapan teknologi tersebut. Peneliti ITB, Sony Sulaksono Wibowo, menjelaskan kajian keselamatan perlu dimulai dari potensi bahaya kendaraan. “Keselamatan itu dari akar, memperbaiki hazard. Potensi hazard dari roda dua adalah kendaraan. Maka, kami dari ITB mencoba melakukan kajian sistem keselamatan,” ujar dia melalui surel resmi (4/10).
Salah satu persoalan muncul ketika pengendara harus melakukan pengereman darurat. Waktu tersedia sangat singkat sebelum roda kehilangan kemampuan mencengkeram permukaan jalan. Riset ITB menyebut roda sepeda motor dapat terkunci kurang dari 0,2 detik. Sementara manusia membutuhkan rata-rata sekitar 0,75 detik untuk bereaksi dalam kondisi panik.
CBS dan ABS Punya Cara Kerja Berbeda
Dalam kajiannya, ITB membandingkan Combined Braking System atau CBS dengan Anti-lock Braking System atau ABS. CBS bekerja dengan mendistribusikan gaya pengereman ke roda depan dan belakang secara bersamaan. Sistem ini membuat distribusi pengereman lebih seimbang saat pengendara mengurangi kecepatan. Namun, CBS belum mampu mencegah roda terkunci ketika pengereman berlangsung keras.
ABS dinilai memiliki mekanisme berbeda dengan mengatur tekanan pengereman secara otomatis. Sistem ini menjaga roda tetap berputar saat pengendara melakukan pengereman keras. Dengan begitu, kendaraan masih memiliki kemampuan kendali lebih baik ketika terjadi kondisi darurat. Teknologi itu menjadi perhatian karena pengendara tetap membutuhkan kendali saat menghindari objek.
ITB kemudian menyusun dua skenario penerapan teknologi pada sepeda motor baru mulai 2027. Skenario pertama menerapkan ABS pada motor di atas 125 cc. Sementara motor 125 cc ke bawah menggunakan ABS atau CBS. Skenario kedua menerapkan ABS pada seluruh sepeda motor baru. Kelompok motor 125 cc ke bawah sendiri mencapai 76 persen dari armada nasional.
Potensi ABS Tekan Fatalitas
Kajian ITB juga memperlihatkan dampak jangka panjang jika intervensi keselamatan tidak berubah. Tanpa perubahan, angka kematian diproyeksikan mencapai 31.733 jiwa per tahun pada 2045. Angka itu jauh di atas target keselamatan sebesar 11.679 jiwa per tahun. Teknologi pengereman kemudian menjadi salah satu opsi guna memperkecil kesenjangan tersebut.
Zulhaidi Mohd Jawi, direktur Malaysian Institute of Road Safety Research atau MIROS, turut membagikan pengalaman di Negeri Jiran. Negara itu telah menerapkan ABS pada sepeda motor 150 cc ke atas sejak 1 Januari 2025. Menurutnya, hasil kebijakan keselamatan tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Beberapa kebijakan bahkan membutuhkan sekitar lima tahun guna memperlihatkan dampaknya. “Berdasarkan riset, ABS menekan lebih dari 30 persen fatalitas. Di Indonesia, ABS bukan solusi nomor satu, tetapi bisa menjadi salah satunya,” terangnya.
Regulasi Ikut Menentukan
Yusuf Nugroho, Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, turut menyampaikan pandangan regulator. Ia membacakan sambutan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan. Menurutnya, kebijakan keselamatan perlu adaptif dan berbasis bukti. Regulasi juga harus mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Perkembangan teknologi kendaraan menjadi tantangan tersendiri bagi regulator. Teknologi baru terus berkembang dengan kemampuan keselamatan semakin beragam. Kondisi itu membuat regulasi perlu mengikuti perubahan teknologi kendaraan. Tujuannya bukan sekadar mengatur produk, tetapi memperkuat perlindungan pengguna jalan.
Anggota Komisi V DPR RI, Sofwan Dedy Ardyanto, menilai hasil kajian ITB dapat menjadi bahan pembahasan RUU LLAJ. Ia menyebut aturan saat ini belum mengatur ABS secara spesifik. Menurutnya, teknologi itu dapat menjadi salah satu solusi jangka pendek menghadapi kecelakaan sepeda motor. “Untuk menyelesaikan persoalan kecelakaan bersepeda motor saya sepakat ABS adalah solusi untuk saat ini atau jangka pendek,” katanya.
Ia juga menilai keselamatan jalan membutuhkan strategi lebih luas dalam jangka panjang. Aspeknya mencakup regulasi, kelembagaan, sarana, prasarana, teknologi hingga penegakan hukum. Artinya, ABS bukan satu-satunya jawaban atas persoalan keselamatan jalan di Indonesia.
Keselamatan Tidak Hanya Soal Teknologi
Riset ITB memperlihatkan besarnya potensi teknologi dalam meningkatkan keselamatan pengguna sepeda motor. Namun, penerapan perangkat keselamatan tetap membutuhkan dukungan kebijakan dan edukasi. Perilaku pengendara, kondisi jalan serta penegakan hukum juga memiliki peran penting. Seluruh aspek itu perlu berjalan bersama guna menekan risiko kecelakaan.
Pijar Foundation dan ITB kemudian menyerahkan hasil riset kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Diseminasi hasil kajian menjadi ruang bertemunya temuan akademik dengan pembahasan kebijakan. Harapannya, perkembangan teknologi kendaraan dapat diikuti sistem regulasi lebih adaptif. “Kami memandang keselamatan jalan sebagai pelindung generasi emas, bukan hanya isu transportasi,” sebut Rifki Weno, Direktur Kebijakan Publik Pijar Foundation.
Bagi pengguna sepeda motor, isu ABS bukan sekadar tambahan fitur pada kendaraan baru. Teknologi itu berkaitan langsung dengan kemampuan kendaraan menghadapi pengereman darurat. Dengan populasi roda dua sangat besar, peningkatan keselamatan kendaraan dapat memberikan dampak luas. Riset ITB kini menawarkan data sebagai bahan pertimbangan sebelum kebijakan keselamatan baru diterapkan. (ALX)
Baca Juga:
Suzuki SV-7GX Meluncur di Jepang, Usung Mesin V-Twin 645 cc Dijual Mulai Rp133 Jutaan
Spesifikasi Honda CB500 yang Dijual Mulai Rp51 Jutaan di Bharat
Honda Luncurkan RS125 Final Edition di Filipina, Supra Versi Ayago Terakhir!
IIMS 2026
Tren & Pembaruan Terbaru
- Terbaru
- Populer
Anda mungkin juga tertarik
- Berita
- Artikel feature
Motor Pilihan
- Terbaru
- Yang Akan Datang
- Populer
Video Motor Terbaru di Oto
Artikel Motor dari Zigwheels
- Motovaganza
- Tips
- Review
- Artikel Feature