• Wishlist

Volkswagen \'Skandal Diesel Bersih\' – Ringkasan Cerita

Volkswagen \'Skandal Diesel Bersih\' – Ringkasan Cerita

JAKARTA: Raksasa Otomotif Jerman Volkswagen memang sedang menghadapi berbagai tekanan dan cemohan dari para konsumennya beberapa hari terakhir ini – dan hal tersebut kini memang telah menjadi rahasia umum. Perusahaan yang telah berusia hampir 8 dasawarsa ini memang telah mengalami beberapa siklus naik dan turun pada awal-awalnya, namun tentunya tidak ada yang benar-benar mampu mencoreng nama baiknya seperti apa yang dialami perusahaan ini sekarang. Sungguh, kejadian ini tidak lebih baik daripada mimpi mengerikan bagi perusahaan bergengsi Jerman ini, yang kini mesti mengalami kepahitan dan menyaksikan serangkaian ‘kejadian’ buruk beberapa hari belakangan. Bagi para pembaca yang belum mengetahui ‘kecurangan’ dan kejadian yang telah terjadi 10 hari yang lalu, kami telah mengumpulkan semuanya di dalam artikel ini.


‘Skandal’ Volkswagen


VW 1


Kejadian ini ditemukan oleh sebuah kelompok periset yang terdiri dari 5 orang, yang menemukan bahwa kendaraan ‘Diesel Bersih’Volkswagen ditanamkan piranti lunak atau ‘perangkat pengecoh’ yang dapat memanipulasi tingkat emisi selama uji coba emisi yang dilakukan oeh Agen Pelindung Lingkungan (EPA) di Amerika. Penyelidikan lebih lanjut pun dilakukan pada 482.000 kendaraan, dan diperoleh kesimpulan bahwa kendaraan ‘Diesel Bersih’ yang meliputi Golf, Beetle, Passat dan Jetta, yang telah terjual sejak tahun 2009, telah menanamkan perangkat pengecoh dan menipu peraturan polusi sambil dengan bebasnya mengeluarkan zat-zat berbahaya bagi lingkungan.


Baca Juga: Skandal ‘Diesel Bersih’ Volkswagen – Raksasa Jerman Menarik 11 Juta Unit


Tanggung Jawab Volkswagen


Setelah berita tersebut tersebar dan menggemparkan pasar, Volkswagen pun dibuat tak berkutik dan mengakui kesalahan tersebut di depan publik, serta bertanggung jawab atas kesalahannya. Perusahaan tersebut dengan sigap menyikapinya dengan menarik sebanyak 11 Juta unit ‘Diesel Bersih’ dai semua belahan dunia dan mengganti piranti lunaknya. Merek ini kemudian mencadangkan dana sebesar 6,5 Juta Euro atau sekitar Rp. 105 Milyar untuk keseluruhan proses, mulai dari penarikan kendaraan hingga menggantikan ‘kekeliruan piranti.’ Selain kehancuran reputasi yang telah terlanjur terjadi, perusahaan pun harus menelan kerugian karena merosotnya nilai saham yang justru melipatgandakan kerugian finansial hingga berjumlah 15,6 Juta Euro, atau sekitar Rp 254 Milyar.


Pengunduran Diri CEO Martin Winterkorn


VW 2


Meskipun Winterkorn dengan jelas mengatakan bahwa dirinya tidak tersangkut dan tidak mengetahui tentang insiden instalasi ‘perangkat pengecoh’ dalam kendaraan ‘Diesel Bersih’, namun sebagai Pimpinan Volkswagen, beliau pun tidak dapat lepas dari tanggung jawab jabatannya, dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Pada tanggal 23 September 2015, di saat posisi tersebut kosong, beliau menyatakan, “Volkswagen membutuhkan awal yang baik – termasuk dalam kaitannya dengan karyawannya, dan karenanya saya mengambil langkah mundur ini untuk membersihkan jalan dan memulai dengan awal yang baru. Di atas segalanya, saya terkejut bahwa penyimpangan dengan skala sedemikian besar dapat terjadi di dalam Grup Volkswagen.”


Baca Juga: Berita Terbaru ‘Skandal’ Volkswagen – CEO Winterkorn Mengundurkan Diri


Matthias Müller Terpilih Sebagai CEO yang Baru


Setelah pengunduran diri Winterkorn, kini Dewan Direktur VW harus mengemban tugas besar lainnya, yaitu memilih CEO pengganti. Dewan akhirnya memilih 3 calon yang cocok untuk jabatan tersebut - CEO Porsche AG - Matthias Müller, CEO Audi AG - Rupert Stadler dan Pimpinan Merek VW - Herbert Diess. Dengan berlandaskan rekomendasi kuat, dukungan dari mayoritas Dewan Direktur dan pengalaman luar biasa, Müller akhirnya terpilih sebagai CEO baru untuk Volkswagen pada tanggal 25 September 2015.


Baca Juga: Matthias Muller Mungkin Bakal Menduduki Jabatan CEO Selanjutnya – Keputusan Masih Pending


Matthias Müller – CEO baru (27 September 2015 – February 2020)


VW 4


CEO baru ini telah menandatangani kontraknya hari ini, dan akan berakhir pada bulan Pebruari 2020, dan telah secara resmi mengambil posisi CEO yang telah ditinggalkan oleh Winterkorn Rabu lalu. Beliau menjamin bahwa perusahaan akan secepatnya meraih kepercayaan dan keyakinan konsumennya kembali. Dalam pidatonya, beliau mengatakan, “Dalam kepemimpinan saya, Volkswagen akan mengupayakan segalanya untuk mengembangkan dan melaksanakan kepatuhan yang ketat dan menetapkan standar tinggi dalam industri ini. Jika kami berhasil mencapai target tersebut, maka Volkswagen Group dengan kekuatan inovasinya, ketenaran mereknya dan diatas segala kompetensinya, serta dengan bentukan tim yang bersemangat tinggi akan meraih peluang untuk bangkit kembali dari krisis ini, dengan lebih kuat daripada sebelumnya.” CEO baru ini juga akan membagikan strategi dan rencananya untuk mengembalikan kerugian finansial yang telah dideritanya.


Baca Juga: Matthias Müller ditunjuk sebagai CEO Volkswagen Group


Hikmah Pelajaran


Butuh satu dasawarsa untuk membangun reputasi yang baik dan sebaliknya hanya diperlukan satu menit untuk menghancurkannya. Hal yang sama pun terjadi pada Volkswagen! Meskipun VW kini sedang berupaya mati-matian menyikapi krisis ini, mempertimbangkan langkah-langkahnya dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi kerusakan yang lebih dalam, sambil berusaha membangun kembali nama baiknya, namun tentunya ini bukanlah hal yang mudah dan akan membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan kerugiannya dan memperbaiki kepercayaan para konsumennya. Penipuan yang dilakukan dalam skala besar seperti ini memang akan membutuhkan waktu lama untuk menghapuskan ingatan pada kejadian ini dan selama ini masih diingat, maka akan tetap menimbulkan luka pada reputasi perusahaan ini. Malapetaka yang dialami VW ini sontak memberikan pesan penting bagi semua pabrikan otomotif, skala besar maupun kecil. Sungguh angatlah penting untuk memeriksa produk secara acak, untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan sebelum hal tersebut ditemukan pihak luar dan menjadi kejadian dunia yang memalukan.