Gegara COVID-19, Sejumlah IKM Logam Otomotif Turun Omzet Sampai 90 Persen

Gegara COVID-19, Sejumlah IKM Logam Otomotif Turun Omzet Sampai 90 Persen

Tak hanya produsen mobil yang kena imbas Covid-19. Industri kecil menengah (IKM) juga terdampak lebih parah. Apalagi selama Mei 2020 semua pabrikan harus berhenti operasi, guna menekan penyebaran virus. Kemenperin mengaku, terus medorong industri logam yang produksi berbagai komponen otomotif. Tak lain, agar usaha dan aliran uang terus berputar.


"Saat masa pandemi ini, sejumlah IKM di sentra logam Tegal alami penurunan omzet hingga 90 persen. Sebab produsen kendaraan sempat berhenti beroperasi beberapa waktu lalu. Mereka itu yang telah menjadi mitra Agen Pemegang Merek (APM) sebagai tier 1 dan tier 2," papar Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, dalam surat elektronik.


Untuk dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan usaha para pelaku IKM. Menurut Dirjen IKMA, pihaknya terus melakukan penjajakan terhadap peluang pasar yang ada. Dikabarkan, kementerian senantiasa menggelar program link and match. Antara IKM dengan perusahaan besar. Ini jadi salah satu upaya untuk menjembatani IKM di sentra logam Tegal. Khususnya dalam menjajaki pasar baru di sektor industri otomotif.


IKM


Bagai gayung bersambut. Kegiatan “perjodohan” lumayan mendapat sambutan apik. Substitusi impor yang dilakukan PT Sinar Agung Selalu Sukses (SASS) saat pandemi. Menjadi peluang besar bagi sentra logam Tegal. Untuk diketahui, SASS merupakan salah satu perusahan manufaktur otomotif, memproduksi suku cadang kendaraan bermotor roda dua dan empat. Pasarnya ialah original equipment manufacturer (OEM) maupun aftermarket.


Efek Kerja Bareng


IKM di sentra logam Tegal berhasil mendapatkan purchase order (PO) dari SASS. Contoh, dalam membuat produk substitusi impor. Berupa handle socket LT 10 ton, handle socket LT 5 ton dan handle socket LT 30,32 ton. Selain itu, mereka juga akan mendapat pesanan tangkai spion dari SASS. Adapun IKM yang siap mengerjakan produk pengganti impor itu, PT Bimuda Karya Teknik didukung oleh pelaku lain. Seperti PT Mitra Karya Tegal dan PT Tiga Bersaudara.


Baca juga: Industri Otomotif Nasional Bersiap Lakoni Pola New Normal


Produk-produk itu kelak diproduksi menggunakan mesin stamping. "Namun, IKM perlu melakukan investasi untuk pembuatan dies (cetakan) dengan biaya tidak sedikit. Makanya, program restrukturisasi mesin dan peralatan yang kami miliki, diharap dapat membantu meringankan pelaku IKM. Khusus dalam investasi pembuatan dies itu," imbuhnya.


Dalam memenuhi kebutuhan bahan baku logam. IKM di sentra logam Tegal telah didukung oleh Material Center (MC). Mereka datang atas inisiasi dan kerja bareng Ditjen IKMA dengan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Tegal. MC berfungsi sebagai penyedia bahan baku logam, namun harga kompetitif bagi IKM. Sehingga dinilai dapat memperkuat daya saing pelaku indsutri kecil pada masa pandemi Covid-19.


Nah, selain mendapatkan pasar baru, IKM di sentra logam Tegal didorong untuk saling bahu-membahu berbagi pekerjaan. Seperti dilakukan PT Mitra Karya Tegal dengan mengalokasi pekerjaan kepada IKM logam lain, guna produksi aksesori kendaraan roda dua. Dalam memasuki fase new normal. Kolaborasi membangun kemajuan IKM perlu diperkuat.


Kemudian terus dilakukan melalui pelaksanaan berbagai program yang terarah dan berkelanjutan. "Pemerintah pusat dan daerah harus selalu ada, dalam mendukung peningkatan daya saing IKM. Juga untuk memperkuat IKM di dalam rantai pasok industri nasional maupun global," klaim Gati.


Investasi Otomotif Tetap Lancar


Dampak COVID-19 memang menghantam kuat industri otomotif global.  Walau begitu, aliran modal yang ditanam di manufaktur Indonesia diklaim tetap apik. Kementerian Perindustrian mencatat total investasi menyentuh nominal Rp 64 triliun. Besarannya naik 44,7 persen dibanding gapaian periode sama pada 2019, hanya Rp 44,2 triliun. Itu termasuk sektor otomotif.


Industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain disuntik duit Rp 2,14 triliun. Namun tak disebut dari merek apa saja. Sekadar mengingatkan kembali. Hyundai Motor Manufacturing Indonesia jua membenamkan uangnya di sini senilai US$ 1,55 miliar hingga 2030. Itu setara Rp 21 triliun. Baru-baru ini mereka berkabar tetap menjalankan kegiatan pembangunan pabrik. Direncanakan kapasitas produksi sanggup mencapai 200.000 unit saban tahun. Dibilang bisa menyerap 2.000 tenaga kerja.


“Kami optimistis, dengan melakukan upaya mitigasi atau menerbitkan kebijakan-kebijakan strategis pada masa pandemi COVID-19 ini, tidak mustahil bahwa Indonesia sebelum tahun 2030 sudah bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia,” ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, April lalu.


Di sektor lain, industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik dan jam mencapai Rp 1,99 triliun. Kemudian industri pengolahan selama triwulan pertama 2020 diklaim menunjukan angka positif. Kontribusinya signifikan hingga 30,4 persen dari total investasi keseluruhan sektor Rp 210,7 triliun. (Alx/Tom)


Baca juga: Kuartal Pertama 2020, Investasi Otomotif Capai Rp 2,14 Triliun di Tanah Air

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store