jakarta-selatan
kali dibagikan

Cerita Seru Jujuk Margono Merestorasi Morris Mini Mk3

  • 28 Okt, 2019
  • 1355 Kali Dilihat

Selalu ada cerita menarik di balik restorasi mobil klasik. Seperti kisah Mini Mk3 kepunyaan Jujuk Margono. Ia tidak sekadar membangun mobil sesuai standar pabrikan, ada sentuhan personal demi membentuk identitas. Tentu tidak melunturkan jati diri, sebab masih memanfaatkan komponen khusus Mini. Nah, demi mencapai hasil memuaskan, butuh kesabaran tinggi serta bantuan dari kawan-kawan di sekitarnya.


mini jujuk margono


Kondisi Bahan


Bagi Jujuk, Morris Mini Mk3 lansiran 1976 miliknya merupakan mobil spesial. Ia dan istri bercita-cita meminang si mungil ini sejak lama. Secara konsep sudah matang dipikirkan: kelir two tone hijau beratap putih, interior coklat dan aksesori pelengkap lain. Persis seperti yang kami temui di gelaran #MINI60yearsJKT. Hanya saja, impian memiliki Morris Mini baru bisa terealisasi pada 2015.


Disebutkan, kondisi mobil ‘manis jambu’ saat pertama kali didapat. Berwarna hitam, pelek ring 12 inci, berikut interior beige. Terbayang rasa manis sedikit hambar ketika dirinya menjelaskan. Gaya Mini klasik era British Leyland dan Rover yang lebih modern bertabrakan di sekujur tubuh walau masih terlihat segar.


Memang siap jalan, namun ternyata menyembunyikan beberapa permasalahan terutama karat. Diceritakan ketika sedang berkendara di tengah hujan, air rembes ke dalam kabin. Parahnya, bumper belakang pernah lepas saat ia mengemudi.


“Feeling gue terlalu banyak diem mobilnya, mobil ga terlalu dipake, jadi si pemilik lama mungkin gak terlalu memerhatikan mulai timbul karat,” tutur Jujuk.


Langkah restorasi pun ia lakukan demi mewujudkan konsep di kepala. Seluruh pengerjaan dilakukan di bengkel ARestoration (Arista), mulai dari rekondisi bodi hingga penyegaran mesin. Kebanyakan komponen langsung dipesan dari Inggris melalui situs Minispares.com. Ya, Mini selalu mampu memalingkan pandangan siapapun yang berpapasan. Kendati begitu, justru atensi detail menarik perhatian kami. Konsepnya mendukung untuk dipakai sehari-hari, dan benar saja digunakan sebagai mobil harian.



Eksterior


Warna hitam saat pertama dipinang dilunturkan serta seluruh karat dilibas habis. Gantinya, kulit hijau melekat dari garis atap ke bawah. Jangan keliru, tajuk kelir bukanlah British Racing Green yang ikonik itu, melainkan bayangan sedikit lebih terang ketimbang BRG. Masih merupakan warna orisinal. Alasan di balik ini, karena ia merasa BRG sudah terlalu populer. Selain itu, atap juga tidak dibuat terlalu putih, sedikit menguning gading. Paduan ini sukses pancarkan aura klasik Mini.


Pelek motif belimbing Minilite 10 inci mengisi ruang sepatbor mungil. Diceritakan, pelek ini ia dapat sebelum ada niatan untuk restorasi. Pencarian dilakukan melalui rekan-rekan di sekitar. Akhirnya seorang kawan menawarkan ketika sedang berada di Malaysia. Jujuk mengakui peran teman-teman sekitar berperan penting saat membangun mobil. Ban pembungkusnya berukuran sangat pas, ciptakan kuda-kuda cantik nan sedap dipandang. Ban juga berasal dari Malaysia, namun ia bawa sendiri di dalam koper beserta kaca Triplex.


interior mini


Interior


Melongok ke interior, jelas terpampang bagian dari realisasi rencana. Seluruh bagian kabin terlihat orisinil dan period correct. Material kulit coklat membungkus jok tanpa headrest. Saat pertama dibeli, bangku menggunakan model Rover Mini dan ingin dikembalikan sebagaimana mestinya. Kebetulan Arista menyimpan rangka jok orisinal, sehingga tinggal dibangun ulang menggunakan busa dan material kulit baru. Motif tetap menyesuaikan desain bawaan.


Hal menarik diungkapkan, tentang bagaimana ia mendapatkan beberapa komponen interior. Salah satunya tuas transmisi. Sulit untuk menemukan tuas otomatis yang tepat. Di kalangan penghobi Mini, ini dibilang barang ‘ghaib’ karena sangat langka. Restorasi dianggap rampung ketika Jujuk berhasil menyematkan komponen ini.


Ternyata tuas transmisi tidak didapat dari pemain Mini. Seorang kawan bernama Iman membawa oleh-oleh tak terduga. Diceritakan, kala itu Iman beserta sang istri sedang pelesiran di Jepang. Saat sedang berjalan-jalan, mereka masuk ke sebuah bengkel Mini. Di bengkel itulah ditemukan komponen yang sedang dicari oleh Jujuk untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan. Terekspresi jelas betapa bahagia saat bisa mendapatkan barang astral ini.


Komponen lain yang melatih kesabaran adalah kenop setir. Minispares tidak memiliki stok, bahkan pencarian di eBay pun hasilnya nihil. Salah satu mobil di bengkel Arista ternyata terpasang part ini, namun pemiliknya belum mau melego sebelum restorasi rampung. Ujung-ujungnya kenop berhasil ditemukan pada salah satu website New Zealand.



Perlakuan Sehari-hari


Untuk mendukung keseharian, mesin diremajakan serta disinergikan dengan transmisi otomatis. Mobil ini juga dilengkapi AC, sehingga berkendara lebih nyaman. Nah, urusan rem turut dipertimbangkan agar menjaga faktor keselamatan. Bukan rem teromol, melainkan disc brake bertugas sebagai peranti daya henti di roda depan. Ini merupakan komponen aftermarket dari Minispares. Kami saja baru tahu ada disc brake untuk pelek 10 inci.


Itulah keunikan dari Morris Mini Mk3 milik Jujuk Margono. Ada sentuhan personalisasi di berbagai elemen, membuat si mungil ini tampil cukup menonjol. Mulai dari pemilihan warna hingga aksesori pelengkap. Ke depannya akan dipakai harian dan diperlakukan layaknya mobil sehari-hari. Ia ingin mobil menua sebagaimana mestinya melalui pemakaian. Besar harapan tetap dapat dinikmati oleh sang buah hati serta generasi penerus. (Krm/Odi)


Baca Juga: 5 Mobil Klasik Langka ini Ada di Indonesia

  • Tampak Depan Bawah MINI 3 Door
  • Tampak samping 3 Door
  • Tampak belakang serong 3 Door
  • Tampak Depan MINI 3 Door
  • Fog lamp depan 3 Door
  • Lampu depan 3 Door
  • lampu belakang 3 Door
  • MINI 3 Door Drivers Side Mirror Front Angle
MINI 3 Door
Rp 745 Juta - Rp 1,08 Milyar
Lihat Promo

Promo Populer di Jakarta Selatan

Mobil MINI Pilihan

  • Populer
  • Komparasi