10 Ban Masa Depan, dari Antibocor Sampai Bisa Tumbuh Sendiri

10 Ban Masa Depan, dari Antibocor Sampai Bisa Tumbuh Sendiri

Teknologi terus berkembang termasuk juga di dunia otomotif. Sejak kendaraan dikenal beberapa abad lalu, teknologi yang digunakan kian maju. Sama halnya dengan komponen pentingnya; ban. Mungkin banyak yang bertanya apa kemajuan yang dilakukan ban? Bukankah bentuk dan fungsinya sama saja sejak dulu?

Teknologi yang diterapkan pada beberapa mobil saat ini, dulu mungkin hanya dianggap sebatas ide yang jauh dari kenyataan. Misalnya teknologi Autopilot Tesla yang memungkinkan mobil mengemudikan dirinya sendiri. Teknologi ini dulunya hanya ada di film saja. Toh, apapun model mobilnya, seperti apapun kecanggihannya, mau mobil listrik atau mobil dengan mesin pembakaran tetaplah membutuhkan ban.

Ban menjadi salah satu komponen vital mobil. Inilah bagian kendaraan yang bersentuhan langsung dengan jalan. Setiap mobil membutuhkan ban dan ban yang berkualitas baik menjamin performa dan juga keselamatan berkendara. Tapi dari dulu bentuk ban begitu-begitu saja. Selama ini bukan tak ada peningkatan kualitas produk ban sama sekali sebetulnya. Tetapi beberapa perubahan signifikan yang dikembangkan masih hanya sebatas purwarupa maupun konsep belaka. Bahkan diperkirakan dalam waktu dekat ini beberapa konsep teknologi futuristis ban akan benar-benar dapat diterapkan secara masif. Jauh dibandingkan ban yang kita kenal sekarang.

Goodyear IntelliGrip

1. Goodyear IntelliGrip

Beberapa teknik dilakukan dilakukan produsen mobil agar produknya punya daya cengkeram yang baik ke permukaan jalan. Misalnya memasang sistem penggerak 4x4 atau sistem penggerak AWD (All-Wheel Drive). Nah mobil-mobil ini atau beberapa mobil modern lainnya pun sekarang dilengkapi sensor yang berguna untuk memonitor roda dan mengirim sinyal ke komputer agar mengatur traksi di setiap roda supaya mobil baik jalannya.

Walau bekerja dengan baik, namun sensor-sensor ini belum mampu memonitor kondisi ban secara sempurna. Makanya nantinya akan ada sensor yang ditanam di ban. Menanam sensor di dalam ban juga sebenarnya bukan hal baru. Contohnya sensor TPMS (Tire Pressure Monitoring System) atau sensor yang akan menyampaikan informasi tekanan dan suhu ban. Beberapa mobil baru punya fitur ini bahkan Wuling Confero sekalipun punya fitur ini.

Tapi beberapa produsen ban saat ini telah mengembangkan sensor yang lebih komprehensif. Seperti yang dilakukan Goodyear dengan konsep IntelliGrip yang mereka presentasikan pada 2016. Teknologi ban ini awalnya mereka tujukan untuk pengembangan kendaraan dengan fitur swakendali.

Mobil otonom benar-benar memutus intervensi manusia dengan kemudi mobil. Itu sebabnya mobil otonom harus punya cara untuk mengetahui apakah ada yang salah dengan ban. Ban IntelliGrip dibekali dengan sejumlah sensor canggih dan motif tepak spesial yang dapat merasakan kondisi permukaan jalan yang dilaluinya.

Jadi mobil secara otomatis dapat mengetahui saat ban sedang melindas permukaan jalan yang licin akibat genangan air ataupun hujan dan melakukan penyesuaian cara mengemudi untuk menghasilkan grip yang lebih baik. Tak hanya itu, teknologi ban ini juga nantinya dapat mengurangi jarak pengereman hingga meningkatkan stabilitas berkendara di beragam kecepatan.

Konsep ini bukan ide yang terlalu liar dan sangat dekat untuk dapat diwujudkan menjadi kenyataan. Bila terwujud versi produksinya, teknologi ini sangat dibutuhkan oleh industri kendaraan bermotor secara umum karena mampu meningkatkan faktor keselamatan dengan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Baca juga: Daftar 10 Mobil Performa Tinggi yang Paling Dicari di 2021

Maxion Wheels Acorus

2. Maxion Wheels Acorus

Kalau Anda tinggal di daerah yang jalanannya rusak, pasti pernah mengalami kerusakan ban atau velg akibat menghantam lubang jalan dalam kecepatan tinggi. Kalau iya, tenang saja karena perusahaan inovasi ban, Maxion Wheels, sedang mengembangkan ban yang tahan benturan saat menghajar lubang jalan.

Terlihat layaknya ban pada umumnya, namun ban Acorus sebetulnya terbuat dari beberapa lapis material dengan tambahan lapisan karet. Tapi yang paling menarik adalah bagian velgnya. Velg punya rim atau bibir velg yang secara lentur dapat berubah bentuk mengikuti kontur permukaan jalan yang dilindas.

Jadi saat ban mendapat tekanan tinggi karena menghajar lobang, ban tidak pecah atau benjol. Ban ini juga tidak membuat velg rusak atau peyang. Ban ini bisa menjadi solusi bagi Anda yang suka memakai velg berukuran besar dengan ban berprofil tipis. Karena selain tahan lubang, ban Acorus juga lebih hening dan bisa digunakan untuk hampir semua kendaraan.

Continental Taraxagum

3. Continental Taraxagum

Siapa juga tahu kalau ban terbuat dari karet. Tapi mungkin tak semua tahu kalau proses produksi ban meninggallkan polusi udara yang luar biasa tinggi. Karet dan material plastik yang terkandung di dalam ban juga dapat mencemari lingkungan seperti air dan tanah. Limbahnya dapat mengontaminasi tanaman dan makanan yang kita makan.

Itu sebabnya Continental sebagai salah satu produsen ban terbesar di dunia sedang mengembangkan ban yang ramah lingkungan. Ban yang diberi nama Taraxagum ini mampu mengurangi limbah dan polusi udara secara drastis. Ban Taraxagum terbuat dari material latex khusus yang ditemukan pada akar tanaman Dandelion di Russia.

Tanaman ini Cuma butuh satu tahun untuk tumbuh besar dan hebatnya lagi tanaman ini bisa tumbuh dimana saja. Jadi selain lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi biaya produksi, sumber bahan baku baru ini juga dapat menjadi solusi atas kekhawatiran dunia akan semain terbatasnya bahan baku karet.

Continental Contiseal

4. Ban Anti Bocor

Pernah ban mobil Anda tertusuk paku. Saking besarnya lubang, ban mobil Anda tetap gembos walaupun sudah pakai ban cubles (tubeless). Tentu saja akan sangat merepotkan kalau kejadian ini terjadi di daerah terpencil yang jauh dari pemukiman atau tukang tambal ban. Beruntung saat ini beberapa produsen ban sedang mengembangkan teknologi yang membuat ban bocor dapat menutup lubangnya dengan sendiri. Salah satunya Continental Contiseal.

Jadi ban ini dilengkapi dengan lapisan cairan tipis di bagian dalam ban yang bisa menambal bocor dengan sendirinya. Sebetulnya teknologinya mirip dengan cairan tire sealant yang jamak dijual di toko ban di Indonesia saat ini. Bedanya teknologi ini dikembangkan langsung oleh produsen ban sehingga tak menimbulkan efek samping fatal seperti menimbulkan karat pada velg ataupun justru cairan menyumbat pentil roda.

Ban anti bocor yang sedang dikembangkan saat ini nantinya lebih dapat diandalkan. Ban saat ini dibuat melalui proses vulkanisasi. Produsen memanfaatkan panas dan zat sulfur pada lapisan karet di bagian dalam ban untuk memberikan kekuatan sekaligus fleksibilitasnya. Namun ketika lapisan ini berlubang karena tertusuk paku, hampir tidak mungkin ban memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama dengan sebelumnya.

Para peneliti telah menemukan cara untuk mengganti material sulfur dalam proses vulkanisasi dengan imidazolium bromide. Material ini akan membuat ban mampu menutup lubang dan mengembalikan kekuatannya kembali sediakala tanpa bantuan sealant.

Baca juga: 11 Supercar Keren yang Digunakan Polisi Dunia, Indonesia Pakai Apa?

Michelin Uptis

5. Michelin Uptis

Ban anti bocor memang ide cemerlang, tapi mungkin tidak ya ada ban yang tetap bisa dipakai melaju meski tanpa udara di dalamnya. Sebetulnya teknologinya sudah ada dan diterapkan pada Run Flat Tires (RFT). Ban RFT di Indonesia biasanya ditemukan pada mobil-mobil BMW. Ban ini memiliki dinding ban yang diperkuat dengan bantalan kuat sehingga ban mampu berdiri menopang bobot mobil tanpa membuat velg menyentuh permukaan jalan. Tapi ban ini punya jarak yang terbatas.

Saat ini Michelin tengah mengembangkan ban yang tak mengandalkan tekanan udara untuk menopang bobot kendaraan. Dinamakan Uptis (unique puncture-proof tire system), ban ini memakai jejeran palang poly-resin sebagai pengganti tekanan udara. Hebatnya ban ini, selain anti bocor ban ini juga punya usia pakai yang lebih lama karena bisa menggunakan tapak yang lebih tebal. Bonusnya, tak perlu mengecek tekanan angin karena ban akan selalu berada dalam kondisi sempurna tanpa tekanan angin. Sisi positifnya untuk lingkungan, ban ini diproduksi menggunakan 3D printer sehingga menghasilkan polusi udara yang lebih renda.

Produsen ban lain juga sedang mengembangkan teknologi serupa. Kumho menamakan proyek mereka dengan e-NIMF, teknologi ban tanpa tekanan angin dengan ide serupa Michelin. Bedanya, Kumho telah menemukan material pengganti karet yang ramah lingkungan atau bisa didaurulang. Ban ini diharapkan segera dipasarkan pada 2024.

Goodyear ReCharge

6. Goodyear ReCharge

Memang hebat kalau ada ban yang anti bocor atau tak mengunakan tekanan angin sama sekali. Tapi bagaimana pun juga, ban tetap harus diganti kalau tapaknya sudah tipis atau botak. Kalau ban sudah botak maka ban harus diganti karena berbahaya kalau terus digunakan. Ban bekas ini kemudian terdampar di tempat sampah dan menjadi polusi yang mengontaminasi lingkungan.

Goodyear saat ini juga tengah mengembangkan teknologi ban yang dapat dipakai seumur hidup. Hebat kan, kita tak perlu lagi keluar ulang setiap beberapa tahun untuk mengganti ban karena usia pakainya sudah lewat. Goodyear ReCharge adalah konsep ban yang dapat diisi ulang. Ya, ban ini menggunakan kapsul yang dapat diisi ulang menggunakan cairan khusus. Menariknya, kapsul isi ulang ini nanti bisa tersedia dalam beberapa varian. Ada yang untuk penggunaan di musim dingin atau kapsul isi ulang khusus untuk pemakian di lintasan balap. Belum tahu kapan ban yang bisa diisi ulang ini mulai dipasarkan.

Ban DARPA

7. Ban DARPA

DARPA (The Defense Advanced Research Projects Agency) adalah perpanjangan tangan dari divisi riset dan pengembangan militer Amerika Serikat (AS). Mereka menciptakan roda yang dapat berubah bentuk dari bundar menjadi triangular caterpilar dalam sekejap.

Teknologi ini mereka kembangkan untuk generasi mendatang tank dan kendaraan militer. Namun seperti layaknya teknologi militer lainnya seperti GPS (Global Positioning System), kemungkinan besar teknologi ini bisa juga diterapkan untuk umum. Ban berbentuk budar punya keunggulan karena bisa berputar lebih cepat. Sedangkan ban triangular punya kelebihan memiliki grip yang lebih baik saat digunakan di permukaan jalan rusak karena punya tapak yang lebih lebar. Ban ini memungkinkan tank dapat melesat secepat mobil dengan roda bundar.

Baca juga: Daftar 10 MPV Favorit yang Bisa Jadi Pilihan di Awal 2021

Goodyear BH-03

8. Goodyear BH-03

Goodyear pertama kali memperkenalkan ban yang dapat menyimpan energi listrik pada 2015 lalu. Namun seiring dengan pertumbuhan pesar teknologi mobil listrik belakangan ini, konsep ban ini kembali mencuat. Memiliki kode proyek BH-03, ban ini memiliki kemampuan untuk menangkap energi panas di ban dan mengubahnya menjadi energi listrik untuk disimpan di baterai mobil listrik.

Saat berkendara ban secara natural menghasilkan panas. Panas secara normal dihasilkan oleh friksi antara karet ban dengan permukaan jalan. Panas sebetulnya bagus untuk ban karena dapat memberikan traksi yang lebih baik. Namun banyak energi panas yang terbuat saat berkendara.

Makanya Goodyear mengembangkan ban dengan lapisan thermo-piezoelectric di bagian dalamnya yang dapat mengonversi energi panas menjadi energi listrik. Energi panas tak hanya dihasilkan pada saat kendaraan bergerak. Energi panas yang tesimpan di ban saat mobil parkir di bawa terik matahari juga dapat diolah menjadi energi listrik. Menarik kan, jadi mobil listrik tetap bisa mengisi energinya sendiri saat terparkir di bawah teriknya matahari.

Goodyear Eagle 360

9. Goodyear Eagle 360

Dari sekian banyak teknologi ban masa depan, tak ada yang sefantastis Goodyear Eagle 360. Konsep ban ini memang terlalu imajinatif bagi sebagian orang. Ban berbentuk bulat seperti bola ini pertama kali diperkenalkan pada 2016. Kemudian tenar lewat film I Robot yang diperankan Will Smith. Film tersebut menampilkan obil futuristis Audi dengan ban bulat.

Realistis saja, kalau ban bentuknya bulat seperti bola, bagaimana cara menghubungkan roda dengan mesin. Goodyear punya jawabannya, magnet. Ya, magnet pada roda dan mobil akan membuat mobil melayang di atas roda. Magnet juga mampu membuat roda berotasi secara bebas tanpa batas. Ban bulat ini akan memberikan mobilitas yang lebih fleksibel karena mobil dapat bergerak ke samping ataupun berputar di atas rodanya dengan cepat. Selain itu, ban ini juga akan mengurangi banyak jumlah komponen kaki-kai seperti gardan, suspensi hingga rem mekanis.

Goodyear NASA Memory Alloy Tire

10. Goodyear NASA Memory Alloy Tire

Goodyear dan NASA bekerjasama mengembangkan ban untuk dipakai pada Rover yang menangkap video di planet Mars pada 2004. Rover sebelumnya menggunakan ban dari material alumunium yang ringat dan dapat digunakan untuk menjajah permukaan Mars dengan baik. Namun performa ban dengan material ini semakin menurun seiring dengan berjalannya waktu.

Mereka melahirkan ban Memory Alloy yang terbuat dari Nitinol atau Nickel titanium alloy. Kedua material ini dirajut sedemikian rupa sehingga memiliki bentuk bundar seperti roda. Tak hanya punya struktur yang kuat dan bobotnya yang ringan, ban dengan material spesial ini dapat berubah bentuk secara fleksibel mengikuti permukaan yang sedang dijelajahinya di Mars. Tapi yang lebih penting lagi, ban ini dapat diandalkan lebih lama untuk menjelajah planet Mars. Goodyear berencana mengembangkan teknologi serupa untuk ban offroad. (Rzk/Raju)

Sumber: hotcars.com

Baca juga: Evolusi 200 Tahun Rem Mobil, dari Balok Kayu Hingga Otomatis