Road Test Kia Sonet Premiere iVT: Melabrak Rasionalitas (Part-2)

Road Test Kia Sonet Premiere iVT: Melabrak Rasionalitas (Part-2)
Gambar
Review Pengguna

Di bagian pertama tulisan kami sudah menulis tentang eksterior dan interior. Membahas bagian fitur bisa panjang lebar. Karena fiturnya banyak sekali yang membuat value-nya begitu besar dan mendapat kesan murahnya. Cukup tergambar dari seabrek fitur dimiliki Seltos. Tapi ini dikemas jauh lebih terjangkau, tak sampai Rp 300 juta. Kalau melihat fitur-fiturnya dulu tanpa mengetahui banderol, pasti Anda akan menganggap mobil ini sekelas Rp 300 jutaan.

Fitur

Paling gampang memulai dari peranti yang tak ada di mobil seharganya. Pertama tersedia wireless smartphone charger. Fitur penting tanpa repot mengisi baterai gawai tersedia di sela konsol tengah. Ada ventilasi AC mencegah ponsel overheat saat dicas. Tapi ingat, tidak semua smartphone berfungsi. Harus punya Qi System dulu, biasanya seri flagship punya itu.

Nama Bose terpampang sebagai peracik sistem audio. Suara keluar dari 4 speaker utama. Frekuensi diatur 2 tweeter di pojok, lalu subwoofer sebagai pemain frekuensi rendah. Suaranya cukup berkualitas walau biasa saja. Setidaknya tidak perlu upgrade lagi. Sumber pengaturan berasal dari monitor 8 inci dengan ragam konektivitas. Ada Android Auto, Wireless Apple Car, Bluetooth dan voice recognition.

Paling menarik meski tak terlalu penting. Terdapat Mood Light di side door pocket. Lampu menyala kerlap kerlip mengikuti ritme musik bila volume suara dibesarkan. Warnanya bisa diatur sesuka hati. Lumayan memberi nuansa berwarna bila malam hari. Anak muda pasti suka karena seperti sedang di arena dugem.

Baca juga: Road Test Kia Sonet Premiere iVT: Bentuk Kepercayaan Diri Kia (Part-1)

Kia Sonet headunit

Kemudian punya Remote Engine Start. Singkatnya menyalakan mesin dari luar kabin hanya menekan tombol di remote. Berguna menghemat waktu memanaskan mobil dulu sebelum beranjak pergi. Atau bisa dimanfaatkan mendinginkan suhu kabin terlebih dahulu. Jika ingat, fitur ini juga ada di Chevrolet Trailblazer

Satu fitur ini yang tak pernah terpikirkan ada di mobil berharga terjangkau. Bahkan sangat penting dan berguna. Ialah ventilated seat, menurut saya solusi cerdas untuk iklim tropis. Semburan AC keluar dari kisi-kisi kecil di sandaran kursi. Bila cuaca sedang panas, seketika menambah kenyamanan yang sulit ditandingi mobil sekelas. Tapi pendingin saja, tanpa pemanas.

Paling tidak, segala perangkat itu mampu melampaui SUV kasta lebih tinggi. Belum ditambah fitur standar seperti lampu LED, auto climate control, sunroof, TPMS hingga cruise control. Sistem keselamatannya terdiri dari 6 airbag, ABS+EBD, Electronic Stability Control (ESC) dan Hill Assist Control (HAC). Tentu akan berlebihan jika mengharapkan Blind Spot Monitoring System maupun Lane Departure Warning. Ini saja sudah berlebih.

Konsekuensinya bisa mengurangi fitur yang tidak terlalu dibutuhkan. Misal pengaturan jok elektrik dan rem parkir elektrik. Semua masih konvensional lewat pengaturan manual. Mungkin banyak yang menganggap itu sebuah kekurangan. Tapi bagi saya bukan. Pastinya lebih awet untuk jangka, terhindar dari malfungsi kelistrikan terlalu banyak. Minus yang jadi perhatian hanya tidak punya pengaturan setir telescopic serta rem belakang tromol.

Baca juga : Road Test DFSK Glory i-Auto (Part 1): Menimbang Gimik Taburan Fitur Pelengkap

Kia Sonet mesin

Performa

Opsi mesin di India terdengar lebih menggugah. Ada pilihan turbo 3-silinder 1,0-liter menghasilkan 120 PS dan torsi 172 Nm. Pasangan gearbox-nya DCT 7-speed merupakan kombinasi serupa dengan Seltos. Tapi stigma negatif mesin ganjil pastinya masih tertanam di benak mayoritas konsumen lokal. Padahal hembusan turbo plus reaksi kopling ganda pastilah mengasyikkan.

Namun pilihan untuk pasar Indonesia tidaklah salah. Memakai unit Smartstream Gamma II 4-silinder 1,5-liter naturally aspirated, dengan Dual CVVT dan Dual Fuel Injector, lebih mudah akrab untuk pasar sini. Ekstraksi daya dihasilkan tidak mengecewakan. Output sebesar 115 PS di 6.300 rpm dan torsi maksimum 144 Nm di 4.500 rpm. Di atas mayoritas mesin "cenggo" NA lainnya.

Mesin terasa powerful bahkan melebihi angka di atas kertas. Terus terang, tidak terasa seperti mesin 1,5-liter biasanya. Momen puntir mulai menyeruak sejak putaran mesin rendah, ditambah aliran deras daya kuda mulai 2.500 rpm ke atas. Tentu unit pemacu tak sendirian dalam memberikan karakter performa sedemikian enak. Paket powertrain akan disempurnakan padu padan gearbox yang tepat. Sebagai aspek penyalur daya, mengandalkan transmisi termutakhir Smartstream iVT (Intelligent Variable Transmission).

Ialah CVT (Continuous Variable Transmission) hasil inovasi terbaru Hyundai Group. Caranya mengganti sabuk CVT konvensional dengan rantai. Bertujuan untuk mengkombinasikan efisiensi sebuah CVT, sekaligus meningkatkan respons ketika berganti rasio. Lalu menggunakan tensioner untuk mengatur diameter pulley yang mampu mengurangi slip dan menambah efisiensi. Ditambah lagi, rantai bebas perawatan. Sehingga masa pakainya jauh lebih panjang dari CVT biasa. Menurut pihak pabrikan, iVT memberi rasa responsif, makin irit dan kuat.

Baca juga: Road Test DFSK Glory i-Auto (Part 2): Rayuan Mekanikal Pacu 1.5L Turbo, Seberapa Cuan?

Kia Sonet

Klaim itu benar adanya. Diantara CVT lain yang pernah saya coba, iVT Sonet pantas jadi yang terbaik. Tidak terasa lamban seperti karakter kebanyakan CVT pengejar irit. Ada hentakan layaknya matik torque converter saat kickdown, dibarengi perpindahan gigi cekatan. Total ada 8 percepatan virtual dengan rasio rapat. Setiap langkah berpindah tetap sehalus CVT, namun berlangsung singkat dan cepat sehingga mengeliminir kekosongan torsi. Inilah mengapa akselerasi Sonet terasa spontan dan responsif. Begitu pula shifting manual via shiftronic. Reaksi antargigi berjalan smooth plus cekatan. Belum pernah merasakan CVT semenyenangkan ini.

Efisiensi juga terbukti. Berdasar data Multi-Information Display (MID), konsumsi penggunaan dalam kota yang padat banyak stop & go, tercatat 10,3 kpl. Cruising santai di jalan dengan rentang kecepatan 80 - 100 kpj didapat 18,4 kpl. Rute kombinasi 13,5 kpl. Cukup menggunakan bensin RON 92 mengisi 45 liter tangki bahan bakar.

Masih ada lagi. Tersedia 3 mode berkendara, Eco, Normal, Sport, yang diatur lewat tombol di bawah AC. Berkendara harian di kota, Eco bisa lebih menghemat lagi. Namun tenaga terasa tertahan tidak seperti mode Normal. Saat ingin mengeksplorasi putaran mesin tinggi, Sport mampu mengakomodasi. Dan baru tersadar raungan mesin Smartstream Gamma II ternyata merdu juga.

Baca juga: Tidak Banyak Disunat, Simak Perbedaan Kia Sonet di Indonesia dengan India

Kia Sonet

Ride and Handling

Konstruksi kaki-kaki Sonet sederhana saja. Suspensi depan model Macpherson Strut, belakang Torsion Beam. Ekspektasinya tentu setelan nyaman seperti ciri Kia lain. Redaman mantap mengusir getaran hingga ke dalam kabin. Tapi harus diakui, bantingan termasuk keras menggambarkan mobil kecil nan ringan. Bila duduk di kursi belakang akan terasa itu. Namun bukan berarti kaku dan terlampau kasar. Peredam kejut bekerja optimal menciptakan rasa berkendara dewasa berkiblat ke mobil Eropa. Plus keheningan kabin superior tanpa terganggu kebisingan ban dan dunia luar.

Kestabilannya saat kecepatan tinggi terasa mantap. Feedback setir lumayan hambar, wajar tipikal electric power steering. Tapi gradasi perubahan bobot MDPS berlangsung mulus. Putaran setir ringan kala berjalan pelan dan parkir. Berangsur berat seiring pertambahan kecepatan.

Ada lagi gimmick mode traksi tepat di sebelah tombol drive mode. Pilihannya Mud, Snow dan Sand. Otomatis tak terpakai bila berkendara normal sehari-hari. Mungkin bakal dibutuhkan bila melewati medan tanah, licin atau berpasir. Setidaknya sudah dibekali jika suatu saat diperlukan. Sebagai pembuktian jati diri SUV tulen juga, meski cuma penggerak roda depan (FWD).

Baca juga: Road Test Nissan Kicks e-Power, Konsumsinya Bisa 25 Km/Liter

Kia Sonet

Simpulan

Logika terbalik mobil berfitur mewah tanpa harus mahal, bukan lagi peruntungan brand Cina. Bujet Rp 290 juta seharusnya tak hanya berkutat di opsi compact hatchback semacam Toyota Yaris, Honda Jazz atau Mazda2. Sonet yang beridentitas small SUV, sanggup meladeni tanpa perlu minder. Malah amunisinya jauh lebih lengkap.

Semua kebutuhan sebagai mobil kota harian terpenuhi. Desain eksterior dan interior keren, sistem audio cap ternama, ventilated seat yang bikin punggung adem, fitur keselamatan cukup, mesin dan transmisi menyenangkan dan kaki jangkung dirancang untuk jalanan kurang bersahabat. Belum lagi jaminan 7 tahun yang diberikan pihak Kia Indonesia. (Odi)

Jelajahi KIA Sonet

KIA Sonet Rp 193 - Rp 289 Juta Cicilan : Rp 4,4 Juta

Bandingkan & Rekomendasi