jakarta-selatan

Begini Cara Robot Meningkatkan Daya Saing di Industri Otomotif

  • 16 Agt, 2019
  • 426 Kali Dilihat

Menuju era industri otomotif 4.0, robot menjadi salah satu penunjang. Penggunaan teknologi pengganti manusia itu lebih efektif dan efisien. Dampaknya, tingkat produksi bisa digenjot. Namun, penerapan robotisasi diyakini tidak akan mengganti atau mengurangi peran tenaga kerja manusia. Justru mendorong peningkatan kompetensi mereka untuk memahami penggunaan teknologi terkini di industri.



Salah satu pemain robot global yang sedang mengincar pasar Indonesia adalah Universal Robots (UR). Perusahaan teknologi robot asal Denmark itu mulai menyasar pabrikan, khususnya kendaraan bermotor roda empat. Dalam hal ini, industri otomotif Tanah Air memiliki potensi untuk memanfaatkan teknologi itu.


“Pasar Indonesia menjanjikan, karena rasio penggunaan robot di industri manufaktur Indonesia secara keseluruhan masih rendah. Sedangkan negara lain rasionya lebih tinggi, seperti Singapura yang memiliki rasio 658 robot per 10 ribu karyawan. Bahkan rata-rata dunia rasio penggunaan robotnya 85 per 10 ribu karyawan,” kata Sakari Kuikka, General Manager Universal Robots dalam diskusi pintar Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) di Jakarta, Kamis (15/8).


Sakari mengatakan, rasio penggunaan robot Malaysia dan Thailand lebih tinggi dibandingkan Indonesia, yakni 40-50 robot per 10 ribu karyawan. “Negara lain, seperti Filipina dan India, berada satu level dengan Indonesia rasionya 3-4 robot per 10 ribu karyawan," ujarnya.


Dalam diskusi ini, Universal Robots kenalkan lebih jauh fungsi robot kolaboratif atau co-bot lewat produknya UR3. Teknologi cipataan UR yang diboyong itu, berbentuk lengan dan didemonstrasikan di depan awak media yang hadir.


UR3 yang dibawa Sakari merupakan robot kolaboratif berbentuk lengan dengan enam sendi berbobot 10 kg. Kolaboratif berarti robot ini bisa beroperasi sendiri maupun bersama mesin lain.


"Spesialisasi kami adalah fitur collaborative robot (co-bot) yang lebih mudah dioperasikan bersama, antara orang dan robot, tanpa memerlukan gelar khusus untuk operatornya. Juga sangat hemat tempat," terang Sakari.


Untuk memudahkan pengoperasian, UR menciptakan sebuah situs khusus bernama Universal Robots+ (UR+). Platform ini berfungsi menyediakan informasi cara mengoperasikan robot UR, tanpa panduan khusus seorang teknisi ahli mesin.


Sebagai informasi, Universal Robots memiliki fasilitas produksi di Denmark. Sementara untuk fasilitas reserch and developmnet (R&D) berada di Denmark dan Boston, Amerika Serikat.


Industri Robot di Indonesia



Beberapa pelaku industri otomotif yang sudah mengimplementasikan robot; Astra Daihatsu Motor misalnya. Seperti diketahui, saat ini produsen mobil Daihatsu dan Toyota ini memiliki dua pabrik pembuatan mobil, di Sunter, Jakarta Utara dan Karawang, Jawa Barat. Pabrik Daihatsu di Sunter memiliki dua line produksi sedangkan di karawang satu line.


Total kapasitas produksi dari kedua pabrik itu sebanyak 530 ribu unit per tahun. Sedangkan per-harinya bisa sekira 2.000-an unit lebih. Pengunaan robot di kedua pabrik cukup banyak.


"Penggunaan robot dan otomasi di manufaktur kami sudah menjadi keharusan. Hampir 300 unit di area proses produksi. Tentunya guna mendukung produktivitas dan menekan cost produksi serta efisiensi," kata Parardhya Nugraha, Production Enginering Welding Department Head PT ADM di acara yang sama.


Sedangkan DFSK, mendirikan pabrik pembuatan mobil di Cikande, Serang, Banten telah menerapkan Industri 4.0. "Hampir 80% proses pengerjaan menggunakan robotik seperti assembling. Sedangkan peran SDM menjadi sangat penting untuk transfer knowledge melalui pelatihan, demi menjaga kualitas dan tingkat presisi sebuah produk," ucap Public Relation & Digital Manager PT Sokonindo Automobile, Arviane D.B.


Kukuh Kumara, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengakui, pabrikan otomotif di Indonesia sudah mengadopsi teknologi robot atau otomasi. Beberapa bagian pekerjaan sudah menggunakan robot. Antara lain pengelasan (welding), painting, bodi dan sebagainya.


“Industri otomotif Indonesia makin kompetitif daya saingnya, karena sudah banyak menggunakan teknologi robot. Namun, memang proses adopsinya dilakukan secara bertahap. Karena tetap dihitung nilai keekonomiannya saat digunakan dalam satu tahapan produksi kendaraan,” ujar Kukuh.



Menurut Kukuh, otomotif merupakan salah satu industri strategis di Indonesia. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia 2018, mencapai 1,76 persen atau setara Rp 260,9 triliun. Dari sisi penjualan, sejak 2012 hingga 2018, penjualan mobil di Indonesia berada di level satu jutaan unit. Pada tahun ini, Gaikindo memprediksi penjualannya mencapai 1,1 juta unit.


"Industri otomotif juga masuk kelompok 10 besar investasi asing langsung. Di Indonesia pada 2018 senilai US$ 1 miliar," tambahnya dalam diskusi yang bertajuk Peningkatan Daya Saing Industri Otomotif Indonesia Menuju Era Otomotif 4.0. (Bgx/Van)


Baca Juga: Pilihan Diler Mobil Bekas Resmi Berlisensi APM

kali dibagikan

Promo Populer di Jakarta Selatan

Video Mobil Terbaru di Oto
  • Toyota Corolla Altis | First Impression | Punya...
    • 13 Sep, 2019
    •  
  • Wuling E100 | First drive | Seperti Apa...
    • 11 Sep, 2019
    •  
  • Suzuki XL7 | News | Ini Wujud Ertiga...
    • 11 Sep, 2019
    •  
  • Wuling E200 | First Impression | Mobil Listrik...
    • 11 Sep, 2019
    •  
  • Tesla Model 3 | First Impression | Mobil...
    • 07 Sep, 2019
    •  
  • Nissan Serena | Community Test Drive | Lebih...
    • 04 Sep, 2019
    •  

Mobil Populer

  • Populer
  • Terbaru
  • Yang Akan Datang
  • Komparasi